Sejarah
Suku Seasea adalah masyarakat adat di Lipu Tanga Sesea dan merupakan penduduk asli Pulau Peleng, sebagian besar wilayahnya berada di pegunungan atau di tengah Pulau Peleng, Kabupaten Banggai Kepulauan.[3] Wilayah adat suku ini telah ditetapkan oleh Bupati Banggai Kepulauan sebagai lokasi pembangunan Tugu Seasea, tepatnya di desa Osan sebagai bagian dari sub-suku Banggai.[1]
Menurut para pemimpin adat Seasea, wilayah mereka yang berada di pegunungan terpisah dari wilayah pesisir. Hal ini terjadi karena pada jaman dahulu kala, terdapat suatu kesepakatan antara penduduk yang tinggal di daerah pegunungan dengan penduduk daerah pesisir. Perjanjian ini dibuktikan dengan adanya tempat yang bernama Labotan Toutobunan, yaitu kuburan seorang anak yang dibelah dua dan dikuburkan di dua tempat yang berbeda.[1]
Lebih jauh lagi, dalam cerita rakyat Seasea, talas merupakan makanan pokok bagi masyarakat mereka. Konon pula talas merupakan tanaman roh. Menurut mitos yang mereka pahami, tanaman talas diciptakan bersamaan dengan terciptanya manusia pertama di wilayah adat Seasea. Nenek moyang mereka kemudian memindahkan talas ini ke ladang dan menjadi tanaman pokok masyarakat Seasea. Oleh karena itu, bagi masyarakat ini, talas merupakan tanaman suci.[1]
Selain itu menurut penjelasan Tonggol (ketua adat) tentang Legenda manusia pertama Seasea. Konon, orang pertama yang mendiami daerah tersebut bernama Boloki Seasea. Menurut kepercayaan masyarakat adat di Lipu Tanga Sesea, Boloki Seasea adalah seorang wanita yang dapat berubah wujud menjadi seekor kucing. Maka ia diberi gelar Tomundo Sasa, tomundo berarti 'raja' dan sasa berarti 'kucing'. Boloki Seasea ini kemudian memiliki tiga orang anak. Ia kemudian menjadi cikal bakal generasi penerus masyarakat Seasea, sehingga masyarakat di Lipu Tanga Sesea dikenal pula dengan sebutan Pau Seasea yang artinya 'keturunan Seasea'.[1]
Selain itu, Boloki Seasea tidak memiliki pemakaman di Lipu Tanga Sesea. Hal ini terjadi karena Boloki Seasea pernah menghilang di salah satu puncak gunung di sebelah utara wilayah adat Lipu Tanga Sesea. Itulah sebabnya masyarakat di Lipu Tanga Sesea percaya bahwa makamnya tidak dapat ditemukan di daerah mereka. Dikatakan bahwa, "Boloki Seasea tidak mati seperti manusia biasa, tetapi ia menghilang".[1]
Selain itu, ada pula yang menyebutkan bahwa pada awal masa Masehi, terdapat salah satu dari delapan raja Kerajaan Banggai saat itu yang bernama Tomunda Sasa atau dijuluki Mbumbu Patola. Julukannya berasal dari dua kata, yakni mbumbu berarti 'raja' dan patola berarti 'kucing'. Artinya legenda Boloki Seasea memiliki kemiripan sejarah dengan Kerajaan Banggai kuno.[1]
Menurut masyarakat Seasea, istilah lipu merupakan unit terkecil di tingkat desa saat ini. Lipu sendiri merupakan istilah yang diwariskan dari Kerajaan Banggai dahulu. Setiap lipu dipimpin oleh seorang pejabat adat yang disebut tonggol. Tonggol diakui sebagai pemimpin masyarakat dalam struktur adat dan masih diakui hingga saat ini oleh masyarakat Seasea. Sebagai bagian penting dari Kerajaan Banggai, tonggol juga merupakan bagian dari perangkat kerajaan pada tingkat paling bawah atau setara dengan kepala desa.[1]
Lebih jauh lagi, mereka percaya bahwa Tinassu merupakan desa pertama mereka dan seiring waktu berkembang menjadi 4 pemukiman, yaitu Tinassu, Butabonggong, Batani, dan Tombila. Namun pada masa penjajahan Belanda, mereka perlahan-lahan dipindahkan ke pemukiman yang ada saat ini dan hingga kini masih menganut Kekristenan, agama monoteistik yang sebelumnya dibawa oleh misionaris Belanda.[1]
Sementara itu, pada masa pemerintahan kolonial Belanda, melalui kebijakan-kebijakannya, ketertiban sosial pun terlaksana. Maka, penduduk Tinassu direlokasi ke Kambung Lapetak. Penduduk Tombilak direlokasi ke Kambung Teteek, penduduk Batani direlokasi ke Kambung Lelak. Sementara itu, penduduk Butabonggong direlokasi ke Kambung Tallak.[1]
Setelah masa kemerdekaan, sekitar tahun 1960-an, wilayah adat Lipu Tanga Sesea berada di bawah kewenangan kecamatan Bulagi, hingga statusnya berubah dari kampung menjadi desa Osan. Namun, seiring berjalannya waktu sejak tahun 1990-an, desa Osan telah dimekarkan lagi wilayahnya menjadi desa-desa definitif dan mengelola desa-desanya sendiri, termasuk Lemalu, Momotan, Tatarandang, dan Labotankandi. Berdasarkan letak pemukimannya, masyarakat adat di Lipu Tanga Sesea kini meliputi desa Osan, Lemelu, Momotan, Tatarandang, Alani, dan Palabatu Palabatu II.[1]
Saat ini, sebagian besar kebutuhan ekonomi sehari-hari masyarakat adat Sesesa bertumpu pada hasil perkebunan, peternakan, dan kehutanan. Kebun mereka umumnya ditanami ubi jalar, talas, dan kelapa. Komoditas ekonomi utama mereka adalah umbi-umbian, kelapa, cengkeh, pala, dan kemiri. Sementara itu, peternakan memelihara sapi dan babi. Hasil hutan yang dipanen termasuk madu. Sementara itu, kondisi geografis dengan bentang alam karst dan batu kapur kurang cocok untuk menanam padi. Oleh karena itu, kebutuhan pangan seperti beras, tepung, dan kebutuhan rumah tangga lainnya berasal dari daratan utama Sulawesi.[1]