Tari Saride adalah tarian tradisional kecamatan Tomia, Kabupaten Buton yang ditampilkan untuk menunjukkan rasa syukur.[1]
Komponen tari
Penari
Tarian ini ditampilkan oleh pria dan wanita dengan jumlah seimbang, biasanya delapan atau sepuluh orang. Dalam komposisinya, para penari berkumpul dan membentuk dua kelompok yang masing-masing dipimpin oleh seorang ketua.[1]
Busana dan aksesoris
Penari pria biasanya mengenakan ketango atau baju tanpa lengan, dipadukan dengan sala adati (celana adat) sepanjang betis. Mereka juga memakai woray adati moane (sarung adat laki-laki) berwarna dasar hitam atau ungu dengan motif kotak dari benang perak atau emas. Sebagai pelengkap, digunakan teheboke (ikat pinggang) serta kampuru (daster) dengan kombinasi warna putih, merah jambu, kuning, hijau, dan biru.[1]
Penari wanita mengenakan kombo kaliku hari melangka, yaitu baju berlengan panjang dengan motif bintang berwarna putih atau emas dan berkerah tegak. Bawahan yang digunakan adalah woray adati wowine (sarung adat perempuan) berwarna dasar hitam atau ungu dengan garis lurus bertingkat dari benang perak dan emas. Rambut dihias dengan tebokke sangkula (pengikat sanggul) serta katolepanto (hiasan kepala atau kembang goyang). Selain itu, digunakan teheboke wawine (ikat pinggang perempuan), taleko adati (kalung adat), tampa adati (gelang adat), dali adati (anting-anting adat), dan samba (selendang).[1]
Musik iringan
Pementasan tari Saride diiringi lagu berpantun daerah serta musik tradisional. Alat musik pengiring yang digunakan terdiri dari seperangkat alat tabuh tradisional, yaitu dua buah gendang, satu gong sedang (tawa-tawa), satu gong besar (mbololo), tiga gong kecil (ndengu-ndengu), serta wadah kayu berpetak atau tempat khusus untuk gong kecil. Terdapat pula gantungan untuk gong besar dan kecil.[1]
Pola lantai
Terdapat beberapa pola lantai yang digunakan dalam tari Saride ini, termasuk pola haris lengkung, menyilang, segitiga, lingkaran dan garis lurus.[1]
Makna
Tari Saride merupakan tarian tradisional yang sarat makna kebersamaan dan keseimbangan dalam menyelesaikan suatu gerakan yang berkaitan dengan kepentingan bersama. Tarian ini mencerminkan nilai adat serta kehidupan para pekerja, sebagaimana pepatah masyarakat Tomia, Poasa-asa (bersatu) dan Pohamba-hamba(saling membantu).[2] Melalui Tari Saride, masyarakat menyampaikan rasa terima kasih atas terselesaikannya suatu pekerjaan dengan baik.[3]
Kegunaan
Tarian ini biasanya ditampilkan sebagai hiburan dan ungkapan rasa syukur saat pesta panen, maupun terang bulan.[2]
↑Irman, La Ode; Bake, Jamal; Wahbi, Akbar (2024). "Peran Sektor Pariwisata Dalam Penyerapan Tenaga Kerja Dan Pendapatan Masyarakat (Studi kasus pada obyek wisata Pantai Cemara Kabupaten Wakatobi)". Business UHO: Jurnal Administrasi Bisnis. 9 (1): 176–199.