Rumah Adat Sasadu
Rumah adat menjadi bangunan utama dalam sebuah suku. Rumah adat suku Sahu disebut Sasadu. Rumah adat yang cukup sederhana ini menjadi simbol kebersamaan antar sesama suku Sahu. Pembuatannya yang tidak menggunakan paku, di dalamnya terkandung makna di mana suku Sahu sangat menghargai kaum perempuan.[3] Di dalam ruangan rumah Sasadu terdapat dua buah meja, satu untuk kaum perempuan diposisi paling depan, sedangkan satu lagi untuk kaum laki-laki diposisi paling belakang. Posisi meja kaum perempuan paling depan sebagai makna bahwa kaum perempuan lebih diutamakan dan kaum pria siap untuk selalu melindungi dari belakang.[3]
Di dalam rumah Sasadu ini diadakan berbagai kegiatan adat. Salah satunya acara orom Toma Sasadu sebuah acara ucapan syukur atas panen. Selain itu acara pemasangan bumbungan Sasadu (atap sasadu) juga menjadi acara penting di rumah Sasadu.[3]
Pemasangan Bumbungan Sasadu
Banyak budaya di Indonesia yang menjadikan Indonesia salah satu negara yang kaya akan keberagaman adat budaya yang tidak dimiliki negara lain. Salah satu di antaranya ialah Pemasangan Bumbungan Sasadu dalam suku Sahu. Kegiatan ini sesuatu yang sakral karena sangat jarang dilakukan sehingga dalam pelaksanaannya sangat dihargai oleh warga suku Sahu. Ini merupakan pemasangan bumbungan di atap rumah adat suku Sahu yakni di Sasadu, dalam bahasa Sahu disebut Sibere Wanat Sasadu.[4] Bumbungan atap rumah atau Wanat Sasadu ini dibuat dari daun pohon sagu, dilapisi pohon bambu lalu diikat menggunakan tali gumutu. Tali gumutu sebuah tali yang diolah dari serabut pohon enau.[4]
Sedangkan penyangga rumah Sasadu terbuat dari kayu Gofasa. Kayu ini cukup kuat dan tahan lama, dan diambil dari pedalaman pulau Halmahera sehingga untuk rumah Sasadu yang terlihat sangat sederhana tetapi harganya bisa mencapai Rp 150 juta. Rumah Sasadu tidak memiliki pintu dan jendela, tetapi atap dibangun tinggi sehingga ada sirkulasi udara di dalamnya.[5]
Pada kesempatan langka, pada tahun 1 Mei 2018 lalu, dilakukan peresmian rumah adat Sasadu di desa Akelamo, kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat bertepatan diadakannya Festival Teluk Jailolo 2018. Peresmian ini memikat warga Sahu dan warga sekitar.[5]
Untuk memulai acara ini, salah seorang tokoh adat akan memimpin dalam doa, supaya acara dapat berjalan dengan baik.[4] Selanjutnya, bumbungan atap Sasadu siap untuk dinaikan dan di atas beberapa orang pria terpilih bersiap untuk menarik dan menaikkan bumbungan atau wanat tersebut.[4]
Petugas penarik wanat menggunakan tali dan menarik wanat dengan mengikuti rel buatan yang terdiri dari dua batang pohon bambu supaya wanat mudah ditarik. Selama Prosesi pengangkatan hingga terpasangnya wanat, akan diiringi oleh lantunan gong dan musik Tifa yang berlangsung sekitar 30 menit. Momen sakral acara ini ditandai dengan terpasangnya Wanat di atas Sasadu.[4]