Nama "Arya Dwipa Arama" terdiri dari beberapa kata, yakni Arama (tempat suci), Dwipa (pulau), dan kaum Arya (terhormat). Hal ini menggambarkan fungsi wihara sebagai pusat ibadah dan edukasi bagi umat Buddha di Indonesia yang tergabung dalam masyarakat plural.
Sejarah
Wihara Arya Dwipa Arama berdiri pada tahun 1975. Namun demikian, wihara ini sempat mengalami kekosongan kepengurusan dan kegiatan ibadah sejak tahun 1998 hingga sekitar tahun 2017.[1]
Bangunan
Bangunan wihara ini dirancang dengan mengambil pola stupa di Candi Borobudur, yang melambangkan tempat peribadatan bagi umat Buddha. Stupa tersebut menjadi simbol perjalanan spiritual dan pengingat bagi umat Buddha bahwa kehidupan manusia berputar layaknya roda, sebagaimana tergambar dalam lambang Cakra, Prapta, dan Patina Suta.
Ruang utama wihara memiliki langit-langit berbentuk setengah lingkaran berwarna kuning keemasan, yang menciptakan suasana yang menenangkan dan melambangkan kondisi nirwana. Patung Buddha ditempatkan di sisi barat ruang ibadah, sementara bangunan secara keseluruhan dikelilingi oleh kolam air. Dari segi arsitektur, keberadaan kolam tersebut memberikan kesan seolah bangunan terangkat, sekaligus berfungsi menurunkan suhu udara di sekitar wihara.
Tampak dalam wihara
Tampak dalam wihara
Peribadatan
Wihara Arya Dwipa Arama digunakan untuk kegiatan peribadatan rutin maupun upacara keagamaan pada hari-hari besar umat Buddha, seperti perayaan Waisak dan upacara Tilem atau malam purnama. Selain sebagai tempat ibadah, wihara ini juga berperan sebagai pusat informasi dan pembinaan mengenai ajaran agama Buddha di Indonesia.