Asal-usul Desa Troso tidak lepas dari sosok Mbah Senu (Ki Senu) dan istrinya, bangsawan dari Mataram yang memilih menetap di wilayah ini karena kesuburan tanahnya. Mbah Senu, yang juga merupakan keturunan ke-14 Sunan Muria, menyebarkan agama Islam di wilayah ini bersama Datuk Gurnardi (ulama asal Singaraja, Bali).[2] Keterampilan menenun di desa ini awalnya diajarkan oleh Mbah Senu kepada warga sebagai aktivitas sampingan yang kemudian berkembang menjadi komoditas ekonomi utama desa. Mbah Senu dimakamkan di Makam Dowo, yang terletak di sebelah selatan pemakaman Nogosari.[3]
Ekonomi dan potensi
Desa Troso merupakan pusat ekonomi kreatif terbesar di Kabupaten Jepara dengan fokus utama pada produksi Tenun Ikat.
Indikasi Geografis (IG): Pada 23 Desember 2025, Tenun Troso resmi mengantongi Sertifikat Indikasi Geografis dari Kemenkumham RI, yang melindungi lima motif khas asli Troso agar tidak diklaim oleh wilayah lain.[4]
Prestasi Global: Selain pernah dipakai oleh Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (Motif SBY), kain tenun asal Troso juga pernah dipesan khusus untuk desain interior kediaman kerajaan Inggris (Ratu Elizabeth) dengan nilai kontrak yang fantastis.[5]
Geografi
Desa Troso memiliki luas wilayah mencapai 711,49 ha yang terbagi menjadi 10 RW dan 82 RT.[6] Batas wilayah administratifnya adalah:
Sebagai desa industri, Troso memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung kualitas SDM dan kesehatan warga:
Pendidikan Formal: SDN 1 & 2 Troso, MI Matholiul Huda, MTs Matholiul Huda, dan MA Matholiul Huda.
Kesehatan: Terdapat 1 Polindes, 4 klinik dokter praktek, dan 9 bidan mandiri yang melayani kebutuhan kesehatan warga.[7]
Budaya
Masyarakat Troso sangat religius dengan keberadaan 6 masjid dan 92 mushola. Tradisi keagamaan seperti Mawakiban, yasinan, dan pertemuan selasanan rutin diselenggarakan sebagai sarana silaturahmi antar-pengrajin dan warga.[8]
Masjid Datuk Ampel merupakan salah satu masjid tertua dan paling bersejarah di Kabupaten Jepara yang terletak di Desa Troso. Masjid ini didirikan oleh Mbah Datuk Singorojo (Idha Gurnandhi), seorang ulama asal Singaraja, Bali, yang juga merupakan sahabat dari Mbah Senu. Menurut catatan sejarah lokal, masjid ini diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1421 M, menjadikannya saksi bisu awal penyebaran Islam di wilayah Pecangaan.[9]
Setiap tahunnya, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan besar, termasuk penyelenggaraan Haul Mbah Datuk yang dihadiri oleh ribuan peziarah dari berbagai daerah, termasuk dari Kerso, Semat, dan Singorojo (Mayong). Keberadaan masjid ini menegaskan identitas Troso sebagai "Desa Santri" sekaligus sentra industri tenun yang religius.[10]