Ketulusan, kemunafikan, pengkhianatan, permusuhan, persekutuan, pemberontakan, siasat dan adu domba melebur menjadi satu. Semua bermula dari sebuah perebutan kekuasaan. Puncak kejayaan dan masa keemasan Kesultanan Banten dahulu berhasil direngkuh di bawah kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Sebagaimana pepatah lama mengatakan, semakin tinggi pohon bertumbuh, semakin kuat pula angin yang menerpa tubuh. Pun dengan Kerajaan ini. Satu per satu rintangan dan musuh berdatangan, bukan saja dari luar tetapi dari dalam. Seperti yang dilakukan Sultan Haji. Siapa sangka, ia meramu siasat dengan Kapten Tack, si kompeni Belanda dan VOC yang licik dan penuh tipu muslihat. Kapten Tack bersama VOC berulah dengan memblokade perairan teluk Banten, sehingga para pedagang dari mancanegara kesulitan untuk masuk ke pelabuhan, ia hendak membangun kerja sama untuk memonopoli perdagangan. Tentu saja Sultan Ageng Tirtayasa menentangnya karena itu akan berpengaruh buruk pada perekonomian di Banten.
Produksi
Darwin Mahesa, yang sebelumnya sukses melalui Jawara Kidul, bertindak sebagai sutradara. sementara musisi ternama, Tya Subiakto, menyediakan musik untuk film ini. Penyanyi lokal Andhien Tyas menyumbangkan suaranya dalam lagu tema "Tirtayasa" diciptakan oleh Darwin Mahesa.