Tim nasional sepak bola Italia
| Julukan | Gli Azzurri (Si Biru) | ||
|---|---|---|---|
| Asosiasi | Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) | ||
| Konfederasi | UEFA (Eropa) | ||
| Pelatih | Silvio Baldini (sementara) | ||
| Kapten | Gianluigi Donnarumma | ||
| Penampilan terbanyak | Gianluigi Buffon (176) | ||
| Pencetak gol terbanyak | Luigi Riva (35) | ||
| Kode FIFA | ITA | ||
| Peringkat FIFA | |||
| Terkini | 12 | ||
| Tertinggi | 1 (November 1993, Februari 2007, April–Juni 2007, September 2007) | ||
| Terendah | 21 (Agustus 2018) | ||
| Peringkat Elo | |||
| Terkini | 12 | ||
| |||
| Pertandingan internasional pertama | |||
(Milan, Italia; 15 Mei 1910) | |||
| Kemenangan terbesar | |||
(Brentford, Inggris; 2 Agustus 1948) | |||
| Kekalahan terbesar | |||
(Budapest, Hungaria; 6 April 1924) | |||
| Piala Dunia | |||
| Penampilan | 18 (Pertama kali pada 1934) | ||
| Hasil terbaik | |||
| Kejuaraan Eropa | |||
| Penampilan | 11 (Pertama kali pada 1968) | ||
| Hasil terbaik | |||
| Final Liga Negara | |||
| Penampilan | 2 (Pertama kali pada 2021) | ||
| Hasil terbaik | |||
| Piala Konfederasi | |||
| Penampilan | 2 (Pertama kali pada 2009) | ||
| Hasil terbaik | |||
Rekam medali | |||
| Situs web | FIGC.it (dalam bahasa Italia) | ||
Tim nasional sepak bola Italia (bahasa Italia: Nazionale di calcio dell'Italiacode: it is deprecated ) adalah tim yang mewakili Italia dalam kompetisi sepak bola internasional senior utama pria sejak tahun 1910. Tim ini dikendalikan oleh Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), badan pengatur sepak bola di Italia, yang merupakan bagian dari UEFA, dan di bawah yurisdiksi FIFA. Pertandingan kandang Italia dimainkan di berbagai stadion di seluruh Italia.
Italia adalah salah satu tim nasional paling sukses dalam sejarah sepak bola dan Piala Dunia FIFA setelah memenangkan empat gelar (1934, 1938, 1982, 2006), dan tampil di dua final lainnya (1970, 1994), dan berhasil meraih juara ketiga (1990), dan juara keempat (1978). Italia juga telah memenangkan dua Kejuaraan Eropa UEFA (1968, 2020), dan tampil di dua final lainnya (2000, 2012), dan berhasil mencapai semifinal (1988), dan juara keempat (1980). Italia juga berhasil meraih posisi ketiga pada Piala Konfederasi FIFA (2013), dan 2 kali di Liga Negara UEFA (2021, 2023).
Tim ini dikenal sebagai Gli Azzurri (Si Biru) karena biru Savoy adalah warna umum tim nasional yang mewakili Italia karena itu adalah cat tradisional Rumah Kerajaan Savoy yang memerintah Kerajaan Italia pada tahun 1938. Italia juga meraih medali emas pada Olimpiade sepak bola (1936), dan berhasil meraih medali perunggu pada Olimpiade sepak bola (1928, 2004).
Italia juga memiliki persaingan penting dengan negara-negara sepak bola lainnya seperti Brasil, Kroasia, Prancis, Jerman, dan Spanyol.
Sejarah
Asal-usul dan gelar Piala Dunia 1934 & 1938
Upaya awal untuk membentuk tim nasional Italia terjadi pada tanggal 30 April 1899, ketika tim pilihan Italia bermain melawan tim pilihan Swiss. Italia kalah 0-2 di Turin. Pertandingan resmi pertama tim ini diadakan di Milan pada tanggal 15 Mei 1910. Italia mengalahkan Prancis dengan skor 6–2, dengan gol pertama Italia dicetak oleh Pietro Lana. Tim Italia bermain dengan sistem (2–3–5) dan terdiri dari De Simoni, Varisco, Calì, Trerè, Fossati, Capello, Debernardi, Rizzi, Cevenini I, Lana, Boiocchi. Francesco Calì didapuk sebagai kapten pertama tim.
Kesuksesan pertama dalam turnamen resmi adalah medali perunggu di Olimpiade Musim Panas 1928 di Amsterdam. Setelah kalah di semifinal melawan Uruguay, kemenangan 11–3 melawan Mesir mengamankan tempat ketiga dalam kompetisi tersebut. Pada gelaran Piala Internasional Eropa Tengah 1927–30 dan 1933–35, Italia meraih tempat pertama dari lima tim Eropa Tengah, memuncaki grup dengan 11 poin di kedua edisi turnamen tersebut. Italia kemudian juga memenangkan medali emas di Olimpiade Musim Panas 1936 dengan kemenangan 2-1 di babak perpanjangan waktu dalam pertandingan final melawan Austria pada tanggal 15 Agustus 1936.
Setelah menolak untuk berpartisipasi dalam Piala Dunia perdana (1930, di Uruguay), tim nasional Italia memenangkan dua edisi berturut-turut turnamen tersebut pada tahun 1934 dan 1938, di bawah arahan pelatih Vittorio Pozzo dan penampilan Giuseppe Meazza, yang dianggap sebagai salah satu pemain sepak bola Italia terbaik sepanjang masa oleh sebagian orang. Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia 1934, dan memainkan pertandingan Piala Dunia pertama mereka dalam kemenangan 7-1 atas Amerika Serikat di Roma. Italia mengalahkan Cekoslowakia 2-1 di babak perpanjangan waktu di final di Roma, dengan gol dari Raimundo Orsi dan Angelo Schiavio untuk meraih gelar Piala Dunia pertama mereka.
Gli Azzurri meraih gelar kedua mereka pada tahun 1938 dengan mengalahkan Hungaria 4–2 lewat dua gol dari Gino Colaussi dan dua gol dari Silvio Piola. Ada rumor yang beredar bahwa sebelum final Piala Dunia 1938, Perdana Menteri Italia yang fasis, Benito Mussolini, mengirim telegram kepada tim, yang berbunyi "Vincere o morire!" (secara harfiah diterjemahkan sebagai "Menang atau mati!"). Namun, tidak ada catatan yang tersisa tentang telegram tersebut, dan salah satu pemain, Pietro Rava mengatakan ketika diwawancarai: "Tidak, tidak, tidak, itu tidak benar. Dia mengirim telegram yang isinya mendoakan kami yang terbaik, tetapi tidak pernah 'menang atau mati'."
Rekonstruksi era 1950-an dan 1960-an

Pada tahun 1949, 10 dari 11 pemain inti dalam susunan pemain tim nasional tewas dalam kecelakaan pesawat yang menimpa Torino, pemenang lima gelar Serie A sebelumnya. Italia tidak melaju lebih jauh dari babak pertama Piala Dunia 1950, karena kekuatan mereka yang langsung berkurang akibat bencana udara tersebut. Tim Italia kemudian melakukan perjalanan dengan kapal daripada pesawat karena takut akan kecelakaan lain.
Pada Piala Dunia 1954 dan 1962, Italia gagal lolos dari babak pertama dan tidak lolos ke Piala Dunia 1958 karena kalah 2–1 dari Irlandia Utara di pertandingan terakhir babak kualifikasi. Italia tidak ikut serta dalam edisi pertama Kejuaraan Eropa pada tahun 1960 (yang saat itu dikenal sebagai Piala Negara-Negara Eropa) dan tersingkir oleh Uni Soviet di babak pertama kualifikasi Kejuaraan Eropa tahun 1964.
Partisipasi mereka di Piala Dunia 1966 berakhir dengan kekalahan 0-1 di tangan Korea Utara. Meskipun menjadi favorit turnamen, Gli Azzurri yang diperkuat pemain bintang seperti Gianni Rivera dan Giacomo Bulgarelli, tersingkir di babak pertama oleh tim semi-profesional sekaligus debutan, Korea Utara. Tim Italia dihujat habis-habisan saat kembali ke tanah air, sementara pencetak gol Korea Utara, Pak Doo-ik, dirayakan sebagai Daud yang mengalahkan Goliat. Saat Italia kembali ke tanah air, para penggemar yang marah melemparkan buah dan tomat busuk ke bus mereka di bandara.
Juara eropa dan runner-up Piala Dunia (1968–1974)

Pada tahun 1968, Italia menjadi tuan rumah Kejuaraan Eropa dan memenangkan turnamen tersebut dalam partisipasi pertamanya, mengalahkan Yugoslavia di Roma sekaligus merebut gelar pertama mereka sejak Piala Dunia 1938. Final berakhir imbang 1–1 setelah perpanjangan waktu, dan peraturan saat itu mengharuskan pertandingan diulang beberapa hari kemudian. Ini akan menjadi satu-satunya final Kejuaraan Eropa atau Piala Dunia yang diulang. Pada 10 Juni 1968, Italia memenangkan pertandingan ulangan 2–0 (dengan gol dari Gigi Riva dan Pietro Anastasi) untuk merebut trofi.
Pada Piala Dunia 1970, dengan penampilan para pemain juara Eropa yang lebih matang seperti Giacinto Facchetti, Gianni Rivera dan Gigi Riva serta penyerang tengah baru Roberto Boninsegna, Italia mampu kembali ke final Piala Dunia setelah 32 tahun. Mereka mencapai hasil ini melalui salah satu pertandingan paling terkenal dalam sejarah sepak bola—"Pertandingan Abad Ini", semifinal Piala Dunia 1970 antara Italia dan Jerman Barat yang dimenangkan Italia 4–3 di babak perpanjangan waktu. Lima dari tujuh gol tercipta di babak perpanjangan waktu. Mereka kemudian dikalahkan oleh Brasil di final dengan skor telak 4–1.
Setelah kalah dari Belgia di perempat final Kualifikasi Kejuaraan Eropa 1972, era generasi ini berakhir di Piala Dunia 1974, di mana Italia tersingkir di babak penyisihan grup setelah kalah 2–1 melawan Polandia di pertandingan terakhir grup.
Generasi juara dunia (1978–1986)
Di bawah bimbingan awal Fulvio Bernardini dan kemudian pelatih kepala Enzo Bearzot, generasi baru pemain Italia muncul di panggung internasional pada paruh kedua tahun 1970-an. Di Piala Dunia 1978, Italia adalah satu-satunya tim dalam turnamen yang mengalahkan juara dan tim tuan rumah Argentina, dan Italia berhasil mencapai final perebutan tempat ketiga, di mana mereka dikalahkan oleh Brasil 2–1. Dalam pertandingan babak penyisihan grup putaran kedua melawan Belanda, kiper Italia Dino Zoff kebobolan oleh tendangan jarak jauh dari Arie Haan. Zoff dikritik atas kekalahan yang menyingkirkan Italia tersebut.
Italia menjadi tuan rumah Kejuaraan Eropa 1980, edisi pertama yang diadakan antara delapan tim alih-alih empat seperti edisi sebelumnya. Setelah dua hasil imbang dengan Spanyol dan Belgia dan kemenangan tipis 1–0 atas Inggris, Italia dikalahkan oleh Cekoslowakia dalam pertandingan perebutan tempat ketiga melalui adu penalti 9–8 setelah Fulvio Collovati gagal dalam tugasnya.

Setelah skandal Totonero di Serie A, di mana beberapa pemain tim nasional seperti Paolo Rossi dituntut dan diskors karena pengaturan pertandingan dan taruhan ilegal, Gli Azzurri lolos ke babak kedua Piala Dunia 1982 setelah tiga hasil imbang yang kurang memuaskan melawan Polandia, Peru dan Kamerun. Setelah mendapat kritik keras, tim Italia memutuskan untuk memboikot pers sejak saat itu, dengan hanya pelatih Enzo Bearzot dan kapten Dino Zoff yang ditunjuk untuk berbicara kepada pers. Grup putaran kedua Italia adalah grup neraka bersama Argentina dan Brasil. Pada pertandingan pembuka, Italia menang 2–1 atas Argentina lewat tendangan kaki kiri Marco Tardelli dan Antonio Cabrini. Setelah Brasil mengalahkan Argentina 3–1, Italia perlu menang untuk melaju ke semifinal. Italia unggul dua kali melalui gol Paolo Rossi, dan dua kali pula Brasil menyamakan kedudukan. Ketika Falcão mencetak gol untuk menyamakan kedudukan menjadi 2–2, Brasil seharusnya lolos berdasarkan selisih gol, tetapi pada menit ke-74 Rossi mencetak gol kemenangan sekaligus hat-trick. Italia ke semifinal lewat salah satu pertandingan terhebat dalam sejarah Piala Dunia. Pada laga semifinal, mereka mengalahkan Polandia dengan dua gol dari Rossi untuk bermain di final.
Pada final tanggal 11 Juli 1982, Italia bertemu Jerman Barat di Madrid. Babak pertama berakhir tanpa gol, setelah Antonio Cabrini gagal mengeksekusi penalti yang diberikan karena pelanggaran Hans-Peter Briegel terhadap Bruno Conti. Di babak kedua, Paolo Rossi kembali mencetak gol pertama dan membuat Italia unggul. Pada saat Jerman terus menyerang untuk mencari gol penyeimbang, Marco Tardelli dan pemain pengganti Alessandro Altobelli menyelesaikan dua serangan balik contropiede untuk menjadikan skor 3–0. Paul Breitner mencetak gol hiburan Jerman Barat tujuh menit sebelum pertandingan berakhir. Selebrasi Tardelli yang penuh teriakan setelah mencetak gol adalah salah satu gambar yang paling ikonik dalam kemenangan Italia di Piala Dunia 1982. Paolo Rossi memenangkan Sepatu Emas dengan torehan enam gol serta Penghargaan Bola Emas untuk pemain terbaik turnamen. Sedangkan Dino Zoff yang berusia 40 tahun menjadi pemain tertua yang memenangkan Piala Dunia.
Italia kemudian gagal lolos ke Kejuaraan Eropa 1984 dan kemudian langsung lolos sebagai juara bertahan di Piala Dunia 1986. Namun perjalanan mereka terhenti di babak 16 besar saat dikalahkan juara Eropa, Prancis.
Generasi baru dan runner-up Piala Dunia (1986–1994)
Pada tahun 1986, Azeglio Vicini diangkat sebagai pelatih kepala baru, menggantikan Bearzot. Ia memberikan peran sentral kepada pemain seperti Walter Zenga dan Gianluca Vialli. Vicini juga memberikan kesempatan kepada pemain muda yang berasal dari tim U-21. Vialli mencetak gol yang memberikan Italia tiket ke Kejuaraan Eropa 1988 di Jerman, dan ia digadang-gadang sebagai penerus Altobelli karena memiliki insting mencetak gol yang sama. Kedua penyerang tersebut mencetak gol di Jerman, di mana Uni Soviet mengalahkan Azzurri di semifinal.

Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk kedua kalinya pada tahun 1990. Lini serang Italia menampilkan barisan penyerang berbakat seperti Salvatore Schillaci dan Roberto Baggio muda. Italia memainkan hampir semua pertandingan mereka di Roma dan tidak kebobolan satu gol pun dalam lima pertandingan pertama mereka. Namun mereka kalah di semifinal di kota Napoli dari juara bertahan Argentina. Pemain Argentina, Diego Maradona yang bermain untuk Napoli, memberikan komentar sebelum pertandingan terkait ketidaksetaraan Utara-Selatan di Italia dan Risorgimento (penyatuan Italia di abad ke-18), meminta warga Napoli untuk mendukung Argentina dalam pertandingan tersebut. Italia kalah 4–3 melalui adu penalti setelah bermain imbang 1–1 setelah perpanjangan waktu. Gol pembuka Schillaci di babak pertama disamakan di babak kedua oleh sundulan Claudio Caniggia untuk Argentina. Aldo Serena gagal mengeksekusi penalti terakhir, sementara Roberto Donadoni juga gagal mengeksekusi penalti karena tendangannya ditepis oleh kiper Sergio Goycochea. Italia kemudian mengalahkan Inggris 2–1 dalam pertandingan perebutan tempat ketiga di Bari, dengan Schillaci mencetak gol kemenangan melalui penalti dan menjadi pencetak gol terbanyak turnamen dengan enam gol.
Setelah gagal lolos ke Kejuaraan Eropa 1992, Vicini digantikan oleh mantan pelatih AC Milan, Arrigo Sacchi yang membawa gaya permainan baru yang lebih menyerang. Pada November 1993, FIFA menempatkan Italia di peringkat ke-1 sejak sistem pemeringkatan diperkenalkan pada Desember 1992.
Pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, Italia kalah dalam pertandingan pembuka melawan Irlandia dengan skor 0–1 di Giants Stadium, New Jersey. Setelah menang 1–0 melawan Norwegia dan bermain imbang 1–1 dengan Meksiko, Italia lolos dari Grup E berdasarkan jumlah gol yang dicetak oleh empat tim yang memiliki poin sama. Dalam pertandingan babak 16 besar mereka di Stadion Foxboro dekat Boston, Italia tertinggal 0–1 menjelang akhir pertandingan melawan Nigeria, tetapi Baggio menyamakan kedudukan pada menit ke-88 dan melalui penalti di babak perpanjangan waktu untuk meraih kemenangan. Baggio mencetak gol telat lainnya melawan Spanyol di pertandingan perempat final mereka di Boston untuk memastikan kemenangan 2-1 dan dua gol melawan Bulgaria di pertandingan semifinal mereka di New York untuk kemenangan 2-1 lainnya. Di final, yang berlangsung di Stadion Rose Bowl Los Angeles, 2.700 mil (4.320 km) dan tiga zona waktu jauhnya dari Amerika Serikat bagian Timur Laut tempat mereka memainkan semua pertandingan sebelumnya, Italia, yang memiliki waktu istirahat 24 jam lebih sedikit daripada Brasil, memainkan 120 menit pertandingan tanpa gol, membawa pertandingan ke adu penalti, pertama kalinya final Piala Dunia ditentukan melalui adu penalti. Italia kalah dalam adu penalti berikutnya dengan skor 3–2 setelah Baggio, yang bermain dengan bantuan suntikan penghilang rasa sakit dan hamstring yang dibalut perban tebal, gagal mencetak gol dari tendangan penalti terakhir pertandingan.
Runner-up Euro dan kontroversi di Piala Dunia 2002 (1994–2002)
Setelah Piala Dunia 1994 berakhir, Sacchi masih dipercaya sebagai pelatih kepala untuk turnamen berikutnya. Italia lolos ke putaran final Kejuaraan Eropa 1996 di Inggris. Namun, mereka kalah dari Rusia dan Cekoslowakia dengan skor 2–1 serta hanya bermain imbang 0–0 melawan Jerman. Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti yang menentukan dalam pertandingan melawan Jerman, yang akhirnya memenangkan turnamen tersebut.
Setelah finis di posisi kedua di belakang Inggris dalam kualifikasi Piala Dunia 1998, Italia memastikan tempat di putaran final setelah mengalahkan Rusia dalam pertandingan play-off, saat Pierluigi Casiraghi mencetak gol kemenangan dalam kemenangan agregat 2–1 pada 15 November 1997. Setelah finis pertama di grup mereka dan mengalahkan Norwegia di babak kedua, Italia menghadapi adu penalti di perempat final, untuk ketiga kalinya berturut-turut di Piala Dunia. Tim Italia, yang kali ini mengandalkan Alessandro Del Piero serta Baggio menahan tim tuan rumah, Prancis, dengan hasil imbang 0–0 setelah perpanjangan waktu, tetapi kalah 4-3 dalam adu penalti. Dengan dua gol yang dicetak di turnamen ini, Baggio tetap menjadi satu-satunya pemain Italia yang mencetak gol di tiga Piala Dunia FIFA yang berbeda.
Dua tahun kemudian, di Kejuaraan Eropa 2000, Italia menyapu bersih empat laga dengan kemenanga. Tim yang dilatih oleh mantan kapten Dino Zoff itu berhasil mencapai semifinal, menghadapi adu penalti lagi tetapi keluar sebagai pemenang atas salah satu tuan rumah, Belanda. Kiper Italia, Francesco Toldo menyelamatkan satu tendangan penalti selama pertandingan dan dua tendangan penalti dalam adu penalti, sementara striker Francesco Totti mencetak gol penaltinya dengan tendangan cucchiaio (secara harfiah berarti 'sendok') atau panenka. Italia finis di posisi runner-up turnamen, kalah di final 2–1 melawan Prancis (karena gol emas di perpanjangan waktu) setelah kebobolan gol penyama kedudukan hanya 30 detik sebelum waktu tambahan yang diperkirakan berakhir. Setelah kekalahan tersebut, pelatih Dino Zoff mengundurkan diri sebagai bentuk protes setelah dikritik oleh presiden klub AC Milan dan politisi Silvio Berlusconi.
Giovanni Trapattoni mengambil alih kepemimpinan tim pada Juli 2000 setelah pengunduran diri Dino Zoff. Bermain di Grup 8 kualifikasi Piala Dunia FIFA 2002, Italia menyelesaikan turnamen tanpa terkalahkan setelah menghadapi Rumania, Georgia, Hungaria dan Lituania. Pada putaran final, kemenangan 2–0 melawan Ekuador dengan dua gol dari Christian Vieri diikuti oleh serangkaian pertandingan kontroversial. Selama pertandingan melawan Kroasia, wasit Inggris Graham Poll secara keliru menganulir dua gol yang sah, sehingga mengakibatkan kekalahan 2-1 bagi Italia. Pada laga selanjutnya, meskipun dua gol dianulir karena offside, gol sundulan telat dari Del Piero membantu Italia meraih hasil imbang 1-1 melawan Meksiko, yang terbukti cukup untuk melaju ke babak knockout.
Korea Selatan, sebagai negara tuan rumah bersama, menyingkirkan Italia di babak 16 besar dengan skor 2-1. Pertandingan tersebut menuai kontroversi ketika beberapa anggota tim Italia, terutama striker Francesco Totti dan pelatih Giovanni Trapattoni, menduga adanya konspirasi untuk menyingkirkan Italia dari kompetisi. Trapattoni bahkan secara tidak langsung menuduh FIFA memerintahkan wasit untuk memastikan kemenangan Korea agar salah satu dari dua negara tuan rumah tetap berada di turnamen tersebut. Keputusan paling kontroversial dari wasit Byron Moreno adalah penalti awal yang diberikan kepada Korea Selatan (diselamatkan oleh Buffon), gol emas Damiano Tommasi yang secara keliru dinyatakan offside serta kartu merah Totti setelah menerima kartu kuning kedua karena dugaan diving di area penalti. Presiden FIFA Sepp Blatter menyatakan bahwa para hakim garis telah menjadi "bencana" dan mengakui bahwa Italia dirugikan akibat keputusan offside yang buruk selama pertandingan grup, tetapi ia membantah tuduhan konspirasi. Sambil mempertanyakan kartu merah Totti oleh Moreno, Blatter menolak untuk menyalahkan kekalahan Italia sepenuhnya pada wasit, dengan menyatakan: "Tersingkirnya Italia bukan hanya karena wasit dan hakim garis yang melakukan kesalahan manusiawi yang tidak direncanakan. Italia melakukan kesalahan baik dalam bertahan maupun menyerang."
Juara dunia dan kemunduran (2002–2010)


Trapattoni tetap bertahan dan memimpin tim di Euro 2004 di Portugal, di mana setelah hasil imbang melawan Denmark dan Swedia serta kemenangan atas Bulgaria di Grup C, Italia tersingkir setelah kalah dalam selisih gol dari ketiga tim yang memiliki poin yang sama. Kiper Gianluigi Buffon dan presiden federasi sepak bola Italia saat itu, Franco Carraro, menuduh tim Swedia dan Denmark mengatur hasil pertandingan terakhir mereka (hasil 2-2 yang membuat kedua tim lolos). Meskipun ada seruan, juru bicara UEFA saat itu, Robert Faulkner, mengatakan organisasi tersebut tidak akan menyelidiki hasil tersebut.
Federasi Sepak Bola Italia mengganti Trapattoni dengan Marcello Lippi. Dengan kontroversi calciopoli yang melanda liga domestik, Italia memasuki Piala Dunia 2006 sebagai salah satu dari delapan tim unggulan. Italia finis pertama di Grup E dengan kemenangan atas Ghana dan Republik Ceko serta hasil imbang dengan Amerika Serikat. Di babak 16 besar, Italia mengamankan kemenangan 1–0 atas Australia lewat tendangan penalti Francesco Totti di detik akhir pertandingan. Italia kemudian menggulung Ukraina dengan skor 3-0 lewat gol cepat Gianluca Zambrotta dan gol tambahan dari Luca Toni. Di babak semifinal, Italia mengalahkan tuan rumah Jerman 2-0 dengan gol dari Fabio Grosso dan Alessandro Del Piero di menit-menit terakhir perpanjangan waktu.
Pada 9 Juli 2006, Azzurri memenangkan gelar Piala Dunia keempat mereka setelah mengalahkan Prancis di final. Kapten Prancis Zinedine Zidane membuka skor dari titik penalti pada menit ketujuh sebelum Marco Materazzi mencetak gol lewat sundulannya dua belas menit kemudian. Skor tetap imbang hingga perpanjangan waktu dan Zidane diusir wasit karena menanduk Materazzi. Momen itu jadi salah satu momen paling bersejarah sepanjang Piala Dunia. Italia kemudian memenangkan adu penalti dengan skor 5-3, dengan semua pemain Italia berhasil mencetak gol dari tendangan mereka. Gol penalti penentu dicetak oleh Grosso.
FIFA memilih tujuh pemain Italia — Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Gianluca Zambrotta, Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso, Francesco Totti dan Luca Toni — dalam daftar 23 pemain All Star Team. Buffon juga memenangkan Penghargaan Lev Yashin, yang diberikan kepada kiper terbaik turnamen; ia hanya kebobolan dua gol dalam tujuh pertandingan turnamen, yang pertama gol bunuh diri oleh Zaccardo dan yang kedua dari tendangan penalti Zidane di final, dan tetap tak terkalahkan selama 460 menit berturut-turut. Sebagai penghormatan atas kemenangan Italia di Piala Dunia keempat mereka, para anggota skuat dianugerahi bintang jasa Cavaliere.
Marcello Lippi, yang telah mengumumkan pengunduran dirinya tiga hari setelah kemenangan Piala Dunia, digantikan oleh Roberto Donadoni. Italia lolos ke Euro 2008 dengan menjadi juara grup di atas Prancis. Pada 14 Februari 2007, Italia naik ke peringkat pertama dalam Peringkat Dunia FIFA untuk kedua kalinya. Di Euro 2008, Azzurri kalah 3–0 dari Belanda di pertandingan pembuka babak grup. Pertandingan berikutnya melawan Rumania berakhir 1–1 berkat penyelamatan penalti dari Gianluigi Buffon. Italia kemudian memenangkan pertandingan grup terakhir mereka melawan Prancis 2–0, pertandingan ulang final Piala Dunia 2006. Azzurri tersingkir di perempat final melalui adu penalti melawan juara Spanyol. Dalam waktu seminggu setelah pertandingan, kontrak Roberto Donadoni diakhiri dan Marcello Lippi dipekerjakan kembali sebagai pelatih.
Pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, juara bertahan Italia secara tak terduga tersingkir di fase grup, finis di posisi terakhir di grup mereka. Setelah ditahan imbang 1–1 oleh Paraguay dan Selandia Baru, mereka menderita kekalahan 3–2 dari Slovakia setelah tertinggal 2–0 dan 3–1. Ini adalah pertama kalinya Italia gagal memenangkan satu pertandingan pun di turnamen Piala Dunia, dan dengan demikian menjadi negara ketiga yang tersingkir di babak pertama saat menjadi juara bertahan Piala Dunia.
Kemerosotan Timnas Italia (2010–2018)

Marcello Lippi mengundurkan diri setelah Piala Dunia dan digantikan oleh Cesare Prandelli, meskipun pengganti Lippi telah diumumkan sebelum turnamen. Di UEFA Euro 2012, Italia di bawah Prandelli bisa menemukan sentuhan mereka lagi dan menjadi tim yang sulit dikalahkan. Pada fase grup, mereka finis di posisi dua di belakang Spanyol, yang membuat mereka berhadapan dengan Inggris di perempat final. Setelah pertandingan yang sebagian besar dikuasai Italia di mana mereka gagal memanfaatkan peluang, Azzurri akhirnya berhasil mengalahkan Inggris melalui adu penalti. Di semifinal melawan Jerman, dua gol babak pertama oleh Mario Balotelli membawa Italia ke final. Di final, Italia dibantai 4–0 oleh Spanyol, tim juara dunia yang sedang memiliki generasi emasnya.
Pada Piala Dunia 2014, Italia mengalahkan Inggris 2–1 dalam pertandingan pertama mereka sebelum kalah dari tim underdog Kosta Rika 1–0 dalam pertandingan kedua babak grup. Pada pertandingan terakhir di babak grup, mereka tersingkir oleh Uruguay 1–0, dalam pertandingan yang kontroversial, di mana pemain Italia Claudio Marchisio diusir secara kontroversial sementara Luis Suarez dari Uruguay yang menggigit Giorgio Chiellini tidak diberi pelanggaran atau kartu sekalipun. Tak lama setelah kekalahan ini, pelatih Cesare Prandelli mengundurkan diri.
Mantan manajer Juventus, Antonio Conte dipilih untuk menggantikan Prandelli. Pada 10 Oktober 2015, Italia lolos ke Euro 2016, berkat kemenangan 3–1 atas Azerbaijan; hasil tersebut berarti Italia telah tak terkalahkan dalam 50 pertandingan kualifikasi Eropa. Pada 4 April 2016, diumumkan bahwa Antonio Conte akan mengundurkan diri sebagai pelatih Italia setelah Euro 2016 untuk menjadi pelatih kepala Chelsea. Skuat 23 pemain awalnya dikritik oleh banyak penggemar dan anggota media karena kurangnya kualitas. Pemain-pemain seperti Andrea Pirlo dan Sebastian Giovinco secara mengejutkan tidak dibawa. Namun, gaya kepelatihan Conte yang condong kepada fisik dan sepakbola pragmatis ternyata cocok dengan timnas Italia yang sudah tidak memiliki pemain bintang. Italia membuka Euro 2016 dengan kemenangan 2–0 atas Belgia dan lolos berkat kemenangan melawan Swedia di pertandingan kedua, yang membuat kekalahan 1–0 mereka dari Irlandia di pertandingan terakhir babak grup tidak berpengaruh apa-apa bagi mereka. Italia membuat kejutan setelah mengalahkan juara bertahan Eropa, Spanyol 2–0 di babak 16 besar. Namun, Italia akhirnya dikalahkan oleh juara Piala Dunia, Jerman di perempat final melalui adu penalti, setelah hasil imbang 1–1.
Setelah kepergian Conte yang direncanakan setelah Euro 2016, Gian Piero Ventura mengambil alih peran sebagai manajer tim. Selama kualifikasi Piala Dunia 2018, Italia finis kedua di Grup G, lima poin di belakang Spanyol. Italia kemudian bermain di babak play-off melawan Swedia, di mana mereka kalah 1–0 secara agregat. Untuk pertama kalinya Italia gagal lolos ke Piala Dunia sejak 1958. Setelah pertandingan, para veteran seperti Andrea Barzagli, Daniele De Rossi dan kapten Gianluigi Buffon menyatakan pensiun dari tim nasional. Pada 15 November 2017, Ventura dipecat sebagai kepala pelatih, dan pada 20 November 2017, Carlo Tavecchio mengundurkan diri sebagai presiden Federasi Sepak Bola Italia. Luigi Di Biagio ditunjuk sebagai manajer sementara dan memimpin tim dalam pertandingan persahabatan berikutnya pada Maret 2018, termasuk penampilan terakhir Buffon dari 176 penampilan dalam pertandingan persahabatan melawan Argentina.
Oase juara Eropa dan era kegelapan (2018–sekarang)
Pada 14 Mei 2018, Roberto Mancini diumumkan sebagai manajer baru. Pada 16 Agustus 2018, dalam pembaruan Peringkat Dunia FIFA pertama setelah Piala Dunia, Italia turun ke peringkat terendah mereka yaitu peringkat ke-21. Pada 18 November 2019, Italia menyelesaikan kualifikasi Euro 2020 dengan sepuluh kemenangan dalam sepuluh pertandingan, menjadi tim keenam yang lolos ke Kejuaraan Eropa dengan rekor sempurna. Pada 17 Maret 2020, UEFA mengkonfirmasi bahwa Euro 2020 akan ditunda selama satu tahun karena pandemi COVID-19.

Saat gelaran Euro 2020 yang tertunda, Italia masih mengandalkan para pemain senior seperti Chiellini dan Leonardo Bonucci. Bintang muda seperti Gianluigi Donnarumma dan Federico Chiesa juga menjadi andalan di bawah pelatih Mancini. Italia finis di puncak Grup A, mengungguli Turki, Swiss dan Wales. Sebagai salah satu negara tuan rumah, Italia memainkan ketiga pertandingan grup di Stadio Olimpico Roma, dan menjadi tim pertama dalam sejarah Kejuaraan Eropa yang memenangkan setiap pertandingan babak penyisihan grup tanpa kebobolan. Di babak 16 besar, Italia mengalahkan Austria 2–1 di Stadion Wembley setelah perpanjangan waktu. Di perempat final, Italia mengamankan kemenangan 2–1 atas tim bertabur bintang, Belgia, sebelum mengalahkan Spanyol melalui adu penalti di semifinal.
Pada final, tanggal 11 Juli 2021, Italia memenangkan Kejuaraan Eropa dengan mengalahkan tuan rumah Inggris di Stadion Wembley melalui adu penalti setelah hasil imbang 1–1, untuk gelar Eropa kedua mereka dan yang pertama sejak 1968. Kiper Gianluigi Donnarumma juga memenangkan penghargaan Pemain Terbaik Turnamen. Pada tanggal 16 Juli, semua anggota skuat pemenang Kejuaraan Eropa dianugerahi Bintang Jasa Italia Cavaliere.
Italia juga memegang rekor tidak terkalahkan selama 37 pertandingan beruntun yang bertahan sepanjang tiga tahun sebelum akhirnya takluk oleh Spanyol 2–1 di babak semifinal UEFA Nations League 2021.
Era kegelapan timnas Italia kemudian dimulai. Pada 15 November 2021, Italia bermain imbang 0–0 dengan Irlandia Utara dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022 terakhir mereka dan finis di posisi kedua, dua poin di belakang Swiss. Pada 24 Maret 2022, Italia kalah 1–0 di semifinal play-off melawan Makedonia Utara, kekalahan kandang pertama mereka dalam kualifikasi Piala Dunia, sehingga gagal lolos ke Piala Dunia untuk kedua kalinya secara berturut-turut.
Pada Agustus 2023, setelah lima tahun menjadi pelatih Italia, Mancini mengundurkan diri. Luciano Spalletti dipilih sebagai pelatih baru dan memimpin tim dalam enam pertandingan terakhir kualifikasi Euro 2024, berhasil meraih tiket langsung ke Kejuaraan Eropa. Italia tampil mengecewakan, mereka tersingkir dari turnamen di babak 16 besar setelah kalah 2–0 dari Swiss, yang menyebabkan Menteri Olahraga Andrea Abodi menyebut hasil di Euro sebagai "kegagalan".
Pada Juni 2025, setelah kekalahan 3–0 melawan Norwegia dalam pertandingan pertama kualifikasi Piala Dunia 2026 di Oslo, Spalletti diberhentikan dari jabatannya dan digantikan mantan juara Piala Dunia 2006, Gennaro Gattuso. Debut Gattuso sebagai commissario tecnico Italia terjadi pada 5 September dalam kemenangan 5–0 melawan Estonia. Pada November tahun yang sama, Italia lolos ke babak play-off untuk ketiga kalinya berturut-turut setelah kekalahan kandang 4–1 dari Norwegia. Italia diundi ke Jalur A babak play-off dan mengalahkan Irlandia Utara 2–0 di semifinal, tetapi pada 31 Maret 2026, Italia gagal lolos ke Piala Dunia FIFA 2026 setelah kalah tandang dari Bosnia dan Herzegovina melalui adu penalti setelah hasil imbang 1–1. Hasil ini menandai Piala Dunia ketiga berturut-turut yang gagal mereka ikuti. Dua hari kemudian, Gabriele Gravina mengundurkan diri sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Italia disusul oleh Buffon dan Gattuso yang juga mengundurkan diri sebagai kepala delegasi dan kepala pelatih. Pada 10 April, Silvio Baldini ditunjuk sebagai manajer sementara untuk pertandingan persahabatan Italia pada bulan Juni.
Pelatih kepala beserta dengan jajarannya
| Posisi | Staf |
|---|---|
| Pelatih kepala | |
| Asisten pelatih | kosong |
| Asisten teknis | |
| Pelatih penjaga gawang | |
| Pelatih kebugaran | kosong |
| Analis pertandingan | |
| Kepala delegasi | kosong |
| Dokter | |
| Fisioterapi | |
| Dokter Osteopati | |
| Ahli ilmu gizi |
Sumber: [3]
Pemain
Skuad terkini
Para pemain berikut dipanggil untuk friendly match melawan Luksemburg dan Yunani pada tanggal 03 dan 07 Juni 2026.[4]
Penampilan dan gol per 31 Maret 2026, setelah pertandingan melawan Bosnia dan Herzegovina.
| No. | Pos. | Nama pemain | Tanggal lahir (umur) | Tampil | Gol | Klub |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1GK | Gianluigi Donnarumma |
25 Februari 1999 (umur 27) | 81 | 0 | ||
| 1GK | Giovanni Daffara | 5 Desember 2004 (umur 21) | 0 | 0 | ||
| 1GK | Lorenzo Palmisani | 12 Juni 2004 (umur 21) | 0 | 0 | ||
| 2DF | Marco Palestra | 3 Maret 2005 (umur 21) | 2 | 0 | ||
| 2DF | Honest Ahanor | 23 Februari 2008 (umur 18) | 0 | 0 | ||
| 2DF | Davide Bartesaghi | 29 Desember 2005 (umur 20) | 0 | 0 | ||
| 2DF | Fabio Chiarodia | 5 Juni 2005 (umur 20) | 0 | 0 | ||
| 2DF | Pietro Comuzzo | 20 Februari 2005 (umur 21) | 0 | 0 | ||
| 2DF | Costantino Favasuli | 26 April 2004 (umur 22) | 0 | 0 | ||
| 2DF | Filippo Mané | 8 Maret 2005 (umur 21) | 0 | 0 | ||
| 2DF | Luca Reggiani | 9 Januari 2008 (umur 18) | 0 | 0 | ||
| 3MF | Niccolò Pisilli | 23 September 2004 (umur 21) | 2 | 0 | ||
| 3MF | Matteo Dagasso | 1 April 2004 (umur 22) | 0 | 0 | ||
| 3MF | Giacomo Faticanti | 31 Juli 2004 (umur 21) | 0 | 0 | ||
| 3MF | Luca Lipani | 18 Mei 2005 (umur 21) | 0 | 0 | ||
| 3MF | Cher Ndour | 27 Juli 2004 (umur 21) | 0 | 0 | ||
| 3MF | Lorenzo Venturino | 22 Juni 2006 (umur 19) | 0 | 0 | ||
| 4FW | Pio Esposito | 28 Juni 2005 (umur 20) | 7 | 3 | ||
| 4FW | Francesco Camarda | 10 Maret 2008 (umur 18) | 0 | 0 | ||
| 4FW | Luigi Cherubini | 15 Januari 2004 (umur 22) | 0 | 0 | ||
| 4FW | Jeff Ekhator | 11 November 2006 (umur 19) | 0 | 0 | ||
| 4FW | Seydou Fini | 2 Juni 2006 (umur 20) | 0 | 0 | ||
| 4FW | Samuele Inacio | 2 April 2008 (umur 18) | 0 | 0 | ||
| 4FW | Luca Koleosho | 15 September 2004 (umur 21) | 0 | 0 | ||
Pemanggilan pemain baru-baru ini
Para pemain berikut juga pernah dipanggil ke skuad dalam 12 bulan terakhir.
| Pos. | Nama pemain | Tanggal lahir (umur) | Tampil | Gol | Klub | Panggilan terakhir |
|---|---|---|---|---|---|---|
| GK | Alex Meret | 22 Maret 1997 (umur 29) | 3 | 0 | v. | |
| GK | Elia Caprile | 25 Agustus 2001 (umur 24) | 0 | 0 | v. | |
| GK | Marco Carnesecchi | 1 Juli 2000 (umur 25) | 0 | 0 | v. | |
| GK | Guglielmo Vicario | 7 Oktober 1996 (umur 29) | 5 | 0 | v. | |
| DF | Alessandro Bastoni | 13 April 1999 (umur 27) | 43 | 3 | v. | |
| DF | Federico Dimarco | 10 November 1997 (umur 28) | 38 | 3 | v. | |
| DF | Leonardo Spinazzola | 25 Maret 1993 (umur 33) | 27 | 0 | v. | |
| DF | Gianluca Mancini | 17 April 1996 (umur 30) | 20 | 2 | v. | |
| DF | Andrea Cambiaso | 20 Februari 2000 (umur 26) | 19 | 3 | v. | |
| DF | Riccardo Calafiori | 19 Mei 2002 (umur 24) | 14 | 0 | v. | |
| DF | Alessandro Buongiorno | 6 Juni 1999 (umur 26) | 12 | 0 | v. | |
| DF | Federico Gatti | 24 Juni 1998 (umur 27) | 8 | 0 | v. | |
| DF | Giorgio Scalvini | 11 Desember 2003 (umur 22) | 8 | 0 | v. | |
| DF | Diego Coppola | 28 Desember 2003 (umur 22) | 2 | 0 | v. | |
| DF | Giovanni Di Lorenzo | 4 Agustus 1993 (umur 32) | 53 | 5 | v. | |
| DF | Raoul Bellanova | 17 Mei 2000 (umur 26) | 6 | 0 | v. | |
| DF | Matteo Gabbia | 21 Oktober 1999 (umur 26) | 0 | 0 | v. | |
| DF | Destiny Udogie | 28 November 2002 (umur 23) | 12 | 0 | v. | |
| DF | Giovanni Leoni | 21 Desember 2006 (umur 19) | 0 | 0 | v. | |
| DF | Davide Zappacosta | 11 Juni 1992 (umur 33) | 14 | 0 | v. | |
| DF | Daniele Rugani | 29 Juli 1994 (umur 31) | 7 | 0 | v. | |
| DF | Luca Ranieri | 23 April 1999 (umur 27) | 1 | 0 | v. | |
| DF | Francesco Acerbi | 10 Februari 1988 (umur 38) | 34 | 1 | v. | |
| MF | Nicolò Barella | 7 Februari 1997 (umur 29) | 70 | 10 | v. | |
| MF | Bryan Cristante | 3 Maret 1995 (umur 31) | 48 | 2 | v. | |
| MF | Manuel Locatelli | 8 Januari 1998 (umur 28) | 36 | 3 | v. | |
| MF | Davide Frattesi | 22 September 1999 (umur 26) | 34 | 8 | v. | |
| MF | Sandro Tonali | 8 Mei 2000 (umur 26) | 32 | 4 | v. | |
| MF | Samuele Ricci | 21 Agustus 2001 (umur 24) | 11 | 0 | v. | |
| MF | Hans Nicolussi Caviglia | 18 Juni 2000 (umur 25) | 0 | 0 | v. | |
| MF | Nicolò Rovella | 4 Desember 2001 (umur 24) | 4 | 0 | v. | |
| MF | Giovanni Fabbian | 14 Januari 2003 (umur 23) | 0 | 0 | v. | |
| MF | Cesare Casadei | 10 Januari 2003 (umur 23) | 0 | 0 | v. | |
| FW | Giacomo Raspadori | 18 Februari 2000 (umur 26) | 46 | 11 | v. | |
| FW | Mateo Retegui | 29 April 1999 (umur 27) | 28 | 11 | v. | |
| FW | Moise Kean | 28 Februari 2000 (umur 26) | 26 | 13 | v. | |
| FW | Gianluca Scamacca | 1 Januari 1999 (umur 27) | 22 | 1 | v. | |
| FW | Matteo Politano | 3 Agustus 1993 (umur 32) | 20 | 4 | v. | |
| FW | Nicolò Cambiaghi | 28 Desember 2000 (umur 25) | 1 | 0 | v. | |
| FW | Federico Chiesa | 25 Oktober 1997 (umur 28) | 51 | 7 | v. | |
| FW | Riccardo Orsolini | 24 Januari 1997 (umur 29) | 13 | 2 | v. | |
| FW | Mattia Zaccagni | 16 Juni 1995 (umur 30) | 13 | 1 | v. | |
| FW | Roberto Piccoli | 27 Januari 2001 (umur 25) | 1 | 0 | v. | |
| FW | Daniel Maldini | 11 Oktober 2001 (umur 24) | 6 | 0 | v. | |
| FW | Lorenzo Lucca | 10 September 2000 (umur 25) | 5 | 0 | v. | |
| ||||||
Catatan pemain
Penampilan terbanyak

Per 15 November 2021 pemain dengan penampilan terbanyak untuk Italia.
| Peringkat | Pemain | Penampilan | Gol | Periode |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Gianluigi Buffon | 176 | 0 | 1997–2018 |
| 2 | Fabio Cannavaro | 136 | 2 | 1997–2010 |
| 3 | Paolo Maldini | 126 | 7 | 1988–2002 |
| 4 | Daniele De Rossi | 117 | 21 | 2004–2017 |
| 5 | Andrea Pirlo | 116 | 13 | 2002–2015 |
| 6 | Giorgio Chiellini | 117 | 8 | 2004–2022 |
| Leonardo Bonucci | 121 | 8 | 2010–2023 | |
| 8 | Dino Zoff | 112 | 0 | 1968–1983 |
| 9 | Gianluca Zambrotta | 98 | 2 | 1999–2010 |
| 10 | Giacinto Facchetti | 94 | 3 | 1963–1977 |
Pemain yang dicetak tebal masih aktif bermain bersama Italia.
Pencetak gol terbanyak
Per 15 November 2021 pemain dengan gol terbanyak untuk Italia.
| Peringkat | Pemain | Gol | Penampilan | Perbandingan | Periode |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Luigi Riva | 35 | 42 | 0.83 | 1965–1974 |
| 2 | Giuseppe Meazza | 33 | 53 | 0.62 | 1930–1939 |
| 3 | Silvio Piola | 30 | 34 | 0.88 | 1935–1952 |
| 4 | Roberto Baggio | 27 | 56 | 0.48 | 1988–2004 |
| Alessandro Del Piero | 91 | 0.3 | 1995–2008 | ||
| 6 | Adolfo Baloncieri | 25 | 47 | 0.53 | 1920–1930 |
| Filippo Inzaghi | 57 | 0.44 | 1997–2007 | ||
| Alessandro Altobelli | 61 | 0.41 | 1980–1988 | ||
| 9 | Christian Vieri | 23 | 49 | 0.47 | 1997–2005 |
| Francesco Graziani | 64 | 0.36 | 1975–1983 |
Rekor tim
- Kemenangan terbesar
- Italia 9–0 Amerika Serikat, 2 Agustus 1948
- Kekalahan terbesar
Rekor kompetitif
Juara Juara kedua Juara ketiga Juara keempat
Piala Dunia FIFA
| Rekor Piala Dunia FIFA | Rekor kualifikasi | ||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tahun | Putaran | Posisi | Mn | M | S* | K | GM | GK | Mn | M | S | K | GM | GK | |
| Tidak ikut serta | Tidak ikut serta | ||||||||||||||
| Juara | 1 | 5 | 4 | 1 | 0 | 12 | 3 | 1 | 1 | 0 | 0 | 4 | 0 | ||
| Juara | 1 | 4 | 4 | 0 | 0 | 11 | 5 | Lolos otomatis sebagai juara bertahan | |||||||
| Babak penyisihan grup | 7 | 2 | 1 | 0 | 1 | 4 | 3 | Lolos otomatis sebagai juara bertahan | |||||||
| Babak penyisihan grup | 10 | 3 | 1 | 0 | 2 | 6 | 7 | 2 | 2 | 0 | 0 | 7 | 2 | ||
| Tidak lolos | 4 | 2 | 0 | 2 | 5 | 5 | |||||||||
| Babak penyisihan grup | 9 | 3 | 1 | 1 | 1 | 3 | 2 | 2 | 2 | 0 | 0 | 10 | 2 | ||
| Babak penyisihan grup | 9 | 3 | 1 | 0 | 2 | 2 | 2 | 6 | 4 | 1 | 1 | 17 | 3 | ||
| Juara kedua | 2 | 6 | 3 | 2 | 1 | 10 | 8 | 4 | 3 | 1 | 0 | 10 | 3 | ||
| Babak penyisihan grup | 10 | 3 | 1 | 1 | 1 | 5 | 4 | 6 | 4 | 2 | 0 | 12 | 0 | ||
| Juara keempat | 4 | 7 | 4 | 1 | 2 | 9 | 6 | 6 | 5 | 0 | 1 | 18 | 4 | ||
| Juara | 1 | 7 | 4 | 3 | 0 | 12 | 6 | 8 | 5 | 2 | 1 | 12 | 5 | ||
| Babak 16 besar | 12 | 4 | 1 | 2 | 1 | 5 | 6 | Lolos otomatis sebagai juara bertahan | |||||||
| Juara ketiga | 3 | 7 | 6 | 1 | 0 | 10 | 2 | Lolos otomatis sebagai tuan rumah | |||||||
| Juara kedua | 2 | 7 | 4 | 2 | 1 | 8 | 5 | 10 | 7 | 2 | 1 | 22 | 7 | ||
| Perempat final | 5 | 5 | 3 | 2 | 0 | 8 | 3 | 10 | 6 | 4 | 0 | 13 | 2 | ||
| Babak 16 besar | 15 | 4 | 1 | 1 | 2 | 5 | 5 | 8 | 6 | 2 | 0 | 16 | 3 | ||
| Juara | 1 | 7 | 5 | 2 | 0 | 12 | 2 | 10 | 7 | 2 | 1 | 17 | 8 | ||
| Babak penyisihan grup | 26 | 3 | 0 | 2 | 1 | 4 | 5 | 10 | 7 | 3 | 0 | 18 | 7 | ||
| Babak penyisihan grup | 22 | 3 | 1 | 0 | 2 | 2 | 3 | 10 | 6 | 4 | 0 | 19 | 9 | ||
| Tidak lolos | 12 | 7 | 3 | 2 | 21 | 9 | |||||||||
| 9 | 4 | 4 | 1 | 13 | 3 | ||||||||||
| 10 | 7 | 1 | 2 | 24 | 13 | ||||||||||
| Total | 4 Gelar | 18/21 | 83 | 45 | 21 | 17 | 128 | 77 | 128 | 85 | 31 | 12 | 258 | 85 | |
| Rekor Piala Dunia FIFA Italia | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Pertandingan pertama | |||||
| Kemenangan terbesar | |||||
| Kekalahan terbesar | |||||
| Hasil terbaik | |||||
| Hasil terburuk | |||||
- * Dinyatakan seri termasuk pertandingan babak gugur yang ditentukan dengan adu penalti.
- ** Warna emas menunjukkan pemenang pada turnamen tersebut. Kotak berwarna merah menunjukkan tuan rumah pada turnamen tersebut.
Kejuaraan Eropa UEFA
| Rekor Kejuaraan Eropa UEFA | Rekor kualifikasi | ||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tahun | Putaran | Posisi | Mn | M | S* | K | GM | GK | Mn | M | S | K | GM | GK | |
| Tidak ikut serta | Tidak ikut serta | ||||||||||||||
| Tidak lolos | 4 | 2 | 1 | 1 | 8 | 3 | |||||||||
| Juara | 1 | 3 | 1 | 2 | 0 | 3 | 1 | 8 | 6 | 1 | 1 | 21 | 6 | ||
| Tidak lolos | 8 | 4 | 3 | 1 | 13 | 6 | |||||||||
| 6 | 2 | 3 | 1 | 3 | 3 | ||||||||||
| Juara keempat | 4 | 4 | 1 | 3 | 0 | 2 | 1 | Lolos otomatis sebagai tuan rumah | |||||||
| Tidak lolos | 8 | 1 | 3 | 4 | 6 | 12 | |||||||||
| Semifinal | 3 | 4 | 2 | 1 | 1 | 4 | 3 | 8 | 6 | 1 | 1 | 16 | 4 | ||
| Tidak lolos | 8 | 3 | 4 | 1 | 12 | 5 | |||||||||
| Babak penyisihan grup | 10 | 3 | 1 | 1 | 1 | 3 | 3 | 10 | 7 | 2 | 1 | 20 | 6 | ||
| Juara kedua | 2 | 6 | 4 | 1 | 1 | 9 | 4 | 8 | 4 | 3 | 1 | 13 | 5 | ||
| Babak penyisihan grup | 9 | 3 | 1 | 2 | 0 | 3 | 2 | 8 | 5 | 2 | 1 | 17 | 4 | ||
| Perempat final | 8 | 4 | 1 | 2 | 1 | 3 | 4 | 12 | 9 | 2 | 1 | 22 | 9 | ||
| Juara kedua | 2 | 6 | 2 | 3 | 1 | 6 | 7 | 10 | 8 | 2 | 0 | 20 | 2 | ||
| Perempat final | 5 | 5 | 3 | 1 | 1 | 6 | 2 | 10 | 7 | 3 | 0 | 16 | 7 | ||
| Juara | 1 | 7 | 5 | 2 | 0 | 13 | 4 | 10 | 10 | 0 | 0 | 37 | 4 | ||
| 16 besar | 14 | 4 | 1 | 1 | 2 | 3 | 5 | 8 | 4 | 2 | 2 | 16 | 9 | ||
| Total | 2 Gelar | 11/17 | 49 | 22 | 19 | 8 | 55 | 36 | 126 | 78 | 32 | 16 | 240 | 85 | |
| Rekor Kejuaraan Eropa UEFA Italia | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Pertandingan pertama | |||||
| Kemenangan terbesar | |||||
| Kekalahan terbesar | |||||
| Hasil terbaik | |||||
| Hasil terburuk | |||||
- * Dinyatakan seri termasuk pertandingan babak gugur yang ditentukan dengan adu penalti.
- ** Warna emas menunjukkan pemenang pada turnamen tersebut. Kotak berwarna merah menunjukkan tuan rumah pada turnamen tersebut.
- *** Kejuaraan Eropa UEFA 2020 diselenggarakan di sebelas negara berbeda di seluruh penjuru Eropa. Termasuk salah satu tuan rumahnya adalah Italia.
Liga Negara UEFA
| Rekor Liga Negara UEFA | ||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tahun | Divisi | Grup | Mn | M | S* | K | GM | GK | P/R | Peringkat |
| A | 3 | 4 | 1 | 2 | 1 | 2 | 2 | 8 | ||
| A | 1 | 8 | 4 | 3 | 1 | 10 | 5 | 3 | ||
| A | 3 | 8 | 4 | 2 | 2 | 12 | 11 | 3 | ||
| A | 2 | 8 | 4 | 2 | 2 | 17 | 13 | 5 | ||
| Total | 24 | 11 | 9 | 4 | 34 | 24 | 3 | |||
| Rekor Liga Negara UEFA Italia | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Pertandingan pertama | |||||
| Kemenangan terbesar | |||||
| Kekalahan terbesar | |||||
| Hasil terbaik | |||||
| Hasil terburuk | Babak penyisihan grup pada 2018–2019 | ||||
- * Dinyatakan seri termasuk pertandingan babak gugur yang ditentukan dengan adu penalti.
- ** Kotak berwarna merah menunjukkan tuan rumah pada turnamen tersebut.
Piala Konfederasi FIFA
| Rekor Piala Konfederasi FIFA | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tahun | Putaran | Posisi | Mn | M | S* | K | GM | GK | |
| Tidak ada tim dari Eropa yang berpartisipasi | |||||||||
| Tidak lolos | |||||||||
| Tidak ikut serta | |||||||||
| Tidak lolos | |||||||||
| Babak penyisihan grup | 5 | 3 | 1 | 0 | 2 | 3 | 5 | ||
| Juara ketiga | 3 | 5 | 2 | 2 | 1 | 10 | 10 | ||
| Tidak lolos | |||||||||
| Total | Juara ketiga | 2/10 | 8 | 3 | 2 | 3 | 13 | 15 | |
| Rekor Piala Konfederasi FIFA Italia | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Pertandingan pertama | |||||
| Kemenangan terbesar | |||||
| Kekalahan terbesar | |||||
| Hasil terbaik | Juara ketiga pada 2013 | ||||
| Hasil terburuk | Babak penyisihan grup pada 2009 | ||||
- * Dinyatakan seri termasuk pertandingan babak gugur yang ditentukan dengan adu penalti.
Kehormatan
Gelar
- Piala Konfederasi FIFA
Juara ketiga (1): 2013
Referensi
- ↑ "The FIFA/Coca-Cola Men's World Ranking". FIFA. 1 April 2026. Diakses tanggal 1 April 2026.
- ↑ Peringkat Elo berubah dibandingkan dengan satu tahun yang lalu."World Football Elo Ratings". eloratings.net. 19 Januari 2024. Diakses tanggal 19 Januari 2024.
- ↑ "Nazionale A" (dalam bahasa Italia). FIGC. Diakses tanggal 19 June 2025.
- ↑ "Baldini punta sulla linea verde per le amichevoli con Lussemburgo e Grecia: Donnarumma guida il gruppo" (dalam bahasa Italia). Italian Football Federation. 25 May 2026. Diakses tanggal 25 May 2026.
Pranala luar
- Situs web resmi FIGC (dalam bahasa Italia)
- Halaman resmi tim sepak bola nasional oleh FIGC
- Halaman Facebook resmi oleh FIGC
- Pertandingan mendatang Diarsipkan 2016-07-31 di Wayback Machine. oleh FIGC
- Italia di FIFA
- Italia di UEFA
Prestasi dan penghargaan | |
|---|---|
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |