Wangsa Mataram merupakan dinasti Jawa terakhir yang berkuasa di Pulau Jawa (selain dinasti yang memerintah di tiga monarki pecahan Kesultanan Cirebon). Wangsa ini awalnya memerintah negara yang juga memiliki nama yang sama dengan nama keluarga besarnya, yaitu Kesultanan Mataram (Nagari Mataram), sebuah negara yang didirikan di dekat bekas wilayah inti atau pusat pemerintahan Kerajaan Medang, yang kemudian wilayahnya meluas dan menguasai hampir seluruh Pulau Jawa serta Pulau Madura. Perpecahan internal yang terjadi selanjutnya menyebabkan Kesultanan Mataram terbagi menjadi dua kerajaan (tahun 1755) dan dua kadipaten (tahun 1757 dan 1813). Masing-masing monarki tersebut, yaitu Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman, tetap eksis hingga setelah berdirinya Republik Indonesia.
Berdasarkan sejarahnya, penguasa Mataram adalah keturunan dari Ki Ageng Sela (Sela adalah sebuah desa dekat Demak). Salah satu keturunan Ki Ageng Sela yaitu Ki Ageng Enis memiliki putra bernama Ki Ageng Pamanahan, mereka merupakan perintis dan pendiri wangsa Mataram bersama tokoh dari Sela lainnya yaitu Ki Juru Martani dan Ki Panjawi. Para penguasa dari wangsa Mataram umumnya menggunakan gelar-gelar yang diambil dari beberapa bahasa, utamanya dari bahasa Jawa dan Arab. Di antara gelar-gelar yang mereka sandang, susuhunan (sunan) dan sultan adalah gelar yang paling umum diketahui.
Para penguasa pertama Mataram sebelum Sultan Agung dimakamkan di Pasarean Mataram. Setelah pembangunan Astana Pajimatan Himagiri di Bantul pada tahun 1632, Sultan Agung dan penguasa Mataram setelahnya (Surakarta dan Yogyakarta) juga dimakamkan di sana.
Guna mempererat hubungan baik antar empat entitas pecahan Mataram, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) rutin menyelenggarakan festival Catur Sagotra setiap tahunnya. Festival ini diikuti oleh perwakilan dari keempat wilayah pecahan Mataram. Keempat istana akan menampilkan mahakarya seni dan budaya sesuai dengan gaya masing-masing.