Film ini melanjutkan kisah bukunya dengan memperluas kisah Lorax dan Ted, anak laki-laki yang sebelumnya tidak disebutkan namanya yang mengunjungi Once-ler, dan memberikan akhir yang panjang. Ide film ini digagas oleh Audrey Geisel, yang telah menjalin kerja sama dengan Meledandri melalui kolaborasi di Horton Hears a Who! (2008). Geisel menghubungi Meledandri dengan ide tersebut ketika ia meluncurkan Illumination. Film ini resmi diumumkan pada tahun 2009 dengan tim kreatif yang terlibat, dan pada tahun 2010, DeVito terpilih sebagai karakter utama. John Powell menggubah musik latar, dan juga menulis lagu-lagu film bersama Paul. Animasi ini diproduksi di Prancis oleh studio Illumination Mac Guff.
The Lorax tayang perdana secara global di Universal Studios di Hollywood pada 19 Februari 2012, dan dirilis di bioskop Amerika Serikat pada 2 Maret, dalam format IMAX, 3D dan 2D. Film ini menerima ulasan beragam dari para kritikus yang memuji animasi, musik, dan akting suaranya, tetapi mengkritik karakter dan ceritanya. Sementara itu, pemasaran film ini mendapat kecaman karena dianggap bertentangan dengan pesan asli buku. Meskipun mendapat kritik, The Lorax tetap sukses secara komersial, meraup keuntungan sebesar $351 juta di seluruh dunia dengan anggaran sebesar $70 juta.[4]
Plot
Ted (Zac Efron) diam-diam menaruh hati pada Audrey (Taylor Swift), tetapi ia tak tahu cara mengungkapkannya. Ia pun mencari cara agar bisa selalu bertemu dengan Audrey. Suatu hari, ia bersandiwara dengan sengaja membuang barang miliknya ke dalam rumah Audrey. Saat Audrey keluar, ia sudah bisa menebak kalau Ted hanya ingin bertemu dengannya. Audrey dengan berani mengajak Ted masuk kedalam rumah dan mulai membicarakan keinginannya untuk memiliki sebuah rumah pohon di pohon yang asli. Maklum saja, karena Ted dan Audrey tinggal di komplek modern yang dikelilingi oleh tembok tinggi. Semua perabotan tak ada yang asli, termasuk pohon-pohon yang diganti dengan pohon imitasi. Bagi Ted, keinginan Audrey merupakan satu tantangan yang harus diwujudkan. Dari neneknya (Betty White), Ted akhirnya mengetahui bahwa di luar komplek ada pohon yang asli. Ted nekat keluar dari komplek agar bisa mendapatkan pohon yang asli tersebut demi mewujudkan keinginan Audrey.
Ted yang sudah berada di luar komplek kini dihadapkan pada negeri yang gersang dan gelap. Ia kemudian bertemu dengan seorang lelaki yang paling bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan itu (Ed Helms). Dari lelaki yang tidak mau menampakkan wajah itu, Ted kemudian mendengar cerita yang sangat miris. Ternyata lelaki itulah yang menjadi penyebab kehancuran lingkungan akibat sifat tamak yang ia miliki. Pengaruh orang-orang dan lingkungan di sekitarnya membuatnya berlaku kejam pada semua pohon. Saat pertama kali kedatangannya di hutan, ia langsung menebang semua pohon. Penghuni hutan tidak terima, karena hal ini akan menimbulkan kemarahan The Lorax (Danny DeVito), makhluk mungil penjaga hutan. Benar saja, di langit mendadak muncul cahaya dan The Lorax kemudian muncul di hutan. Lelaki itu akhirnya diputuskan untuk disingkirkan dari hutan.
Saat lelaki itu tertidur, penghuni hutan menariknya masuk sungai, ia akan dihanyutkan. Sayangnya, salah seorang penduduk hutan ikut terbawa, dan ia akan jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. The Lorax dan penduduk hutan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan keduanya. Usaha mereka berhasil, dan untuk sementara waktu lelaki itu diizinkan tinggal di hutan asalkan ia berjanji tidak akan merusak hutan lagi. Sampai pada suatu saat, si lelaki mengingkari janjinya setelah kedatangan kekasih dan keluarganya. Tanpa perasaan semua pohon dibabatnya dan selanjutnya The Lorax kembali ke langit, sedangkan penghuni hutan pergi mencari hutan yang lain untuk ditinggali. Punahnya hutan membuat daya tarik daerah itu hilang. Kekasih dan keluarga lelaki itu pun akhirnya memilih untuk meninggalkannya seorang diri. Ia sangat menyesal, tetapi sudah terlambat. Ia pun memilih untuk menyendiri sampai usia tua mendatanginya.
Setelah bercerita, lelaki itu kemudian memberikan satu biji coklat kepada Ted agar bisa mewujudkan impian wanita yang ia cintai. Ia juga menitipkan pesan agar pohon itu dirawat supaya nantinya bisa menghasilkan pohon-pohon yang lain. Saat Ted kembali ke komplek, ia sudah dihadang oleh penjaga keamanan dan warga komplek yang menganggapnya sebagai pelanggar peraturan karena sudah berani keluar komplek. Namun beruntung neneknya dan Audrey berhasil meyakinkan penjaga dan warga akan pentingnya pohon untuk kehidupan.Mereka pun sukses menjaga pohon kehidupan oleh karna usahanya tersebut
Soundtrack untuk film ini dikomposisi oleh John Powell, dan lagu-lagunya ditulis oleh Cinco Paul.[8] Ada dua album soundtrack yang dirilis untuk film ini, yang pertama adalah musik film Powell dan yang lainnya adalah lagu-lagu asli yang ditulis oleh Powell dan Paul yang dibawakan oleh berbagai artis. Lagu asli yang ditulis untuk film ini termasuk "Thneedville", "This is the Place", "Everybody Needs a Thneed", "How Bad Can I Be?" dan "Let It Grow".
Penerimaan
Pada agregator ulasan Rotten Tomatoes, The Lorax memegang peringkat persetujuan sebesar 53% berdasarkan 155 ulasan, dengan peringkat rata-rata 5,9/10. Konsensus kritis situs tersebut berbunyi, "The Lorax karya Dr. Seuss lucu dan cukup lucu tetapi kesederhanaan moral buku itu hilang dengan nilai-nilai produksi Hollywood yang aneh."[9] Di Metacritic, film ini mencapai skor 46 dari 100 berdasarkan ulasan dari 30 kritikus, yang menunjukkan "ulasan campuran atau rata-rata".[10] Penonton yang disurvei oleh CinemaScore memberi film ini nilai rata-rata "A" pada skala A+ hingga F.[11]