Pondok pesantren ini berakar dari didirikannya SurauBatuhampar oleh Syekh Abdurrahman gelar Baliau Batuhampar pada pertengahan abad ke-19. Halakah pengajian Syekh Abdurrahman memperoleh sambutan luas dari masyarakat sehingga pendatang dari berbagai daerah menetap di Batuhampar untuk belajar kepada Syekh Abdurrahman. Melihat banyaknya perantau di Batuhampar, Syekh Abdurrahman membentuk sebuah kompleks yang ditujukan sebagai tempat tinggal para anak siak dari luar Batuhampar. Kompleks tersebut kemudian dikenal sebagai Kampung Dagang.[1]
Pada 1928, Syekh Muhammad Arifin Arsyadi yang merupakan tokoh Persatuan Tarbiyah Islamiyah mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Batuhampar selain mengurus Surau Batuhampar. Pada 1943, Syekh Dhamrah Arsyadi mendirikan Pondok Pesantren Al-Manaar di kompleks Kampung Dagang dengan tetap mempertahankan bahan ajar dari pengajian terdahulu. Setelah kepemimpinan Syekh Dhamrah, pengasuh Surau Batuhampar juga bertindak sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Manaar.[1][2]
Pengurus Surau Batuhampar yang kini menjadi Pondok Pesantren Al-Manaar sejak wafatnya Syekh Abdurrahman ialah sebagai berikut.[1][3]
Jenjang pendidikan di Al-Manaar terbagi atas tingkat tsanawiyah dan aliyah. Kurikulum yang diajarkan merupakan perpaduan antara kurikulum pesantren dengan kurikulum madrasah dari Kementerian Agama yang memuat mata pelajaran umum.[4]
↑Arsyadi, Dhamrah (1992). Sejarah Ringkas Pondok Pesantren Al Manaar kepada Departemen Agama Kabupaten 50 Kota. Batuhampar: Pondok Pesantren Al-Manaar.