Vastitas Borealis (Latin: northern waste, "padang utara") merupakan wilayah dataran rendah terbesar di planet Mars.[1] Wilayah ini terletak di lintang utara dan membentang mengelilingi kutub utara planet tersebut. Vastitas Borealis terletak di wilayah dataran utara, dikenal juga sebagai dataran rendah utara atau North Polar Erg Mars.[2][3] Ketinggiannya berada sekitar 4–5km di bawah radius rata-rata Mars, dengan pusat wilayah berada pada koordinat 87,73° LU dan 32,53° BT. Sebagian wilayah Vastitas Borealis menjangkau hingga di bawah 65° LU.[4]
Penamaan Vastitas Borealis dilakukan oleh Eugene Antoniadi berdasarkan pengamatan kenampakan albedo khas pada dataran utara, sebagaimana tercatat dalam bukunya La Planète Mars (1930). Nama ini kemudian secara resmi diadopsi oleh Persatuan Astronomi Internasional pada tahun 1973.[5]
Vastitas Borealis berada di dalam cekungan Kutub Utara, sebuah cekungan besar yang mendominasi dataran rendah belahan utara Mars.[6] Wilayah ini berdekatan dengan Utopia Planitia, cekungan besar lainnya. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa dataran ini kemungkinan pernah tertutup oleh samudra purba, dengan garis pantai yang dihipotesiskan berada di tepi selatan. Topografi Vastitas Borealis relatif halus, ditandai dengan bukit rendah, punggungan, serta kawah yang jarang, berbeda dengan wilayah selatan Mars yang lebih kasar.
Pengamatan melalui pesawat ruang angkasa Mars Express milik Badan Antariksa Eropa pada tahun 2005 menunjukkan keberadaan es air dalam jumlah besar di sebuah kawah di Vastitas Borealis. Kondisi lingkungan di lokasi tersebut memungkinkan es air tetap stabil sepanjang tahun Mars, muncul setelah karbon dioksida beku menyublim pada awal musim panas belahan utara.[7][8]
Pada 25 Mei 2008, wahana Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) Phoenix mendarat di wilayah Vastitas Borealis yang secara resmi tidak bernama namun dikenal secara informal sebagai Green Valley, pada awal musim panas Mars. Phoenix beroperasi pada koordinat 68,218830° LU dan 234,250778° BT,[9] melakukan analisis tanah untuk mendeteksi keberadaan air dan menilai potensi kelayakan lingkungan untuk kehidupan. Misi ini berlangsung hingga kondisi musim dingin yang ekstrem memaksa penghentian operasional sekitar lima bulan kemudian.[10]
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.