Dalam traktat tersebut, Bolshevik Rusia menyerahkan negara-negara Baltik kepada Jerman; yang menjadikan mereka negara-negara vassal Jerman di bawah kepangeranan Jerman.[2] Rusia juga menyerahkan provinsi Oblast Kars di Kaukasus Selatan kepada Kekaisaran Utsmaniyah dan mengakui kemerdekaan Ukraina. Selain itu, Rusia sepakat untuk membayar enam miliar mark Jerman untuk perbaikan. Sejarawan Spencer Tucker berkata, "Staf Jenderal Jerman telah merumuskan hal luar biasa yang mengejutkan negosiator Jerman."[3]Kongres Poland tidak menanggapi traktat tersebut, karena Jerman menolak untuk mengakui keberadaan perwakilan Polandia manapun, yang berujung pada protes Polandia.[4] Saat Jerman kemudian mengkomplain bahwa Traktat Versailles 1919 terlalu merugikan mereka, Sekutu menyatakan bahwa traktat tersebut lebih bermanfaat ketimbang Brest-Litovsk.[5]
Traktat tersebut secara sah diberlakukan pada November 1918, saat Jerman menyerah kepada Sekutu. Namun, di sisi lain, traktat tersebut memberikan beberapa pemugaran bagi Bolshevik, yang siap bertarung dalam Perang Saudara Rusia, dengan mengumumkan klaim-klaim Rusia atas Polandia, Finlandia, Estonia, Latvia, Belarus, Ukraina dan Lithuania.
↑A History of the Habsburg Empire, 1526-1918 By Robert A. Kann page 479-480
↑Spencer C. Tucker (2005). World War One. ABC-CLIO. hlm.225.
↑Mapping Europe's Borderlands: Russian Cartography in the Age of Empire
Steven Seegel - 2012 At Brest-Litovsk in March 1918, no Polish delegation was invited to the negotiations, and in the Polish press, journalists condemned it as yet another partition of the lands east of the Bug River by great powers