Biografi
Namnansüren, yang konon dapat menelusuri garis keturunannya langsung hingga Jenghis Khan, lahir pada tahun 1878 di wilayah yang kini merupakan distrik Uyanga, Provinsi Övörkhangai. Pada tahun 1896, ia menjadi pangeran, atau 'khan', dari Provinsi Sain Noyon Khan, salah satu dari empat provinsi Khalkha Mongol yang dibentuk oleh Dinasti Qing. Ia menikah pada tahun 1900.
Pada tahun 1911, Namnansüren membujuk pemimpin agama Mongolia, Bogd Khan, untuk mengadakan kongres para pangeran Mongol dan lama berpangkat tinggi di Khüree guna memulai gerakan kemerdekaan dari Tiongkok. Bogd Khan kemudian mengutusnya ke Saint Petersburg pada Juli 1911 sebagai bagian dari delegasi untuk mencari dukungan dari Rusia dan negara-negara Eropa Barat bagi kemerdekaan Mongolia.[3]
Bogd Khan mengangkat Namnansüren sebagai perdana menteri pada Juli 1912, menggantikan Da Lam Tserenchimed yang, sebagai Menteri Urusan Dalam Negeri, telah bertindak sebagai kepala pemerintahan de facto sejak pengangkatan Bogd Khan sebagai pemimpin nasional pada Desember 1911.[4]
Dari November 1913 hingga Januari 1914, Namnansüren memimpin delegasi lain ke St. Petersburg, kali ini untuk mewakili kepentingan Mongolia dalam negosiasi antara Rusia dan Tiongkok terkait perjanjian tripartit Kyakhta yang akan menetapkan perbatasan antara Siberia Rusia dan wilayah Qing di Mongolia serta Manchuria. Harapan Mongolia untuk memperoleh pengakuan internasional atas kemerdekaannya serta dukungan bagi penyatuan Mongolia Dalam dan Mongolia Luar akhirnya pupus ketika perjanjian tersebut kembali menegaskan status resmi negara itu sebagai wilayah otonom dalam kekuasaan Tiongkok.[5]
Selama berada di Rusia, Namnansüren berusaha menghubungi duta besar dari beberapa negara Barat (Amerika Serikat, Britania Raya, Prancis, dan Jerman) dan merencanakan perjalanan ke Eropa Barat guna memperoleh dukungan internasional bagi kemerdekaan Mongolia, namun upaya ini dihalangi oleh pejabat Rusia.[6]
Setelah gagal mencapai tujuan-tujuannya, Namnansüren mendapati pengaruh politiknya menurun ketika kembali ke Mongolia pada tahun 1914.[7] Pada tahun 1915, Bogd Khan menghapuskan jabatan perdana menteri dan mengangkat Namnansüren sebagai menteri perang. Pada Juni 1918, menghadapi meningkatnya ancaman dari Tiongkok yang menuntut Mongolia meninggalkan cita-cita Pan-Mongolia dan menandatangani dekret untuk ‘secara sukarela’ melepaskan otonomi, Namnansüren kembali melakukan perjalanan ke Rusia, kali ini ke Irkutsk, untuk mencari bantuan dari pihak Rusia. Di sana ia bertemu dengan dua perwakilan Bolshevik dalam pertemuan yang diyakini sebagai kontak pertama antara pejabat Soviet dan Mongolia Luar. Namun, kaum Bolshevik yang saat itu tengah disibukkan oleh revolusi dan perang saudara di Rusia tidak dapat memberikan bantuan yang berarti.
Tak lama setelah kembali ke tanah air, Namnansüren jatuh sakit parah dan meninggal sekitar bulan April 1919. Banyak yang menduga ia dibunuh dengan racun, bersama beberapa tokoh lain yang terlibat dalam kebangkitan kemerdekaan Mongolia dan tampaknya juga meninggal secara tidak wajar. Tidak lama kemudian, panglima perang Tiongkok Xu Shuzheng menduduki Niislel Khüree dan mengangkat Gonchigjalzangiin Badamdorj yang lebih mudah dikendalikan sebagai perdana menteri.[8]