The End of History and the Last Man adalah buku karya Francis Fukuyama tahun 1992 sekaligus perluasan esainya tahun 1989, "The End of History?", yang diterbitkan di jurnal kajian internasional The National Interest. Dalam buku ini, Fukuyama berpendapat bahwa kelahiran demokrasi liberalBarat mungkin menandakan akhir dari evolusi sosial-budaya umat manusia dan bentuk pemerintahan manusia paling akhir.
"Yang kita saksikan sekarang bukan saja akhir dari Perang Dingin, atau berlalunya masa-masa sejarah pascaperang, melainkan akhir dari sejarah itu sendiri, yaitu akhir dari evolusi ideologi manusia dan universalisasi demokrasi liberal Barat sebagai bentuk pemerintahan manusia paling akhir."[1]
Posisi Fukuyama bertentangan dengan posisi Karl Marx yang memperkirakan bahwa komunisme akan menggantikan kapitalisme.[2] Fukuyama sendiri sepakat dengan Marx dalam beberapa hal, tetapi ia lebih sepakat dengan filsuf Jerman Hegel setelah membaca karya-karya Alexandre Kojève. Kojève berpendapat bahwa arus sejarah harus diarahkan menuju berdirinya negara "universal dan homogen"[3] dengan unsur-unsur demokrasi liberal atau sosial; tetapi penekanan Kojeve tentang ciri "pascapolitik" suatu negara (dan warganya) membuat perbandingan seperti itu tidak cukup dan tidak bisa dianggap sebagai "kejayaan" kapitalisme.[4]
↑Strauss's term, from the Strauss-Kojeve correspondence, published in Leo Strauss, On Tyranny (University of Chicago Press, 1961)
↑Alexandre Kojeve, Introduction to the Reading of Hegel: Lectures on the Phenomenology of Spirit, (Basic Books, 1969), "Note to the Second Edition," p. 159.