Budaya dan bahasa mereka memiliki ciri yang tidak biasa. Menurut antropolog Daniel Everett:
Pirahã sangat berbakat dalam mempertahankan hidup di hutan: mereka tahu kegunaan dan letak tumbuhan-tumbuhan penting di wilayah mereka; mereka paham perilaku hewan lokal serta bagaimana cara menangkap dan menghindarinya; dan mereka dapat memasuki hutan sambil telanjang tanpa membawa peralatan atau senjata dan tiga hari kemudian keluar sembari membawa buah-buahan, kacang-kacangan, dan tangkapan kecil[2]
Suku Pirahã menuturkan bahasa Pirahã. Anggota suku Pirahã dapat menyiulkan bahasa mereka untuk berkomunikasi saat berburu di hutan.
Kepercayaan
Menurut Everett, Pirahã tidak memiliki konsep ketuhanan atau roh tertinggi,[3] dan mereka tidak tertarik dengan Yesus setelah mengetahui bahwa Everett tidak pernah melihatnya secara langsung. Mereka menginginkan bukti berdasarkan pengalaman pribadi.[4] Namun, mereka memercayai roh yang dapat berubah wujud menjadi benda-benda seperti jaguar, pohon, atau benda lain yang dapat dilihat dan disentuh, termasuk manusia.[5] Everett melaporkan satu kejadian ketika seorang Pirahã mengatakan bahwa Xigagaà yang tinggal di atas awan berdiri di pantai dan berteriak pada mereka dan memberi tahu mereka bahwa ia akan membunuh mereka jika masuk ke hutan. Everett dan putrinya tidak dapat melihat apapun, tetapi orang tersebut bersikeras bahwa Xigagaà masih ada di pantai.[6]
A Conversation with Augusto and Yapohen Pirahã A conversation with Jose Augusto and Yapohen Pirahã, who represent the leadership of the Pirahã tribe. (Portuguese with English subtitles.)