Yazid bin al-Muhallab al-Azdi (bahasa Arab:يزيد بن المهلبcode: ar is deprecated , translit.Yazīd ibn al-Muhallab al-Azdī; 672/673–24 Agustus 720) adalah seorang komandan dan negarawan untuk Kekhalifahan Umayyah di Irak dan Khurasan pada awal abad ke-8. Awalnya, ia bersama ayahnya menjadi komandan kepercayaan Hajjah bin Yusuf, namun setelah kematian Muhallab, angin politik berubah.
Setelah Al-Muhallab meninggal, Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi mengangkat anaknya Yazid bin Al-Muhallab menjadi walikota Khurasan. Pada tahun 84 H, Yazid bin Al-Muhallab bersama pasukannya melancarkan serangan ke benteng Badzanghis yang dipimpin oleh Yanzigh. Setelah Yazid mengirim mata-mata untuk menyusup dan memastikan bahwa benteng tidak dijaga oleh banyak pasukan, sebab saat itu Yanzigh sedang pergi meninggalkan benteng, maka Yazid bin Al-Muhallab bergerak bersama pasukannya melancarkan serangan ke benteng. Akhirnya benteng Badzanghis dapat dikuasai, sehingga Yazid dapat merampas segala sesuatu yang ada di dalamnya berupa harta benda dan berbagai macam persenjatan.[1]
Hajjaj lalu memenjarakan Yazid, lalu ia melarikan diri di masa Khalifah Yazid II dan memimpin pemberontakan dari Basrah. Pada 720, dia pemimpin yang terakhir dari serangkaian pemberontakan Irak skala besar melawan Bani Umayyah.[2]
Imbauan ulama Basrah Al-Hasan Al-Bashri untuk membatalkan pemberontakan tidak membuahkan hasil. Gerakan Ibnul Muhallab malah semakin gencar. Banyak kaum mawali (non-Arab mantan sahaya) bergabung dengan mereka. Begitu pula para kepala suku Arab yang tersingkirkan, seperti Ishaq bin Muhammad bin Al-Asy'ats dan An-Nu'man bin Ibrahim Al-Asytar. Mereka adalah orang-orang Yaman. Fanatisme menggerakkan mereka untuk mendukung gerakan Yazid bin Al-Muhallab, ditambah kebencian mereka terhadap Bani Umayyah. Selanjutnya, suku Rabi'ah, Tamim, dan sebagian suku Qais bergabung dengan Ibnul Muhallab. Disusul pula oleh sebagian penduduk Syam, di bawah kepimpinan Imran bin Masma' yang marah terhadap Adi bin Artha`ah.
Tatkala berita gerakan pemberontakan Ibnul Muhallab tersiar keluar Bashrah, datanglah dukungan dari Al-Jazirah (Mesopotamia), Bahrain, dan Oman. Ibnul Muhallab lalu mengutus pasukannya untuk menguasai Persia, Al-Ahwaz dan Kerman.
Pergolakan Yazid bin Al-Muhallab kian menguat. Wali kota Kufah, Abdul Hamid bin Abdirrahman, tidak berdaya menumpas gerakannya. Terpaksalah Khalifah Yazid II mengirim adiknya, Maslamah bin Abdul Malik, dan saudara sepupunya, Al-Abbas bin Al-Walid bin Abdul Malik. Mereka berdua memimpin sepasukan besar tentara Syam guna menumpas pemberontakan Ibnul Muhallab.
Kematian
Maslamah dan Al-Abbas pun berhasil mengalahkan Ibnul Muhallab dalam Pertempuran Uqar-dekat Kufah-pada bulan Shafar tahun 102 H. Kemenangan ini terjadi setelah penduduk Irak mengkhianati Yazid bin Al-Muhallab, seperti kebiasaan mereka. Yazid bin Al-Muhallab bersama sebagian keluarganya terbunuh, sedangkan sebagian pasukannya melarikan diri sampai tiba di Kandabil, Sindh (Pakistan sekarang).[2]
Hodge, Malek (2017). "Tabaristan during the 'Abbasid Period: The Overlapping Coinage of the Governors and other Officials (144–178H)". Dalam Faghfoury, Mostafa (ed.). Iranian Numismatic Studies: A Volume in Honor of Stephen Album. Lancaster and London: Classical Numismatic Group. hlm.71–78. ISBN978-0-9837-6522-6.
Sprengling, Martin (April 1939). "From Persian to Arabic". The American Journal of Semitic Languages and Literatures. 56 (2). The University of Chicago Press: 175–224. doi:10.1086/370538. JSTOR528934. S2CID170486943.
Zetterstéen, K. V. (1993) [1913–1938]. "Yazīd b. al-Muhallab b. Abī Sufra al-Azdī". Dalam Houtsma, M. Th.; A. J. Wensinck; Gibb, H. A. R.; Heffening, W.; Lévi-Provençal, E. (ed.). E. J. Brill's First Encyclopaedia of Islam 1913–1936, Volume VII Ṭāʾif – Zūrkhāna (Edisi Reprint). Leiden, New York and Köln: Brill. hlm.1163. ISBN90-04-09794-5.