Perbandingan rumah adat Toraja Mamasa dan Toraja
Pada dasarnya rumah adat Toraja Mamasa hampir mirip dengan rumah adat Toraja, perbedaannya yaitu rumah adat Toraja Mamasa memiliki atap kayu yang berat dengan bentuk yang tidak terlalu melengkung sementara rumah adat Toraja memiliki atap kayu dengan bentuk seperti huruf [U].
Secara umum banua layuk yang terdiri atas tiga bagian, yakni atap, badan, dan kolong (rumah panggung), fungsional bentuk rumah panggung dapat digunakan untuk menghindari gangguan binatang buas, lantai dapat menampung hawa panas di malam hari, sehingga cocok untuk daerah dingin, dan kolong dapat bekerja praktis. Banua layuk sebagai rumah adat sarat dengan makna simbolik sebagai cerminan dari nilai-nilai budaya yang dianut oleh masyarakatnya. Simbol-simbol tersebut ditemukan pada struktur, ukiran, dan unsur-unsur lainnya yang terdapat pada banua layuk. Bentuk rumah adat di Toraja Mamasa saat ini adalah hasil perkembangan dari bentuk sebelumnya yang bermula dari banua pandoko dena, banua lentong appa, banua tamben, dan banua tolo' (sanda ariri). Dari bentuk rumah yang keempat (banua tolo') akhirnya menjadi ciri khas rumah adat Toraja Mamasa, khususnya banua layuk, pendiriannya ditentukan oleh lokasi, arah, dan bahan bangunan, dan waktu membangun bangunan.
Banua layuk merupakan simbol kepemimpinan tertinggi dalam struktur masyarakat Kampung Ballapeu'. Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan banua layuk dibuat di Ballapeu'. Proses pembuatan banua layuk dari asal hingga bangunan siap untuk ditempati tidak terlepas dari kegiatan upacara ritual dengan mengorbankan kerbau atau babi. Struktur banua layuk yang terdiri atas bagian, yakni atap, rumah panggung, dan kolong (rumah panggung), selain itu pertimbangan fungsional pentas tiga makna filosofi. Fungsional rumah panggung adalah: bentuknya menghindarkan gangguan dari binatang buas, lantai dapat menampung hawa panas di malam hari, sehingga cocok untuk daerah dingin, dan bagian kolong dapat berfungsi praktis.
Sedang makna filosofi dibalik struktur banua layuk yang terdiri dari tiga bagian adalah simbol dari makrokosmos yang terdiri atas tiga lapisan yakni dunia atas, tengah, dan bawah. Terdapat beberapa persamaan di samping perbedaan antara banua layuk di Toraja Mamasa dengan tongkonan di Tana Toraja. Adanya persamaan dari keduanya karena memiliki akar budaya yang sama, dan adanya perbedaan yang disebabkan oleh kondisi lingkungan dan sosial budaya yang berbeda dari kedua rumah adat tersebut.