Tarik adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Sidoarjo. Tarik merupakan kecamatan paling barat dari Sidoarjo dan berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto. Pusat kecamatan ini terletak di Desa Tarik yang terdapat Stasiun Tarik. Dari sektor industri, Tarik adalah lokasi perusahaan kertas besar bernama Tjiwi Kimia. Tarik dikenal sebagai lokasi "Alas Trik" yang nantinya menjadi cikal bakal Kerajaan Majapahit.[1] Tarik merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit kedua di Sidoarjo setelah Jabon, yaitu sekitar 67 ribu jiwa pada tahun 2024.[2]
Ujung barat Tarik di Desa Mliriprowo adalah lokasi percabangan Sungai Brantas menjadi dua sungai, yaitu Kali Mas ke arah utara dan Kali Porong ke arah selatan.[3] Di wilayah tersebut dibangun banyak bendungan yang mengatur debit Sungai Brantas untuk menghindari banjir serta memiliki fungsi irigasi, terdiri dari Bendung Lengkong Baru (Rolak Songo), Bendung Mlirip (Rolak Telu), dan Dam Kepajaran. Rolak Songo sendiri adalah bendungan peninggalan Belanda yang sekarang menjadi obyek wisata populer sekaligus sebagai jembatan penghubung menuju Mojokerto.[4][5]
Geografi
Peta administrasi Sidoarjo
Tarik adalah kecamatan di Kabupaten Sidoarjo yang terletak di ujung barat. Wilayah Tarik memiliki geografi berupa dataran rendah yang didominasi areal persawahan. Desa paling barat dari Tarik adalah Mliriprowo yang menjadi percabangan Sungai Brantas menjadi Kali Mas dan Kali Porong. Kali Mas mengalir ke utara menuju Kota Surabaya sedangkan Kali Porong menuju ke Porong. Kedua sungai tersebut membentuk perbatasan Sidoarjo dengan wilayah tetangga di sebelah utara dan selatan. Selain itu, di Mliriprowo juga terdapat Dam Kepajaran yang mengalirkan air dari Brantas menuju kanal irigasi besar yaitu Kanal Mangetan di utara dan Kanal Porong di selatan.[5]
Batas wilayah Kecamatan Tarik adalah sebagai berikut:[6]
Nama Tarik dikaitkan dengan sebuah hutan bernama Alas Trik yang disebutkan dalam berbagai referensi sejarah seperti Kitab Pararaton dan Prasasti Kudadu. Alas Trik dianggap sebagai cikal bakal Kerajaan Majapahit karena disinilah Raden Wijaya membuka lahan untuk pemukiman pertama kalinya.[7] Lokasi Alas Trik belum diketahui secara pasti hingga tahun 2018 ketika masyarakat menemukan sebuah situs sejarah yang tersembunyi di Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik. Situs ini berupa struktur bangunan batu bata yang diduga berupa gapura yang terkubur dan sampai sekarang penggaliannya belum selesai.[1] Selain itu, juga ditemukan banyak artefak kuno seperti tembikar, batu lesung, dan lainnya. Artefak-artefak tersebut dikumpulkan dan disimpan dalam Museum Alas Trik.[8]
Pada abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda membangun proyek besar di Sungai Brantas, tepatnya di perbatasan Sidoarjo dengan Mojokerto. Proyek tersebut berfungsi untuk mencegah banjir sekaligus untuk kepentingan irigasi bagi industri gula yang berkembang pesat di zaman itu. Salah satu proyeknya adalah Stuwdam Mlirip atau Bendung Mlirip yang dibangun tahun 1843, serta Stuwdam Lengkong atau Bendung Lengkong yang dibangun pada tahun 1857. Bendung Lengkong nantinya diperbarui menjadi Bendung Lengkong Baru atau Rolak Songo pada tahun 1970-an.[5][9] Proyek Belanda di Sungai Brantas menyebabkan perubahan aliran sungai secara signifikan. Salah satunya adalah terbelahnya wilayah Mlirip menjadi dua, yaitu Desa Mlirip yang sekarang masuk Kabupaten Mojokerto dan Desa Mliriprowo masuk Kabupaten Sidoarjo.[10]
Daftar desa dan dusun
Kecamatan Tarik terdiri dari 20 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut: