Taman Bungkul adalah taman wisata kota dan ruang terbuka hijau yang terletak di pusat kota Surabaya, Jawa Timur, tepatnya di Jalan Raya Darmo. Taman yang diresmikan pada 21 Maret 2007, ini berdiri di area seluas 900 meter persegi. Letaknya yang berada di jantung kota membuat taman ini tidak hanya berfungsi sebagai lahan hijau saja, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang populer di Surabaya.[1]
Latar belakang
Makam Mbah Bungkul
Nama Taman Bungkul diambil dari nama seorang tokoh yang berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di wilayah Surabaya dan sekitarnya, Ki Ageng Supo yang kemudian mendapat gelar Sunan Bungkul. Tokoh yang kerap disebut Mbah Bungkul ini merupakan seorang ulama di Kerajaan Majapahit (abad XV) dan saudara ipar Raden Rahmat atau Sunan Ampel.[2] Makamnya terletak di belakang taman dan sekaligus menjadi tempat wisata religi bagi para peziarah.
Fasilitas
Sejak diresmikan pada 2007, Taman Bungkul telah berkembang semakin pesat. Taman ini memiliki sejumlah sarana penunjang, antar lain amfiteater berdiameter 33 meter, lajur lari laun, lahan papan luncur, taman bermain anak-anak, telepon umum, area hijau dengan kolam air mancur, taman bermain anak-anak, hingga pujasera.[1]
Penghargaan
Taman Bungkul meraih penghargaan The 2013 Asian Townscape Award dari Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai Taman Terbaik se-Asia pada tahun 2013.[3] Penghargaan inilah yang kemudian membawa nama Taman Bungkul hingga dikenal di kancah dunia.
Insiden
Tanaman di Taman Bungkul yang rusak karena insiden 11 Mei
Pada 11 Mei2014, perusahaanes krimWall's yang berada di bawah naungan Unilever Indonesia mengadakan acara bagi-bagi es krim gratis kepada masyarakat Kota Surabaya. Acara ini diadakan tepat di area hijau Taman Bungkul. Warga kemudian berbondong-bondong mendekati titik pembagian es krim, sehingga merusak tanaman-tanaman di taman tersebut. Kondisi semakin tidak terkendali, jalanan semakin macet, dan tanaman rusak parah. Polisi kemudian membubarkan acara itu sekitar pukul 10.00 WIB.
Tak lama kemudian, Wali kota Surabaya Tri Rismaharini datang ke lokasi. Ia lalu marah besar begitu melihat kondisi tanaman di Taman Bungkul. Begitu datang ia berkomentar semua tanaman rusak. Tanpa basa-basi, ia langsung menghampiri dan memperingatkan panitia penyelenggara acara. Ia kemudian meminta stafnya di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya melaporkan penyelenggara acara ke jalur hukum. Ia meminta stafnya menggunakan undang-undang (UU) pengrusakan lingkungan sebagai dasar laporan.[4]
PT. Unilever Indonesia, Tbk. selaku penyelenggara menyatakan siap bertanggung jawab dan menanggung semua biaya kerugian yang dialami pemkot Surabaya. Insiden kerusakan taman akibat membludaknya jumlah warga yang datang merupakan kejadian yang tidak diprediksi oleh penyelenggara.
Area Sales Manajer Jawa Timur PT. Unilever Indonesia Tbk, Dion Aji Setiawan tidak menyangka antusiasme warga Surabaya untuk mendapatkan es krim gratis sangat tinggi. Panitia penyelenggara hanya menyiapkan sebanyak 10.000 buah, tetapi pengunjung yang datang mencapai 70.000 orang. Ia mengaku akan segera menemui Wali Kota untuk meminta maaf dan memerbaiki kerusakan pada taman.[5]