Tifauzia Tyassuma (lahir (1970-02-24)24 Februari 1970), lebih dikenal sebagai Dokter Tifa, adalah seorang dokter, ilmuwan, penulis, dan aktivis kesehatan Indonesia yang dikenal karena pandangannya yang kritis terhadap kebijakan publik, terutama di bidang kesehatan dan politik.[1][2][3] Tifauzia Tyassuma menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tempat ia meraih gelar dokter umum dan Master of Science (M.Sc.).[4] Ia kemudian sedang melanjutkan studi doktoral di bidang Epidemiologi Molekuler di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.[5][6][7] Selain itu, ia juga pernah belajar di Pusat Pengetahuan Layanan Kesehatan di Norwegia.[8][9]
Karier
Tifa memiliki pengalaman luas di bidang epidemiologi klinis dan ilmu saraf nutrisi. Ia mengaku pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif di Center for Clinical Epidemiology & Evidence RSCM Jakarta pada tahun 2009 dan sebagai Sekretaris Jenderal Indonesian Clinical Epidemiology & Evidence-Based Medicine Network pada tahun 2010. Sejak 2017, ia memimpin Ahlina Institute, sebuah lembaga yang berfokus pada literasi kesehatan, nutrisi, dan neurosains spiritual di Indonesia.[10][11]
Karya
Sebagai penulis, Tifa telah menerbitkan dua buku berjudul Body Revolution dan Nutrisi Surgawi, yang membahas hubungan antara nutrisi, kesehatan, dan spiritualitas. Ia juga aktif sebagai pembicara publik dan praktisi makanan sehat, serta mengelola layanan katering makanan sehat yang menekankan pada nutrisi yang tepat dan bahan berkualitas tinggi.[12] dr. Tifa dikenal sebagai sosok yang vokal di media sosial, khususnya Twitter, di mana ia sering menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah, terutama dalam penanganan pandemi Covid-19. Ia juga pernah mempertanyakan keaslian ijazah PresidenJoko Widodo dan mengkritik calon presiden dari PDIP, Ganjar Pranowo, terkait berbagai isu.[13][14]
Kontroversi
Pandangan dan pernyataan Tifa sering kali memicu kontroversi dan perdebatan di masyarakat. Salah satu pernyataannya yang menimbulkan polemik adalah klaim bahwa Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akan menjadi Presiden Indonesia periode 2029–2034. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa vaksin Covid-19 tidak lagi diperlukan karena masyarakat telah mencapai kekebalan kelompok, sebuah pandangan yang menuai pro dan kontra.[15] Lewat berbagai pernyataannya di media sosial, Tifa mempertanyakan keaslian ijazah Jokowi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menyoroti beberapa hal teknis, seperti bentuk tulisan nama dalam ijazah yang menurutnya tidak sesuai dengan kebiasaan UGM pada masa itu. Ia juga mengkritisi keberadaan buku alumni dan salinan skripsi yang dinilainya mudah direkayasa. Menurut Tifa, dokumen seperti itu bisa diuji secara ilmiah melalui analisis forensik dokumen, bukan hanya berdasarkan klaim satu pihak. Pernyataan dokter Tifa tentu tidak tanpa respons. Pihak UGM melalui rektornya telah menegaskan bahwa Joko Widodo memang benar lulusan Fakultas Kehutanan tahun 1985.[16]
Tifa dilaporkan oleh organisasi masyarakat Pemuda Patriot Nusantara bersama Relawan Jokowi ke Polres Metro Jakarta Pusat, Rabu 23 April 2025. Presiden ke-7 Joko Widodo secara resmi juga melaporkan Tifa bersama Roy Suryo, Rismon Sianipar, Rizal Fadillah kepada Polda Metro Jaya.[17][18][19]