Panembahan Ratu I (Pangeran Emas Zainul Arifin) (bertakhta dari 1570 - 1649)
P. Dipati Carbon II (P. Sedang Gayam) (-)
Panembahan Ratu II (Panembahan Girilaya; bertakhta 1649-1666) menurut naskah Mertasinga, Sultan Abdul Karim meninggal dalam penahanan di Mataram pada tahun 1585 Saka Jawa atau sekitar tahun 1662 M,[2] 12 tahun setelah kepergiannya ke Mataram.
Setelah pembagian kesultanan Cirebon, Kasepuhan dipimpin oleh anak pertama Panembahan Girilaya yang bernama Pangeran Syamsudin Martawijaya yang kemudian dinobatkan sebagai Sultan Sepuh I.[3][4]
Sultan Sepuh Syamsudin Martawijaya (bertakhta 1679-1697) Trah Sunan Gunung Jati
Sultan Sepuh Tayularipin Jamaludin (bertakhta 1697-1723) Trah Sunan Gunung Jati
Sultan Sepuh Jaenudin (bertakhta dari 1723-1753) Trah Sunan Gunung Jati
Sultan Sepuh Amir Sena Muhammad Jaenuddin (bertakhta 1753-1773) Adik Pangeran Arya Natareja Trah Sunan Gunung Jati
Sultan Sepuh Udaka (bertakhta 1815-1845[5]) menggantikan saudaranya Sultan Sepuh VII Sultan Joharuddin
Sultan Sepuh Sulaeman (bertakhta 1845-1853)
Perwalian oleh Pangeran Adiwijaya (bergelar Pangeran Syamsudin IV; menjadi wali bagi Pangeran Raja Satria dari 1853 - 1871)
Sultan Sepuh Satria (memerintah 1872-1875) mewarisi takhta ayahnya Sultan Sepuh IX Sultan Raja Sulaeman sebagai putera tertua Sultan Sepuh IX yang sah, setelah meninggalnya walinya yaitu Pangeran Adiwijaya sesuai dengan penegasan Residen Belanda untuk Cirebon tahun 1867
Perwalian oleh Raharjo Jali (6 Agustus 2020 - ) Bukan Trah Sunan Gunung Jati jabatan Volmach tidak bisa menjadi Sultan[9]
Penobatan Pangeran Kuda Putih Sultan Sepuh Jaenudin II Arianatareja KGSS.Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja,S.Psi.,M.H. (27 Desember 2021 - sekarang), setelah 234 tahun baru tersambung kembali Sultan Sepuh yang Trah Asli Sunan Gunung Jati dan Pangeran Cakrabuana, semenjak terkudetanya Sultan Sepuh V Sofiudin Matangaji (1786).<ref>
↑Wildan, Dadan 2003. Sunan Gunung Jati Antara Fiksi dan Fakta: Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural. Bandung: Humaniora Utama Press
↑Sulendraningrat, Pangeran Sulaeman. 1985. Sejarah Cirebon. Jakarta: Balai Pustaka