Surat-surat tersebut bersifat anonim, tetapi sejak akhir abad kedua, ketika Irenaeus merujuk pada kedua surat pertama, tulisan-tulisan tersebut telah dikaitkan dengan Yohanes, anak Zebedeus, yang menurut kitab-kitab Injil merupakan salah satu dari dua belas murid dan bagian dari lingkaran terdekat Yesus.[2] Surat ketiga mulai disebutkan sejak pertengahan abad ketiga, dan karena kemiripannya dengan Surat Yohanes yang Kedua (misalnya keduanya ditulis oleh seseorang yang disebut sebagai sang penatua), surat tersebut disertakan bersama kedua surat lainnya, membentuk kumpulan yang dikenal sebagai surat-surat Yohanes.[2]Surat paskah Athanasius tahun 367 adalah catatan tertua yang menunjukkan bahwa ketiga surat tersebut diakui sebagai suratam.[2][3] Meskipun surat kedua dan ketiga tampak seperti surat asli, surat pertama tidak memiliki bagian pendahuluan maupun penutup, sehingga lebih menyerupai tulisan nasihat atau sebuah khotbah.
Sebagian besar pakar berasumsi bahwa surat-surat tersebut ditulis secara bersamaan dan setelah Injil Yohanes, dengan penanggalan antara tahun 85 hingga 100 M.[4] Sebagian besarpakar setuju bahwa ketiga surat tersebut ditulis oleh penulis yang sama, meskipun masih terdapat perdebatan mengenai siapa sebenarnya penulis tersebut.[5][6][7] Gagasan mengenai adanya komunitas Yohanes kini semakin banyak dipertanyakan, dan tidak ada konsensus di antara para pakar saat ini.[8][9] Sebuah teori yang populer menyatakan bahwa surat-surat tersebut ditulis oleh seorang presbiter, yang disebut sebagai Yohanes sang Presbiter, yang namanya disebutkan oleh Papias.[10]
Surat tersebut tak seperti dua surat lainnya yang lebih ditulis sebagai sebuah kotbah, surat yang satu ini membantu memperkuat keimanan orang-orang terhadap Yesus, untuk membantu mereka mengetahui kepada Putra Allah menjalani hidup fana dan disiksa mati.[11]
Surat tersebut ditulis sebagai sebuah surat pendek dari Rasul tersebut kepada seorang "wanita terpilih" tak bernama ia ia cintai dan anaknya.[12] Pada surat tersebut, Yohanes memperingatkan tentang membuka rumah kepada guru-guru palsu dan untuk selalu mempraktikan kebenaran dan menghindari kesalahan.
Halaman pertama Surat Yohanes yang Pertama, pada Codex Harleianus 5537 (Minuscule 104 dalam penomoran Gregory-Aland), tahun 1087.
Surat ketiga, yang juga merupakan sebuah surat pendek, dialamatkan kepada seorang pria yang bernama Gayus dan menyebutnya "teman baik". Surat tersebut mengisahkan tentang seorang pria yang bernama Diotrefes yang oleh Gayus diekskomunikasikan dari gereja dan pergi untuk membuat sebuah sentimen anti-misionaris dengan tujuan berusaha menghentikan gereja untuk menyebarkan para misionaris. Surat tersebut dipercaya dikirim oleh orang ketiga, Demetrius.