Sun Deng (209 – Mei atau Juni 241), nama kehormatanZigao adalah seorang pangeran Dong Wu pada masa Zaman Tiga Negara di Tiongkok. Ia merupakan putra sulung dari Sun Quan, kaisar pendiri Dong Wu dan ia merupakan putra mahkotanya dari 229 sampai meninggal pada 241.
Masa muda
Sun Deng adalah putra sulung dari Sun Quan,[2] kaisar pendiri Dong Wu. Ibunya berlatar belakang rendah dan ia dibesarkan oleh Nyonya Xu, istri kedua Sun Quan.
Ketika Cao Pi, kaisar Cao Wei, mengangkat Sun Quan sebagai Raja Wu pada 221, ia mengangkat Sun Deng sebagai seorang marquis dengan wilayah kekuasaan sebesar 10,000 rumah tangga (万户侯code: zh is deprecated ) dan menawarkannya posisi Jenderal Rumah Tangga Timur (東中郎將). Namun, Sun Deng menolak gelar dan jabatan, beralasan bahwa ia sedang sakit.[3] Saat yang sama, Sun Quan menunjuknya sebagai Pangeran Mahkota.[4] Ketika Cao Pi memerintahkan Sun Quan untuk mengirim Sun Deng ke Luoyang sebagai sandera untuk memastikan kesetiaan Sun Quan, Sun Quan menolak dan memerdekakan diri.
Kehidupan
Sun Deng dikenal dermawan dan bijaksana, memiliki semua kualitas menjadi seorang pria teladan. Sun Quan memilih Zhuge Ke, Gu Tan, Zhang Xiu, Chen Biao[5] dan beberapa tokoh lain untuk menjadi guru dan pelayannya, mengajarkan Sun Deng sastra dan puisi serta menemaninya berburu. Sun Deng memperlakukan bawahannya dengan hormat. Sun Deng menyapa bawahannya dengan panggilan yang biasa digunakan oleh orang awam, mempersilakan bawahannya untuk naik kuda bersama dan bahkan tidur di ranjang yang sama.[6] Kantor Pangeran Mahkota Wu pada saat itu dipenuhi oleh orang-orang berbakat, paling banyak di Tiongkok pada saat itu.[7]
Sun Deng menunjukkan sopan santun yang tinggi kepada ayah dan ibu angkatnya,[8] walaupun Nyonya Xu sudah bercerai dengan Sun Quan pada 212. Di usia 20, Sun Quan memerintahnya untuk mempelajari Kitab Han supaya dapat mengerti mengenai kondisi saat itu. Sun Quan bahkan meminta Zhang Zhao untuk menjadi guru Sun Deng dan meminta putranya Zhang Xiu untuk mendengarkan wejangan ayahnya sebelum pergi ke kediaman Sun Deng untuk mengajarnya.
Pada 229 (Huanglong 1), Sun Quan mendeklarasikan dirinya sebagai kaisar dan mendirikan Dong Wu. Ia menunjuk Sun Deng sebagai pangeran mahkota. Ia kemudian juga menunjuk beberapa orang dekat Sun Deng ke jabatan tinggi. Zhuge Ke diangkat menjadi Asisten Komandan Kiri, Zhang Xiu sebagai Asisten Komandan Kanan, Gu Tan sebagai Asisten Komandan dan Chen Biao sebagai Asisten Komandan Sayap. Keempat tokoh tersebut dijuluki "Empat Sekawan".
Ketika ia mau ditunjuk sebagai pangeran mahkota, Sun Deng pernah berdebat dengan ayahnya mengenai pilihan permaisuri. Sun Quan ingin menunjuk Bu Lianshi sebagai permaisurinya. Namun Sun Deng menolak dengan alasan bahwa apabila Sun Quan ingin menunjuknya sebagai putra mahkota, ia harus menunjuk ibu angkatnya, Nyonya Xu sebagai permaisuri terlebih dahulu. Meskipun Bu Lianshi memperlakukan Sun Deng dengan baik, Sun Deng masih menghormati Nyonya Xu. Pada akhirnya, Sun Quan tidak memilih seorang istrinya menjadi permaisuri.
Pada tahun yang sama, Sun Quan memindahkan ibukotanya dari Wuchang (武昌code: zh is deprecated ; di Ezhou, Hubei) ke Jianye, Sun Quan meninggalkan Sun Deng dan saudara-saudaranya di Wuchang. Sun Deng ditugaskan untuk memerintah bagian barat Wu. Sun Quan memerintah Lu Xun dan Shi Yi untuk membantu dalam tugasnya. Sun Deng menduduki jabatannya sampai dengan tahun 232 (Jiahe 1), ketika adiknya Sun Lü meninggal dunia. Sun Lü merupakan anak kesayangan Sun Quan dan ketika ia meninggal, Sun Quan mengurangi porsi makanannya dan menjadi sangat sedih. Sun Deng pergi ke Jianye untuk menghibur ayahnya, memintanya jangan bersedih demi negara.[9] Sun Quan kemudian menaikkan porsi makannya. Sepuluh hari kemudian, Sun Quan ingin memerintahkan Sun Deng untuk kembali ke Wuchang namun Sun Deng yang khawatir akan kondisi ayahnya memintanya untuk menemaninya di Jianye. Sun Quan meluluh dan mempersilakan Sun Deng untuk tetap disisinya.
Pada 234, Sun Quan memimpin serangan melawan Cao Wei di Hefei. Ia meninggalkan Sun Deng di garis belakang pertempuran untuk memerintah atas namanya. Saat itu, Wu mengalami panen yang tidak bagus dan tingkat kriminalitas yang meningkat. Sun Deng kemudian atas nama ayahnya mengeluarkan beberapa undang-undang untuk menghadapi masalah tersebut. Undang-undang tersebut memberikan hasil yang baik.
Namun, Sun Deng tidak dapat meneruskan ayahnya. Ia meninggal dunia pada 241 dengan usia 33 tahun (menurut penghitungan usia Asia Timur) karena jatuh sakit.[10] Sebelum meninggal dunia, Sun Deng menulis beberapa petisi kepada ayahnya dan pemerintah Wu, memberikan usulan bagaimana cara untuk memperkuat dan memakmurkan negara, serta meninggalkan nama beberapa pejabat andal supaya Sun Quan dapat menunjuk mereka dan memajukan negara. Sun Quan sedih mendengar kabar wafat Sun Deng. Ketika ia membaca surat sang anak, Sun Quan menjadi semakin sedih dan setiap kali ia berbicara tentang Sun Deng, air matanya berlinang dan ia menangis mendengar nama Sun Deng.[11] Sun Deng awalnya dikuburkan di Jurong, Jiangsu sebelum dipindahkan ke Mausoleum Jiang di Gunung Ungu di Jiangsu. Ia diberi nama anumertaPangeran Mahkota Xuan. Kematian Sun Deng menyebabkan sengketa taktha yang sangat hebat di antara dua adik Sun Quan, Sun He dan Sun Ba.
↑This date was also the date whereby Sun Quan crowned himself emperor (bingshen day of the 4th month of the 1st year of the Huang'long era). Previously, when Sun Quan was King of Wu, Sun Deng was also his crown prince; Sun Quan first became King of Wu on 23 September 221 (dingsi day of the 8th month of the 2nd year of Cao Pi's reign, per vol.69 of Zizhi Tongjian).
↑Sun Quan's biography in the Sanguozhi recorded that Sun Deng died in the 5th month of the 4th year of the Chiwu era of Sun Quan's reign.[1] This month corresponds to 28 May to 25 June 241 in the Gregorian calendar.
Referensi
↑([赤烏四年]五月,太子登卒。code: zh is deprecated ) Sanguozhi vol. 47.