To Manurung adalah salah satu tokoh mitologi yang diyakini sebagai pencipta kedamaian dan keamanan bagi kerajaan-kerajaan lokal di wilayah Sulawesi Selatan pada abad ke-14 Masehi. Silsilah dari To Manurung tidak diketahui secara jelas dan hanya diyakini sebagai jelmaan dewa yang menjadi manusia. Pengenalan terhadap sosok To Manurung di Sulawesi Selatan membentuk tatanan politik, sosial dan budaya pada kerajaan-kerajaan yang paling awal didirikan di wilayah Sulawesi Selatan. Beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan yang menjadikan To Manurung sebagai asal-usul pendiriannya yaitu Kerajaan Luwu, Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa.
Penamaan
Dalam beberapa bahasa daerah yang dituturkan oleh penduduk di wilayah Sulawesi Selatan, to manurung berarti orang yang diturunkan. Pengertian to manurung sebagai orang yang diturunkan terutama diyakini dalam bahasa Bugis dan bahasa Makassar serta bahasa daerah lainnya di Sulawesi Selatan termasuk bahasa Tae’ yang dituturkan di wilayah Kerajaan Luwu.[1]
Keyakinan mengenai asal-usul dan kemampuan
Silsilah dari To Manurung tidak diketahui secara jelas. Keyakinan lokal pada masyarakat di Sulawesi Selatan meyakini bahwa To Manurung merupakan jelmaan dewa dalam bentuk manusia yang turun dari langit ke Bumi. To Manurung diyakini menjelma menjadi manusia untuk hidup di antara masyarakat Sulawesi Selatan. Keyakinan bahwa To Manurung merupakaan jelmaan dewa membuat sosoknya diyakini memiliki kesaktian dan kebijaksanaan melebihi manusia biasa.[2]
Peran penting
To Manurung berperan sebagai tokoh mitologi yang menjadi penyebab terjadinya integrasi awal bagi kerajaan-kerajaan lokal di wilayah Sulawesi Selatan. Pengenalan terhadap sosok To Manurung di Sulawesi Selatan membentuk tatanan politik, sosial dan budaya pada kerajaan-kerajaan yang paling awal didirikan di wilayah Sulawesi Selatan.[3] To Manurung pada mitos yang berkaitan dengan kerajaan-kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan selalu diceritakan muncul ketika kerajaan dalam kondisi mengalami konflik internal. Keberadannya selalu muncul bertepatan dengan dibutuhkannya pemimpin yang dapat menghasilkan kedamaian dan keamanan bagi kerajaan. Dalam perannya, To Manurung diyakini sebagai juru selamat yang menjadi pemberi warisan kekuasaan kepada raja-raja penerusnya.[4]
Sosok To Manurung berperan penting dalam menghasilkan stratifikasi sosial pada kerajaan-kerajaan dari suku Bugis dan suku Makassar yang mulai berkembang pada abad ke-14 Masehi.[5] Beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan yang menjadikan To Manurung sebagai asal-usul pendiriannya yaitu Kerajaan Luwu, Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa. Pada abad ke-17 Masehi, ketiga kerajaan ini menggunakan sosok To Manurung untuk memperluas wilayah kekuasaannya di Sulawesi Selatan. Selain itu, kerajaan-kerajaan lain yang berada dalam pengaruh kekuasaan Kerajaan Luwu, Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa juga mengaitkan pendirian kerajaannya dengan To Manurung.[6]