Sejak kecil, Tan De Seng memang lahir dari keluarga pedagang, namun juga mencintai kesenian.[6] Selain berdagang, ayah Tan De Seng juga seorang seniman sekaligus shinse yang mahir dalam seni lukis dan juga handal dalam memainkan berbagai macam instrumenseni musik. Dari delapan bersaudara, Tan De Seng dan kakaknya, Tan De Tjeng memiliki ketertarikan dan kemahiran pada seni, seperti sang ayah.[3][7]
Pada usia 16 tahun, Tan De Seng sempat pergi ke Kota Palembang, Sumatera Selatan, di sana ia mengikuti ayahnya untuk menjadi seorang pedagang. Saat berada di Palembang, Tan De Seng banyak mendengarkan musik dari stasiun Radio Republik Indonesia, uniknya yang ia dengarkan adalah musik-musik Sunda.[1] Saat mendengarkan musik-musik dari tempat kelahirannya itu ia merasa rindu pada Bandung, sejak saat itulah Tan De Seng mulai menaruh perhatian pada dunia musik, terutama musik-musikSunda. Kecintaanya pada musik-musikSunda itu pula yang mendorongnya kembali untuk pulang ke Jawa Barat.[2][3]
Tan De Seng juga kemudian memutuskan untuk menjadi mualaf dan mengganti namanya menjadi Mohamad Deseng. Keputusan Tan De Seng untuk menjadi mualaf mungkin ada hubungannya dengan masa kecilnya yang sangat tertarik dengan keindahan suara adzan. Bahkan karena sangat tertarik dengan keindahan adzan, Tan De Seng sempat terharu saat mendengarkannya.[3][5]
Pada 1964, Tan De Seng pernah menikah dengan wanita keturunan Tionghoa-Indonesia bernama Tan Li Joe dan dianugerahi seorang putera. Namun pernikahan itu hanya bertahan hingga 1976 setelah keduanya memutuskan untuk bercerai. Setahun berselang, Tan De Seng menikahi seorang wanita bernama Nia Kurniasih dan memiliki dua orang puteri dan tiga orang cucu. Pada 2008, Tan De Seng menikah lagi dengan seorang wanita bernama Wulan, dari pernikahannya yang ketiga ini ia dikaruniai dua orang puteri bernama Fitri dan Tantri. Kedua puterinya itu juga mewarisi kemahiran musik Tan De Seng, Fitri mahir dalam bermain instrumenmusikSunda dan Tantri piawai dalam melantunkan lagu-laguSunda, khususnya dari Cianjuran.[3]
Bakat bermusik
Menurut Sam Setyautama dalam bukunya yang berjudul Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa yang terbit pada 2008 lalu,[8] Tan De Seng memang benar-benar mewarisi kemahiran bermusik ayahnya. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Tan De Seng sudah mahir bermain instrumenmusik sejak usia 5 tahun, saat itu instrumen yang dimainkannya adalah harmonika dan seruling. Kakaknya, Tan De Tjeng juga sering mengajarkan Tan De Seng bermain musik sejak belia.[3][5]
12Muhammad Husnil dan Yudi Anugrah, "Belajar Bersama Maestro", Kilasan Setahun Kinerja Kemendikbud November 2014-2015 (Jakarta: Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan Kemendikbud RI, 2015) hal. 61
↑Wang, Huang Zhi. "Tan Deseng: Maestro Kesenian Sunda". web.budaya-tionghoa.net (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari asli tanggal 2019-04-10. Diakses tanggal 2019-04-10.