Yama di luar agama HinduArca Dewa Yama, dewa kematian dan raja neraka dalam agama Hindu yang diadopsi ke dalam mitologi Buddhis, Tionghoa, Tibet, Korea, dan Jepang.
Yama (Dewanagari: यम) adalah dewa dalam agama Hindu yang bergelar sebagai dewa kematian, darma (hukum, kebenaran), penguasa arah selatan, dan raja neraka. Mula-mula dia disebutkan sebagai salah satu dewa Hindu awal dalam pustaka Weda, dan diyakini sebagai makhluk pertama yang mengalami kematian. Berkat kebajikan yang telah dilakukannya, akhirnya dia menjadi hakim orang mati.[1] Kepercayaan akan Yama dalam Hinduisme menyebar dan berkembang ke agama Buddha, serta ke berbagai negara dengan jumlah umat Buddha yang signifikan.
Latar belakang
Dalam agama Hindu, Yama merupakan dewa kematian dan keadilan, serta bertanggung jawab terhadap pemberian pahala dan hukuman yang diputuskan di kediamannya, Naraka. Dia juga merupakan salah satu dewa yang termaktub dalam pustaka Hindu kuno, dan beberapa referensi tentang dirinya ada di dalam Regweda. Dia juga disebutkan dalam sejumlah sastra Hindu yang utama, meliputi Ramayana, Mahabharata, dan Purana.[2][3]
Yama juga merupakan salah satu Astadikpala (dewa penjaga 8 mata angin), yang melindungi arah selatan. Yama dapat digambarkan sebagai manusia berlengan empat, bertaring mencuat, dan kulitnya berwarna mirip awan badai, dengan wajah yang tampak sangar; dia diliputi oleh api yang berkobar; mengenakan pakaian berwarna merah, kuning, dan biru; mengendarai kerbau dan memegang pedang, tali laso, dan gada, untuk menangkap jiwa-jiwa pendosa.[4] Menurut legenda, ia merupakan saudara kembari dari Yami (dewi sungai Yamuna), dan merupakan putra dari Dewa Surya dan Dewi Saranya. Dia memiliki asisten bernama Citragupta, dewa yang bertugas mencatat perilaku makhluk semasih hidup.[5]
Buddhisme
Dalam kepercayaan Buddhisme, Yama (Hanzi:閻魔/閻摩; Pinyin:Yánmó; Wade–Giles:Yen-mo) dikenal pula sebagai "Raja Neraka", atau seorang dharmapala (dewa berwajah menyeramkan) yang menghakimi orang mati dan berdiam di Naraka dalam siklus saṃsāra.
Dalam kepercayaan tradisional Tionghoa, Yama disebut sebagai Yanluo Wang (Hanzi:閻羅王; Pinyin:Yánluó Wáng; Wade–Giles:Yen-lo Wang), yang diyakini sebagai penguasa akhirat sekaligus hakim semua roh yang meninggal. Anak buahnya antara lain adalah Jaksa Akhirat yang membawa sebuah sikat dan sebuah buku catatan kematian semua makhluk hidup. Niu Tou Ma Mian membawa roh-roh orang yang meninggal satu demi satu ke hadapannya untuk diadili. Pria atau wanita yang banyak berbuat kebajikan akan diberi anugerah kehidupan yang lebih setelah bereinkarnasi, atau hidup kembali pada kehidupan sebelumnya. Pria atau wanita yang banyak berbuat kejahatan akan dihukum di neraka atau memperoleh kehidupan yang buruk di kehidupan berikutnya.
Mitologi Jepang
Dalam mitologi Jepang, Yama disebut Enma-O (閻魔王), Enma Dai-O (閻魔大王:ⓘ, Raja Enma yang Agung) atau Enma-Ten,[6] yang bertugas menghakimi arwah-arwah di Meido, kerajaan orang mati. Arwah pendosa berat dikirim ke Jigoku, tempat yang sepadan dengan neraka menurut agama samawi. Dalam Buddhisme di Timur Jauh, Yama merupakan salah satu dari Dua Belas Dewa (Jūni-ten, 十二天code: ja is deprecated ), yaitu para dewa penjaga di dalam atau sekeliling kuil di Jepang.[7] Dia bergabung dengan sebelas dewa lain yang dapat ditemui di Jepang dan di beberapa bagian Asia Tenggara: Indra (Taishaku-ten), Agni (Ka-ten), Nirrti (Rasetsu-ten), Bayu (Fu-ten), Isana (Ishana-ten), Kuwera (Tamon-ten), Baruna (Sui-ten), Brahma (Bon-ten), Pertiwi (Chi-ten), Surya (Nit-ten), Candra (Gat-ten).[6][8][9]
↑"Yama". World History Encyclopedia. Diakses tanggal 2021-03-17.
↑Warrier, Shrikala (December 20, 2014). Kamandalu: The Seven Sacred Rivers of Hinduism. Mayur University London; First edition. hlm.291. ISBN978-0953567973.