Vespiri Sisilia (bahasa Italia:Vespri sicilianicode: it is deprecated ; bahasa Sisilia:Vespiri sicilianicode: scn is deprecated ) adalah pemberontakan yang meletus di pulau Sisilia saat perayaan Paskah pada tahun 1282. Pemberontakan ini berusaha menjatuhkan Raja Carlo I yang lahir di Prancis dan telah menguasai Kerajaan Sisilia semenjak tahun 1266. Dalam waktu enam minggu, tiga ribu laki-laki dan perempuan Prancis dibantai oleh para pemberontak dan pemerintahan Raja Carlo berhasil dijatuhkan. Pemberontakan ini memicu Perang Vespiri Sisilia.
Latar belakang
Carlo menganggap wilayah Sisilia sebagai batu loncatan untuk mencapai mimpinya di wilayah Mediterania, yaitu menjatuhkan Kaisar Mikael VIII Palaiologos dari Kekaisaran Romawi Timur dan merebut Konstantinopel, kota terkaya di dunia barat. Kerusuhan terjadi di Sisilia karena wilayah tersebut amat ditundukkan oleh Carlo - bangsawan-bangsawannya tidak dilibatkan dalam pemerintahan lokal dan tidak diberi kompensasi berupa jabatan yang menggiurkan di luar negeri (hal tersebut dilakukan oleh Carlo di Prancis, Provence dan Napoli). Selain itu, Carlo juga memungut pajak yang besar untuk membiayai perang di luar Sisilia. Seperti yang diamati oleh Steven Runciman, "[Orang Sisilia] merasa dijajah untuk membantu seorang raja yang lalim melakukan penaklukan yang tidak akan menguntungkan mereka."[3]
Leonardo Bruni (1416), History of the Florentine People, Harvard, 2001, ISBN0-674-00506-6. Regarded as the first history book to be called "modern", and the first modern historian, it also happens to cover the events of this period.
Michael VIII Palaiologos, De Vita sua Opusculum, (ed. J. Troitsky in Christianskoe Chtenie, vol. II). St Petersburg, 1885.