Bus listrik (bahasa Inggris: electric bus) adalah kendaraan bus yang digerakkan oleh motor listrik, bukan oleh mesin pembakaran internal seperti mesin berbahan bakar bensin atau diesel. Energi listrik pada bus listrik dapat disimpan di dalam kendaraan atau disuplai secara terus-menerus dari sumber listrik eksternal.[1]
Bus listrik bertenaga baterai (battery electric bus atau BEB) merupakan jenis bus listrik yang paling umum. Bus ini menggunakan energi dari baterai yang diisi ulang melalui sumber listrik eksternal. Pengisian dilakukan dengan menghubungkan bus ke stasiun pengisian daya, sehingga bus dapat beroperasi selama beberapa jam dalam satu kali pengisian.[2]
Bus listrik telah digunakan dalam sistem transportasi publik di berbagai negara. Tiongkok merupakan pengguna sekaligus pasar bus listrik terbesar di dunia. Pada 2019, lebih dari 421.000 unit beroperasi di negara tersebut, jauh melampaui Amerika Serikat dengan sekitar 300 unit dan Eropa dengan sekitar 2.250 unit.[3][4] Pada 2022, Tiongkok juga menyumbang sekitar 80% dari total penjualan bus listrik global.[5]
Manfaat bus listrik
Dampak Lingkungan dan Kesehatan
Bus listrik dapat menekan penggunaan bahan bakar fosil seperti bahan bakar minyak (BBM) serta mengurangi emisi gas rumah kaca dan polutan udara seperti CO₂ dan nitrogen oksida (NOx). Analisis well-to-wheel pada tahun 2022 terhadap 1.724 armada BRT dan Non-BRT Transjakarta memproyeksikan penurunan emisi CO₂ sebanyak 50,3% dari yang dihasilkan saat ini. Elektrifikasi seluruh armada BRT dan Non-BRT Transjakarta diperkirakan dapat mengurangi polusi gas buang PM2.5 sebesar 190,4 ton dan NOx sebesar 6804,2 ton secara kumulatif pada 2030 di Jakarta. Selain itu, pengoperasian bus listrik menghemat konsumsi bahan bakar solar sekitar 0.46 liter per kilometer.[6]
Pada skala yang lebih luas, adopsi 100% bus listrik di 11 kota besar di Indonesia pada tahun 2030 diperkirakan berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 24% pada tahun yang sama, atau setara dengan sekitar 900.000 ton CO₂, setara dengan menanam 3,6 juta pohonyang tumbuh selama 10 tahun.[7] Penurunan emisi tersebut juga berpotensi meningkatkan kualitas udara perkotaan dan mengurangi sekitar 1.500 kasus penyakit pernapasan akut.[8]
Meskipun dengan bauran energi saat ini, bus listrik memiliki performa yang lebih baik dalam pengurangan emisi jika dibandingkan dengan bus berbahan bakar diesel. Dalam kalkulasi proyeksi dekarbonisasi, transportasi publik dengan HDV (Listrik dengan RE) diproyeksikan untuk menghasilkan persentase penurunan emisi tertinggi dibanding strategi transportasi lainnya.[9][10][11]
Dampak Ekonomi
Studi ITDP di berbagai kota, termasuk Jakarta, Surabaya, Pekanbaru, dan Surakarta, menunjukkan bahwa elektrifikasi layanan Transjakarta memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi kota. Rasio manfaat-biaya dari elektrifikasi layanan tersebut mencapai 2,4, yang berarti setiap Rp1 investasi diperkirakan menghasilkan sekitar Rp2,4 manfaat sosial dan ekonomi.[12]
Meskipun biaya pengadaan awal dan infrastruktur pengisian daya relatif lebih tinggi, efisiensi pada konsumsi energi dan perawatan membuat biaya operasional per kilometer bus listrik lebih rendah.[2] Pada layanan Transjakarta, perhitungan Biaya Operasional Kendaraan (BOK) menunjukkan bahwa biaya operasional bus listrik sekitar 5% lebih rendah dibandingkan bus konvensional. Hal ini karena penghematan dari energi, perawatan, dan pembiayaan diperkirakan mencapai sekitar 30,9%, lebih besar dibandingkan kenaikan biaya akibat pengadaan bus listrik dan instalasi pengisi daya yang sekitar 26%.[13]
Selain itu, pengembangan industri bus listrik seperti manufaktur kendaraan, pembangunan infrastruktur pengisian daya, serta layanan pemeliharaan armada diperkirakan dapat memberikan kontribusi ekonomi hingga sekitar Rp9,4 triliun pada 2030, sekaligus berpotensi mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak dan kebutuhan subsidi energi.[14]
Dampak Sosial
Pengembangan bus listrik juga berdampak pada sektor ketenagakerjaan dan aksesibilitas transportasi publik. Pengoperasian kendaraan listrik memerlukan pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan bagi tenaga kerja operasional dan teknis, sekaligus membuka peluang partisipasi bagi perempuan, termasuk yang sebelumnya belum memiliki pengalaman teknis, di sektor transportasi publik. Pada 2025, Transjakarta dan ITDP, dengan dukungan UNEP dan BMZ, menyelenggarakan Transjakarta Academy batch kedua melalui rekrutmen terbuka untuk memberikan pelatihan bagi perempuan sebagai calon pengemudi Transjakarta. Program ini juga membuka kesempatan bagi peserta tanpa pengalaman mengemudikan bus, termasuk pemegang Surat Izin Mengemudi (SIM) A untuk mengikuti pelatihan peningkatan lisensi. Sebanyak 13 peserta dinyatakan lulus setelah mengikuti pelatihan dan seleksi.[15]
Selain itu, pengembangan bus listrik juga mendorong peningkatan aksesibilitas kendaraan melalui penyediaan ruang bagi pengguna kursi roda serta penyesuaian fasilitas di dalam bus, seperti ruang penyimpanan tambahan dan posisi pegangan tangan yang lebih rendah.[16]
Penerapan bus listrik di Indonesia diawali dengan uji coba oleh Transjakarta pada 2020 menggunakan model BYD K9 dan BYD C6 asal Tiongkok. Setelah melalui tahap pengujian dan percontohan, Transjakarta mulai mengoperasikan 30 unit bus listrik pada 2022.[17] Hingga Februari 2026, jumlah tersebut meningkat menjadi lebih dari 470 unit yang beroperasi dalam layanan Transjakarta[18], dengan lebih dari 20 model bus listrik sudah diuji coba dalam layanan Transjakarta secara terbatas. Pengembangan ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang menargetkan 100% elektrifikasi transportasi publik pada 2030, sebagaimana tercantum dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 1053 Tahun 2022 tentang Pedoman Percepatan Program Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai dalam Layanan Angkutan Transjakarta.[19]
Di tingkat nasional, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan juga menargetkan elektrifikasi 90% sarana angkutan umum massal di 42 kota pada 2030, meningkat menjadi 100% pada 2040, serta 100% elektrifikasi transportasi publik pada 2045, termasuk mobil penumpang umum (MPU).[19]
Seiring dengan target tersebut, penerapan bus listrik juga mulai berkembang di beberapa kota lain di Indonesia. Sejak 2024, Kota Medan mengoperasikan sekitar 60 unit bus listrik sebagai bagian dari sistem BRT Trans Mebidang, dengan jumlah penumpang sebanyak 2,739,601 sepanjang 2025.[20] Dalam penerapannya, layanan bus listrik di Medan sudah dilengkapi oleh sistem informasi (#BusListrikMedanUntukSemua) yang memungkinkan pemantauan rute, CCTV di dalam armada, hingga informasi rute dan halte terdekat. Di Surabaya, 12 unit bus listrik beroperasi untuk melayani 3 koridor utama dan dilengkapi navigasi GPS pada tiap armada, setelah sebelumnya menggunakan 14 unit bus listrik dalam penyelenggaraan KTT G20.[21] Selain itu, kota-kota seperti Yogyakarta dan Semarang juga telah mengoperasikan bus listrik dalam jumlah terbatas.[22]
Bus listrik Trans Jogja
Sebagian besar bus listrik yang beroperasi, khususnya pada layanan Transjakarta, adalah bus besar dengan panjang 10,5 – 12 meter, dengan baterai berbahan lithium iron phosphate (LFP) berkapasitas 300 – 350 kWh.[23] Dengan kapasitas baterai dan jarak tempuh harian rata-rata angkutan umum perkotaan 200 kilometer[23], kebanyakan bus listrik hanya membutuhkan sistem pengisian daya tipe plug-in yang dilakukan di depo (overnight charging).[24] Selain itu, bus listrik berukuran sedang dengan panjang 6–9 meter sudah beroperasi di beberapa daerah, termasuk Kota Surabaya dan Daerah Istimewa Yogyakarta.[25] Mobil Penumpang Umum (MPU) berbasis listrik juga sudah beroperasi di Kota Pekanbaru.[25] Kendaraan tersebut diproduksi atau didistribusikan oleh sejumlah perusahaan, baik manufaktur lokal maupun distributor kendaraan listrik global. Beberapa di antaranya adalah PT Mobil Anak Bangsa (MAB), PT Industri Kereta Api (INKA), PT Kendaraan Listrik Indonesia (distributor bus listrik Skywell asal Tiongkok), PT SAG (distributor bus Golden Dragon asal Tiongkok), Hyundai, Gelora DFSK, serta VKTR sebagai Agen Pemegang Merk (APM) bus listrik BYD.[23] Tidak hanya itu, sejak November 2023, KALISTA - anak perusahaan PT Indika Energy - telah melakukan uji coba operasional bus listrik di beberapa kota, seperti Medan, Surabaya, dan Bogor.[26]
Bus Listrik TransMedan adalah adalah sistem transportasi umum yang berbasis bus listrik di Kota Medan.[27] Sistem ini masih dalam uji coba sejak 4 Januari 2024[28] dan akan dikembangkan menjadi bus raya terpadu penuh pada 2027.
Pada 20 Januari 2025, Koridor EV-1 Trans Jogja mulai diuji coba untuk melayani umum.[29] Koridor EV Trans Jogja adalah koridor Trans Jogja yang berbasis bus listrik di Kota Yogyakarta, khususnya di area Sumbu Filosofi.[30] Uji coba tersebut menggunakan dua buah armada MD8-E LE City Bus berkaroseri New Armada. Pada 1 Mei, Koridor EV-1 diubah menjadi EV-2 karena Pemerintah Provinsi DIY ingin fokus melayani wisatawan yang ingin mencoba menaik bus listrik.[31] Lalu pada 1 September, EV-2 diubah menjadi EV-3 yang melayani Terminal Jombor hingga Malioboro. Untuk rencananya, uji coba akan usai dan bus listrik akan mulai beroperasi secara penuh pada tahun 2025 dan diharapkan dapat menjadi bagian dari layanan angkutan umum perkotaan Trans Jogja.[30] Pada tahun 2026, bus listrik resmi tergabung dalam layanan Trans Jogja dengan nama "L-1".
↑Syahrani, Amira (2026-03-08). "Bus Listrik Melaju, Saatnya Perempuan Maju". Institute for Transportation and Development Policy (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-04-29.