Wenga adalah permainan anak-anak yang berasal dari Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Permainan ini dapat ditemukan di Pulau Fordata dan Pulau Selaru yang berada di sebelahnya. Kata "Wenga" berasal dari kata dalam bahasa lokal "Wuliwenga" yang berarti kulit bia atau kulit siput. Siput yang dimaksud di permainan ini adalah siput satu cangkang. Punggung siput dipecah dan tertinggal bagian perut saja yang nantinya digunakan sebagai alat permainan wenga.
Cara bermain
Jumlah peserta dalam permainan ini tidak dibatasi, rentang usia peserta antara 7-15 tahun, dan bisa dimainkan baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Permainan wenga tidak menggunakan iringan lagu-lagu atau syair dalam pelaksanaannya.
Aturan Permainan
Pemain yang lebih dahulu meraih nilai tertinggi dinyatakan sebagai pemenang pertama, dan seterusnya.
Setiap lemparan yang salah dianggap mati dan diganti pelempar berikutnya.
Setiap sesi permainan yang berhasil mendapat nilai 1 (satu).
Nilai tertinggi disepakai bersama, misalnya 28.
Pemain disebut mati jika lemparannya salah atau "wenga"-nya jatuh waktu gici-gici.
Pemain yang mati pada suatu tahap harus mengulang tahap tersebut pada kesempatan selanjutnya.
Pemain yang kalah harus menjalankan hukuman sesuai permintaan para pemenang.
Konsekuensi Kekalahan
Pemain yeng lebih dulu mencapai nilai tertinggi (telah disepakati bersama) dianggap sebagai pemenang. Pemenang kedua dan seterusnya diurutkan berdasarkan nilai yang dicapai. Konsekuensi bagi pemain yang kalah yaitu harus menjalankan hukuman dari pemenang, misalnya melompat-lompat dan mengeluarkan bunyi seperti katak sejauh kurang lebih 10 meter. [1]