Nama nagari Tabek Patah berasal dari dua kata dalam bahasa Minangkabau yaitu tabek dan patah. Tabek merujuk pada permukaan air kecil berupa kolam atau empang yang biasanya terbentuk secara alami dan patah merujuk pada keadaan patah atau terpotong. Masyarakat sekitar memggunakan tabek sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk irigasi pertanian. Tabek dikelilingi oleh perbukitan kecil yang disebut Puncak Pela. Bukit-bukit yang mengelilingi tabek atau kolam ini berbentuk tiang-tiang yang tinggi.[1][2]
Dalam memori kolektif masyarakat nagari, pernah terjadi bencana alam yang membuat bukit Puncak Pela runtuh atau terban dan menimpa tabek yang membuat tabek terbelah menjadi dua. Bagian tabek pertama banyak ditumbuhi oleh tanaman pakis (Polypodiophyta) sehingga disebut sebagai Tabek Pakih. Sisa keduanya diberi nama Talago Aia Taganang (secara harafiah berarti telaga air tergenang) karena meski pun di musim kemarau, telaga ini tetap memiliki air melimpah. Berdasarkan fenomena alam tadi, anak nagari menamakan kampung halaman mereka dengan nama Tabek Patah.[1][2]
Panorama Nagari Tabek Patah direkam sekitar tahun 1939Panorama pedesaan dan persawahan masyarakat Minangkabau di Nagari Tabek Patah, direkam pada tahun 1939
Geografi
Nagari Tabek Patah memiliki luas wilayah ± 920 Ha dan berada di ketinggian 1090 Mdpl.Sebagian besar wilayah dipakai untuk lahan pertanian dan sebagian lagi dipakai untuk pemukiman, hutan pinus, hutan hujan tropis, serta fasilitas umum lainnya.[3]
Tabek Patah terletak cukup strategis berjarak 99 Km dengan jarak tempuh ± 2 jam 45 menit dari Bandara Internasional Minangkabau.Akses jalan pun sangat memadai karena desa ini dilalui oleh jalan raya lintas Kabupaten/Kota.Desa Tabek Patah terbagi menjadi empat Jorong, yaitu Jorong Data, Jorong Koto, Jorong Tabek Patah, dan Jorong Koto Alam serta masing-masing Jorong ini memilki keunikannya sendiri.
Situasi jalan di Nagari Tabek Patah tahun 1939 ketika masyarakat masih menggunakan bendi (kereta kuda) sebagai moda transportasi darat utama.
Wilayah Administratif
Jorong
Nagari Tabek Patah terdiri dari empat jorong, yaitu:
Jorong Tabek Patah,
Jorong Koto,
Jorong Data, dan
Jorong Koto Alam.
Batas Wilayah
Nagari ini berbatasan dengan beberapa nagari yaitu
Nagari Tabek Patah memiliki potensi yang cukup besar terutama di sektor pariwisata karena memadukan kekayaan alam pegunungan, budaya Minangkabau, pertanian dataran tinggi, serta posisi geografis yang strategis di jalur transportasi darat yang menghubungkan Tanah Datar dengan Bukittinggi, Agam, Payakumbuh, dan Lima Puluh Kota.
Nagari Tabek Patah berada di kawasan berhawa sejuk dengan panorama perbukitan dan lembah khas Minangkabau. Potensi ini dapat dikembangkan menjadi wisata panorama dan spot fotografi alam; racking dan hiking ringan; camping ground dan wisata keluarga; dan wisata sunrise/sunset berbasis perbukitan. Nagari ini menawarkan tempat-tempat menarik seperti situs Panorama Tabek Patah, Pucak Batu Dindiang yang memiliki view 360 derajat yang tidak dimiliki oleh desa lainnya, dan telaga kembar (Tabek Pakih dan Talago Aia Taganang) yang masih asri serta penuh sejarah.
Keasrian lingkungan dan suasana pedesaan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang mencari ketenangan dan pengalaman rural tourism. Desa Wisata Tabek Patah mengembangkan konsep wisata alam dan wisata edukasi. Wisatawan tak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga mendapatkan pengetahuan, sehingga pengalaman berwisata semakin menyenangkan.