Waja sampai kaputing adalah falsafah hidup masyarakat Banjar yang bermakna keteguhan hati, konsistensi, dan kesetiaan pada tujuan hingga akhir. Waja berarti baja, melambangkan kekuatan dan ketahanan, sedangkan kaputing berarti penutup atau akhir. Secara filosofis, ungkapan ini mengajarkan bahwa komitmen tidak boleh setengah-setengah; apa yang telah diyakini dan diperjuangkan harus dijalani sampai tuntas dan tercapai. Untuk mengabadikan semboyan dan prinsip ini, sebuah museum perjuangan yang ada di kota Banjarmasin bagian utara diberi nama dengan Waja Sampai Kaputing.[1][2]
Nilai utama dalam waja sampai kaputing ini adalah keteguhan prinsip. Seseorang dituntut berani menghadapi rintangan, tidak mudah menyerah, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Dalam konteks perjuangan, falsafah dan moto yang dicetuskan oleh Pangeran Antasari dalam perjuangannya melawan penjajah adalah untuk menumbuhkan semangat pantang mundur, loyalitas, dan pengorbanan demi tujuan bersama. Namun, keteguhan tersebut idealnya harus disertai dengan kebijaksanaan, agar tidak berubah menjadi keras kepala. Semangat pantang menyerah ini juga diperlukan dalam pekerjaan atau aktifitas sehari-hari. Karena semangat merupakan bagian dari tameng kita untuk percaya diri menyakini bahwa kita dapat menyelesaikan tantangan dan berhasil dalam perkerjaan.[3]
Dalam kehidupan modern, waja sampai kaputing (wa-sa-ka) ini sangat relevan sebagai etos kerja dan karakter pribadi: disiplin, konsisten, dan tahan uji. Falsafah ini membentuk manusia yang berdaya juang tinggi, berintegritas, dan mampu menuntaskan amanah hingga akhir dengan kehormatan. Semboyan Wasaka ini merupakan lambang bahwa penduduk Kalimantan Selatan selalu tekun dalam bekerja, melaksanakan segala sesuatu dengan penuh ikhlas, rasa kesanggupan dan konsekuen tanpa berhenti di tengah jalan, harus sampai pada tujuan yang ingin dicapai. Semboyan dan ruh dari pendidikan karakter ini juga harus selalu dilandasi oleh tekad yang kuat dan tangguh, bagaikan baja (waja) dari titik awal (ujung) sampai ke titik tujuan (kaputing), dan haram berhenti di tengah jalan (haram manyarah).[4]