Desa Susut merupakan daerah dataran tinggi, terletak 4km arah Selatan dari kota kecamatan Susut dan 10km arah barat Kota Bangli, dengan luas wilayah 4,83km², dengan sebagian besar lahan digunakan untuk kegiatan pertanian, yakni seluas 216 ha (45%).
Pada umumnya asal-usul atau riwayat yang panjang mengakibatkan asal-usul tersebut dianggap suatu cerita legenda saja. Terlepas dari itu anggapan tersebut mengenai keberadaan Desa Susut berdasarkan masukan dari pemuka masyarakat setempat dapat diuraikan sebagai berikut:
Sebelum Kolonial Belanda menjajah Nusantara, Pulau Bali diperintah oleh para Raja. Pada umumnya para raja tersebut selalu ingin meluaskan pengarunya terhadap daerah kerajaan tetangganya, usaha memperluas pengaruh ini selalu berakhir dengan peperangan. Konon pada masa itu, daerah Bangli diperintah oleh seorang raja Ksatria keturunan Tirta harum, Taman Bali, seorang dari Putra Puri Nyalyan. Raja Puri Nyalyan ini berputra tujuh orang yang putra bungsunya bernama I Dewa Gede Korian. Di Puri Tusan I Dewa Gede Korian dinobatkan menjadi raja dan berputra dua orang yaitu I Dewa Gede Sekar dan I Dewa Gede Siangan. I Dewa Gede Sekar inilah cikal bakal Raja yang memerintah di Puri Susut. Karena I Dewa Gede Sekar membuat suatu kesalahan di Puri Tusan/Klungkung maka dia diasingkan ke pulau Nusa Penida. Dalam pengasingan ini dia membawa seorang putra yang bernama I Dewa Putu Sekar. Mereka tinggal di pulau Nusa Penida cukup lama hingga putranya I Dewa Putu Sekar juga telah berputra dua orang kembali ke pulau Bali dan menetap di Desa Jelijih /Tabanan. Kedua putranya itu bernama I Dewa Gede Dauh dan I Dewa Gede Dangin.
Kedua Putranya itu tetap tinggal di Jelijih. Sedangkan I Dewa Putu Sekar melanjutkan perjalanannya ke Puri Bangli untuk mengabdi kepada Raja Bangli. Pada saat itu terjadi pertentangan antara kerajaan Bangli dengan Gianyar dengan buntut Peperangan. Dalam pertempuran ini I Dewa Putu Sekar ditugaskan memimpin pasukan kerajaan Bangli ditepi barat yang kini disebut Susut. Dari rangkaian cerita tersebut dapat diartikan bahwa Susut adalah tanggu atau benteng pertahanan paling depan. Sedangkan perbatasan dengan daerah Gianyar adalah Selat Peken, Selat Tengah, dan Selat Kaja Kauh. Pada saat Belanda menguasai Bali daerah-daerah rampasan perang dari kerajaan Gianyar diserahkan kembali kepada Gianyar oleh Belanda. Sedangkan Daerah Susut, Selat Peken, Selat Tengah dan Selat Kaja Kauh diserahkan kepada I Dewa Putu Sekar. Mulai saat itu secara turun temurun daerah Susut diperintah oleh I Dewa Putu Sekar dan berakhir pada saat Indonesia merdeka. Pada masa kemerdekaan pengaturan pemerintah kerajaan Susut dijadikan wilayah pedesaan yang diperintah oleh seorang Kepala Desa/ Perbekel sampai saat ini.
Pemerintahan
Pembagian Dusun/Banjar
Desa Susut merupakan salah satu Desa di Kecamatan Susut, dengan Luas wilayah desa Susut adalah 4,83km2, dengan jumlah penduduk per 31 Desember 2013 sebanyak: 5.873 jiwa terdiri dari: 3.014 jiwa Laki-laki dan 2.859 jiwa perempuan, dengan Kepala Keluarga sebanyak : 1.672 KK. Dengan Agama / Kepercayaan yang dianut adalah Agama Hindu, dengan lokasi pemukimannya tersebar di 7 Wilayah Br.Dinas Definitif dan 2 Br. Dinas Persiapan dan 8 Desa Pakraman, yaitu:
Banjar Dinas Pukuh
Banjar Dinas Penatahan
Banjar Dinas Juwukbali
Banjar Dinas Manuk
Banjar Dinas Tangkas
Banjar Dinas Susut Kaja
Banjar Dinas Susut Kelod
Banjar Dinas Persiapan Penglumbaran
Banjar Dinas Persiapan Lebah
Di Desa Susut juga terbagi dalam 8 Desa Pekraman yaitu:
Desa Pekraman Pukuh
Desa Pekraman Penatahan
Desa Pekraman Lebah
Desa Pakraman Juwukbali
Desa Pakraman Manuk
Desa Pakraman Tangkas
Desa Pakraman Susut Kaja
Desa Pakraman Susut Kelod.
Organisasi Pemerintahan
Pemerintahan Desa mengacu pada Perda Kabupaten Bangli Nomor 09 tahun 2001 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Pemerintahan Desa adalah sebagai berikut:
Perbekel Desa Susut: ANAK AGUNG KETUT ANGGRADIGUNA
Sekretaris Desa: I NENGAH WARSA
Kaur Pemerintahan: A.A.MADE KARTIKA
Kaur Pembangunan: I KOMANG SUARJITA
Kaur Keuangan: I WAYAN GEDE WIDIASA
Kaur Umum: NI NYOMAN MARNI
Kaur Kesra: A.A.AYU ASTITI UTAMI DEWI
Kelian Br.Dinas Pukuh: I KETUT DARSANA
Kelian Br.Dinas Penatahan: SANG NYOMAN SUARDANA
Kelian Br. Dinas Juwukbali: I WAYAN YUDIANA
Kelian Br. Dinas Manuk: I NYOMAN RESTEN
Kelian Br. Dinas Tangkas: I KETUT KIENG
Kelian Br. Dinas Susut Kaja: I WAYAN NAWA
Kelian Br. Dinas Susut Kelod: I WAYAN DIARA
Kelian Br.Dinas Pers.Penglumbaran: I KETUT MUPU
Kelian Br.Dinas Pers. Lebah: I KETUT SUSILA
Ekonomi
Struktur perekonomian desa Susut didominasi oleh sektor pertanian. Hal ini terlihat dari persentase penggunaan lahan untuk usaha pertanian, yakni sebesar 50%, dengan sebagian besar penduduk menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Sekitar 1030 jiwa atau 0,17% penduduk menggantungkan hidup dari sektor ini. Pertanian sawah menjadi kegiatan usaha utama bagi masyarakat desa, dengan produk unggulan berupa padi dan palawija.
Masyarakat juga menggantungkan hidup dari sektor peternakan, dengan jenis ternak peliharaan seperti sapi, babi, unggas dll. Sistem peternakan yang dilakukan masyarakat masih bersifat tradisional, karena usaha ini diposisikan sebagai usaha sambilan dan hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging keluarga. Selain itu, ekonomi desa juga digerakkan oleh sektor perdagangan dan industri kecil/rumah tangga.
Mata pencaharian penduduk Desa Susut adalah sbb:
Petani: 1.030 jiwa
Pegawai swasta: 559 jiwa
Buruh Tani: 110 Jiwa
PNS dan TNI – POLRI: 675 jiwa
Peternak: 150 Jiwa
Pedagang: 51 jiwa
Tukang/Buruh Bangunan: 677 jiwa
Pensiunan: 55 jiwa
Perajin: 70 jiwa
Lainnya: 1.496 jiwa
Demografi
Penduduk desa Susut sampai dengan tahun 2015 terdiri dari 3.142 laki-laki dan 3.047 perempuan dengan sex ratio 103 serta terdiri dari 1.746 Kepala Keluarga.[4] Sebagian besar penduduk Susut hanya tamatan SD.