Daerah aliran sungai Ayung mencakup luas 109,30km².[4] dengan anak-anak sungainya mencapai 300,84km² (sekitar 30.000 ha). Sungai Ayung yang panjangnya sekitar 68,5km ini mengalir dari sumbernya di dekat Kintamani menyusuri sebelah selatan pegunungan yang membatasi Bali utara dan Bali selatan serta berhilir di Pantai Padanggalak.[1]
Secara umum DAS Ayung dapat dibagi menjadi tiga daerah:[1]
Daerah hulu: mulai dari daerah Penikit di Kecamatan Petang ke utara sampai dengan daerah Kintamani yang dibatasi oleh jalan Kintamani-Singaraja, dan Pelaga Kecamatan Petang yang dibatasi oleh punggung perbukitan hutan Puncak Mangu. Daerah bagian hulu DAS Ayung terletak pada topografi miring sampai sangat curam.
Daerah bagian tengah: mulai dari daerah Penikit di Kecamatan Petang ke selatan sampai di Abiansemal. Daerah bagian tengah ini terletak pada topografi datar sampai bergelombang.
Daerah bagian hilir: mulai dari Abiansemal ke selatan Peguyangan, Tonja, Kesiman sampai muara sungai Ayung di pantai Padanggalak, Kecamatan Denpasar Timur hampir seluruhnya memiliki topografi datar.
Tingkat erosi di wilayah DAS Ayung berkisar dari sangat ringan sampai sangat berat, erosi sangat ringan terdapat pada penggunaan lahan sawah yang tersebar di bagian tengah dan hilir DAS, yaitu mulai dari Kecamatan Petang bagian selatan, Kecamatan Abiansemal, Kecamatan Denpasar Utara dan Kecamatan Denpasar Timur. Tingkat erosi ringan pada lahan sawah disebabkan oleh lerengnya yang datar, vegetasinya rapat dan telah diterapkan teknik konservasi tanah dan air seperti teras bangku dengan konstruksi baik.[1]
Persawahan di tepi Sungai Ayung dekat Kadewatan, Gianyar (2005)
Geografi
Wilayah DAS Ayung mempunyai suhu tahunan rata-rata antara 18,4°C-26,6°C yang dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Curah hujan tahunan di hulu DAS Ayung cukup besar, berkisar antara 1963–3242mm. Semakin kehilir, curah hujan dan hari hujannya semakin berkurang. Di wilayah tengah curah hujannya berkisar antara 1998–3176mm dengan hari hujan berkisar antara 105 hari-128 hari. Di wilayah hilir yaitu disekitar kota Denpasar, curah hujannya tergolong agak rendah, yaitu sekitar 1486mm dan hari hujannya 69 hari.[1][5]
Berdasarkan perhitungan diperoleh kemiringan rata-rata DAS Ayung sebesar 13,13%, nilai ini berarti wilayah ini cukup miring. Melihat topografi wilayah DAS, daerah ini terdiri dari dua topografi yaitu topografi bergunung dan datar. Nilai dari pegunungan dan datar menunjukkan daerah pegunungan cukup terjal dengan penurunan nilai yang cukup drastis.[1]
Berdasarkan catatan debit yang diukur di Stasiun Pencatat Debit Buangga antara 1973 - 1986 dapat diketahui bahwa tinggi permukaan air sungai berkisar antara 0,55 - 0,88m, dengan debit air berkisar antara 6,6 - 14,2 m³/detik dengan debit rataan 8,69 m³/detik.[1]
Kadar sedimentasi (lumpur) dari hasil pengukuran di Buangga, kadar endapan tertinggi 544,4 ton/hari dan yang terendah sebesar 2,8 ton/hari. Hasil perhitungan dengan metode SCS-USDA sebesar 91.393,127 ton/tahun.[1]
Tata guna lahan dan tata ruang
Penggunaan lahan yang dominan di DAS Ayung adalah tegalan, sawah, semak belukar, perkebunan, dan hutan.[1]
Secara visual kondisi panorama kiri kanan sungai Ayung dibagian hulu masih alami, terutama dari daerah Petang sampai Carangsari. Hal ini karena kondisi sungainya yang curam dan dalam sehingga susah dijamah manusia. Oleh karena itu, menelusuri sungai Ayung dengan baik hanya dapat dilakukan dengan menggunakan fasilitas arung jeram.[1]