Dalam antropologi dan geografi, wilayah budaya, kawasan budaya, lingkup budaya, atau wilayah budaya mengacu pada geografi dengan satu aktivitas manusia yang relatif homogen atau kompleks aktivitas (budaya). Aktivitas-aktivitas tersebut sering dikaitkan dengan suatu kelompok etnolinguistik dan dengan wilayah yang dihuninya. Budaya-budaya tertentu seringkali tidak membatasi cakupan geografisnya pada batas-batas negara bangsa, atau pada subdivisi-subdivisi yang lebih kecil dari suatu negara.[1][2]
Sejarah Konsep
Wilayah budaya adalah suatu konsep dalam antropologi budaya yang merujuk pada kawasan geografis dan rentang waktu tertentu (sering disebut age area) yang dicirikan oleh kesamaan unsur lingkungan dan budaya.[3]
Cikal bakal konsep wilayah budaya muncul pada akhir abad ke-19 di kalangan kurator museum dan etnolog sebagai cara untuk mengelompokkan pameran berdasarkan prinsip taksonomi. Antropolog Amerika, Clark Wissler dan Alfred Kroeber, kemudian mengembangkan konsep ini lebih lanjut dengan asumsi bahwa wilayah budaya mencerminkan pembagian budaya yang telah berlangsung lama.[4][5][6] Meskipun versi konsep ini kadang dikritik sebagai bersifat sewenang-wenang, pengelompokan masyarakat manusia berdasarkan wilayah budaya tetap menjadi praktik umum dalam ilmu-ilmu sosial.[3]
Dalam geografi budaya, konsep wilayah budaya juga digunakan. Geografi budaya berakar pada Berkeley School dan sangat terkait dengan karya Carl O. Sauer dan rekan-rekannya. Sauer memandang budaya sebagai “agen dalam suatu wilayah alam yang berfungsi sebagai medium yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan lanskap budaya.”[7] Namun, pandangan Sauer kemudian dikritik karena dianggap terlalu deterministik. Geografer Yi-Fu Tuan dan tokoh lainnya mengusulkan pendekatan yang memungkinkan peneliti memperhitungkan pengalaman fenomenologis manusia. Revisi ini kemudian dikenal sebagai geografi humanistik. Periode munculnya geografi humanistik dikenal dengan istilah cultural turn (pergeseran budaya).[7]
Definisi wilayah budaya kini kembali menarik minat praktis dan teoretis, seiring meningkatnya penelitian ilmu sosial mengenai proses globalisasi budaya.[8]
Jenis-Jenis
Allen Noble merangkum perkembangan konsep wilayah budaya dengan menggunakan sejumlah istilah, di antaranya:
Cultural hearth (pusat budaya) — meskipun asal-usul istilah ini tidak disebutkan,
Cultural core (inti budaya) — diperkenalkan oleh Donald W. Meinig dalam kajian tentang budaya Mormon pada tahun 1970,[9]
Source area (wilayah sumber) — digunakan oleh Fred Kniffen (1965) dan kemudian oleh Henry Glassie (1968) dalam penelitian tentang tipe rumah dan lumbung.
Di luar wilayah inti, Glassie mengadopsi istilah Meinig yaitu domain (wilayah dominan) dan sphere (wilayah yang terpengaruh tetapi tidak dominan).[10]
“Lingkup pengaruh budaya” (cultural spheres of influence) juga dapat saling tumpang tindih atau membentuk struktur konsentris dari makrobudaya yang mencakup budaya-budaya lokal yang lebih kecil. Perbedaan batas wilayah budaya dapat pula ditentukan berdasarkan aspek yang dikaji, seperti agama dan folklor dibandingkan dengan busana, atau arsitektur dibandingkan dengan bahasa.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.