Desa Sumber Sari memiliki luas wilayah 217 ha. Sebagian besar wilayahnya terdiri dari perkebunan. Desa Sumber Sari berada pada jarak lebih kurang 5km dari ibu kota kecamatan. Batas wilayahnya yaitu:
Sebelah Utara: Desa Bukit Sari
Selatan Selatan: Desa Mekar Sari
Sebelah Barat: Kawasan Bukit Kaba
Sebelah Timur: Desa Suka Sari
Demografi
Desa Sumber Sari memiliki kurang lebih 272 kepala kelurga dengan golongan ekonomi menengah ke bawah, mayoritas masyarakat Desa Sumber Sari bekerja sebagai petani dengan jumlah 618 jiwa, selebihnya pedagang, PNS, Polisi dan pertukangan. Terdapat beberapa organisasi yang dijalankan di desa Sumber Sari yaitu RISMA Masjid Baiturrahim, karang taruna dan PKK. TPA dilaksanakan dilaksanakan setiap hari kecuali hari minggu, tetapi remaja masjid sedikit fakum.
Masyarakat Desa Sumber Sari mayoritas menganut agama Islam dan ada sedikit yang menganut agama kristen. Desa Sumber Sari dilengkapi dengan fasilitas ibadah diantaranya satu buah masjid bernama Masjid. Desa Sumber sari memiliki kelompok kesenian Jathilan yang berjumlah 3 kelompok diikuti oleh remaja dan bapak-bapak. Kelompok Jathilan tersebut sering tampil pada acara-acara di dalam maupun sekitar Desa Sumber Sari. Pada saat Agustus-an ataupun hajatan pernikahan tidak jarang kelompok Jathilan tersebut tampil. Selain jathilan ada juga kesenian Robana/Qosidah yang diikuti oleh ibu-ibu pengajian, Campur Sari satu regu, dan Hadroh yang di ikuti oleh kalangan bapak-bapak dan pemuda desa Sumber Sari. Kesenian Hadroh ini latihan rutin setiap satu minggu sekali, tepatnya malam minggu yang bertempat di Masjid Baiturrahim. Kelompok Hadroh ini tampil ketika ada acara hajatan berupa resepsi pernikahan, maupun resepsi khitanan dan lain sebagainya.
Pendidikan =
Desa Sumber Sari memiliki satu sekolah PAUD, satu SD dan satu SMP yakni PAUD Anak Bangsa, SDN 03 Kabawetan dan SMPN 01 Kabawetan. Ketiga tempat pendidikan tersebut dilaksanakan setiap hari Senin sampai hari sabtu.. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara Pak Ponijo, Kepala Desa Sumber Sari pada umumnya sudah sadar akan pentingnya pendidikan. Tingkat pendidikan masyarakat desa Sumber Sari ini mayoritas lulusan Sekolah Dasar (SD) dengan jumlah kurang lebih 618 jiwa, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 150 jiwa, Sekolah Menengah Atas (SMA) berjumlah 70 jiwa perguruan tinggi tingkat strata berjumlah 11 jiwa dan Pasca Sarjana berjumlah 1 jiwa.
Kesehatan dan Olahraga
Pelayanan bidang kesehatan yang ada di desa Sumber Sari yakni PUSKESDES Sumber Sari, dan Posyandu. Posyandu ini diselenggarakan setiap satu bulan sekali. Posyandu dikelola oleh petugas PUSKESDES dankader-kader yang telah terpilih. Posyandu ini diperuntukkan untuk balita. Desa ini juga memiliki 1 Lapangan Sepak Bola di dekat SDN 03 Kabawetan, 1 lapangan badminton dan 2 lapangan voly.
Ekonomi
Desa sumber sari merupakan desa yang memiliki ketinggian tempat kurang lebih 900 s/d 1000 m dpl, dengan suhu udara rata-rata 22/23 derajat Celcius. Dalam hal ini tidak heran jika desa sumber sari berpotensi didalam bidang Peternakan dan Pertanian. Bidang peternakan di Desa Sumber Sari diantaranya Sapi, Kerbau dan Kambing. Sedangkan di bidang Pertanian meliputi Tanaman Holtikultura, Kopi Sambung Robusta dan Kopi Arabika.
Sarana dan Prasarana
Masjid: 1 Unit (Masjid Baiturrahim)
MDTA: 1 Unit (MDT Al-Hidayah)
Puskesmas: 1 Unit
Polindes: 1 Unit
Gedung SD: 1 Unit (SDN 03 Kabawetan)
Gedung SMP: 1 Unit (SMPN 01 Kabawetan)
Gedung PAUD: 1 Unit (PAUD Anak Bangsa)
Lapangan Bola Kaki: 1 Unit
Lapangan voly: 2 Unit
Lapangan Badminton: 1 Unit
Jalan: 15.000 m
Ladang: 83,75 ha
Bangunan umum: 7 ha
Pemukiman Penduduk: 17 ha
Pemakaman umum: 0, 25 ha
Tegalan: 23 ha
Lahan Perkebunan: 83 ha
Kendaraan Umum: 11 mobil
Transportasi
Mengenai akses jalan dari desa Sumber Sari menuju kabupaten kepahiang sudah cukup bagus. Jarak dari desa induk ke kecamatan ±5000 m, jarak ke kecamatan ±12000 m, jarak ke kabupaten ±12000 m. Lintasan jalan yang digunakan untuk transportasi dan kegiatan sehari-hari telah di aspal dan cor semen oleh kepala desa jauh sebelum mahasiswa kuliah kerja nyata datang. Namun lintasan tanjakan dan turunan yang dikarenakan memang daerah gunung membuat masyarakat harus merogoh kocek lebih untuk bensin kendaraan. Akan sangat susah jika hasil panen dan hasil jual tidak sebanding ditambah transportasi yang tinggi membuat masyarakat kurang bersemangat untuk berkebun.