Tell el-Far'ah (Utara)
Situs arkeologi ini berupa suatu tel seluas 180 dunam (0.18 km2) di pegunungan Samaria, sebelah timur laut Nablus, di Tepi Barat; telah diidentifikasi dengan kota alkitabiah Tirza.
Situs arkeologi yang disebut Tell el-Far'ah (Utara) untuk membedakannya dari Tell el-Far'ah (Selatan) di Sungai Besor, sebuah situs arkeologi di selatan Gaza.
Penggalian dilakukan di Tell el-Far'ah antara tahun 1946 dan tahun 1960 selama sembilan musim oleh École Biblique di bawah arahan Roland de Vaux[7]
Situs ini dihuni pada zaman Neolitik dan Chalcolithic, secara bertahap menjadi lebih padat.[8] Penemuan dari stratat-strata pemukiman awal digali oleh Dorothy Garrod pada tahun 1928 diperkirakan dari periode PPNB.[9]
Selama Zaman Perunggu Awal, Tell el-Far'ah memiliki benteng dan unit rumah domestik.[10] Oven tembikar tertua dari jenisnya digali di sini, memiliki dua ruang memberi pemisahan antara wadah-wadha yang telah dibakar dan api terbuka. Jenis oven tembikar ini terus digunakan di wilayah tersebut hingga periode Romawi. Sebuah kuil dan tempat pemerasan minyak zaitun juga ditemukan. Perencanaan perkotaan ini jelas terlihat di lokasi. Gerbang barat pada dinding kota dibangun kembali beberapa kali selama periode ini. Penggalian menunjukkan pengembangan urbanisasi dan adanya populasi baru. Namun, kota itu ditinggalkan di tengah milenium ketiga SM, dan tetap demikian selama kurang lebih 600 tahun.
Pada Zaman Perunggu Tengah II, ada sebuah pemukiman kecil pada situs itu yang menggunakan sisa-sisa tembok kota tua untuk perlindungan. Pada tahun 1700-an SM populasi berkembang dan dibangun tembok-tembok baru, tapi melingkupi area yang lebih kecil dari kota yang lebih tua. Sisa-sisa dari Zaman Perunggu Akhir menunjukkan bahwa tidak ada perkembangan perkotaan nyata selama periode ini.
Tell el-Far'ah adalah sebuah kota penting di Zaman Besi awal, pusat jaringan desa-desa, salah satu dari lima jaringan pemukiman Israel, sekitar tahun 1200 SM, di dataran tinggi antara Yerusalem dan Lembah Jezreel. Penggalian dari strata Zaman Besi telah menghasilkan sejumlah artefak, termasuk berbagai patung, mata anak panah, gulungan tenun, maket bait suci, dan rumah berkamar empat. Patung-patung seperti kepala sapi, sapi menyusui anak, kuda, pemain rebana, dan patung-patung Asyera.[11]
Penggalian dilakukan di awal abad ke-20 oleh para arkeolog Prancis dan imam Dominika Louis-Hugues Vincent dan Roland de Vaux.