Keni (bahasa Ibrani:קיניםcode: he is deprecated , pengucapan [qiˈnim]) merupakan suatu kaum nomadik di Levant kuno,[1] yang tercatat dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di AlkitabKekristenan. Para sarjana memandang bahwa mereka memainkan peranan penting dalam sejarah Israel kuno dan terutama merupakan tukang tembaga dan pekerja logam.[1]Hakim-hakim 1:16 mengidentifikasi bahwa ipar Musa, Hobab, adalah "orang Keni". Kelompok tertentu dari kaum Keni tinggal di antara populasi orang Israel, termasuk keturunan Hobab, saudara ipar Musa itu.[2] Di kemudian hari, orang Keni keturunan Rekhab memiliki gaya hidup yang berbeda, yaitu berpindah-pindah tempat untuk beberapa waktu.[1]
Etimologi
"Keni" adalah terjemahan dari bahasa Ibrani קֵינִי Qeyniy. Menurut Wilhelm Gesenius, nama ini diambil dari nama Kain (קַיִן Qayin).[3] Berdasarkan A. H. Sayce, nama 'Keni', Qéní, identik dengan kata Aram yang berarti 'seorang pandai besi', yang pada gilirannya seasal dengan kata Ibrani Quayin, dengan arti 'sebilah tombak'.[4]
Tercatat pada Keluaran 18, dalam perjalanan di padang gurun, rupanya Hobab ikut serta ayahnya, membawa Zipora dan kedua putra Musa, menemui Musa yang sedang memimpin bangsa Israel baru keluar dari tanah Mesir. Saat itu bangsa Israel mendirikan perkemahan di gunung Sinai (gunung TUHAN).[5]
Ketika bangsa Israel mulai berangkat meninggalkan gunung Sinai untuk pergi ke tanah Kanaan, berkatalah Musa kepada Hobab anak Rehuel orang Midian,[6] mertua Musa: "Kami berangkat ke tempat yang dimaksud TUHAN ketika Ia berfirman: Aku akan memberikannya kepadamu. Sebab itu ikutlah bersama-sama dengan kami, maka kami akan berbuat baik kepadamu, sebab TUHAN telah menjanjikan yang baik tentang Israel." Tetapi jawabnya kepada Musa: "Aku tidak ikut, melainkan aku hendak pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku." Kata Musa: "Janganlah kiranya tinggalkan kami, sebab engkaulah yang tahu, bagaimana kami berkemah di padang gurun, maka engkau dapat menjadi penunjuk jalan bagi kami. Jika engkau ikut bersama-sama dengan kami, maka kebaikan yang akan dilakukan TUHAN kepada kami akan kami lakukan juga kepadamu."[7] Dari 1 Samuel 15:6 diketahui bahwa mereka memang berangkat bersama-sama orang Israel. Tempat perkemahan mereka di sebelah timur sungai Yordan di dekat perkemahan orang Israel, sebelum menyeberang ke tanah Kanaan, terlihat oleh Bileam (Bilangan 24:21–22).
Di waktu kemudian, beberapa orang Keni berpisah dari saudara mereka di selatan, lalu tinggal di utara Kanaan di daerah suku Naftali (Hakim-hakim 4:11) sampai mereka hidup pada zaman Raja Saul. Kebaikan yang mereka tunjukkan kepada bangsa Israel di padang gurun diingat dengan penuh terima kasih.
Berkatalah Saul kepada orang Keni: "Berangkatlah, menjauhlah, pergilah dari tengah-tengah orang Amalek, supaya jangan kulenyapkan kamu bersama-sama dengan mereka. Bukankah kamu telah menunjukkan persahabatanmu kepada semua orang Israel, ketika mereka pergi dari Mesir?" (1 Samuel 15:6)
Bukan hanya Saul yang menghindarkan mereka dari kebinasaan, tetapi Daud juga memberikan mereka sebagian jarahan yang ia ambil dari orang Amalek (1 Samuel 30:29).
Orang Keni terkemuka yang lain adalah Heber orang Keni, suami Yael, dan Rekhab, nenek moyang orang Rekhab.[8]
Ketika ia [Bileam] melihat orang Keni, diucapkannyalah sanjaknya, katanya: "Kokoh tempat kediamanmu, tertaruh di atas bukit batu sarangmu, namun orang Keni akan hapus; berapa lama lagi maka Asyur akan menawan engkau?"[10]
Keturunan Hobab, ipar Musa, orang Keni itu, maju bersama-sama dengan bani Yehuda dari kota pohon kurma ke padang gurun Yehuda di Negev dekat Arad; lalu mereka menetap di antara penduduk di sana.[11]
Adapun Heber orang Keni, orang Keni itu, telah memisahkan diri dari suku Keni, dari anak-anak Hobab ipar Musa, dan telah berpindah-pindah memasang kemahnya sampai ke pohon tarbantin di Zaanaim yang dekat Kedesh.[12]
Diberkatilah Yael, isteri Heber orang Keni, orang Keni itu, melebihi perempuan-perempuan lain, diberkatilah ia, melebihi perempuan-perempuan yang di dalam kemah.[14]
Berkatalah Saul kepada orang Keni: "Berangkatlah, menjauhlah, pergilah dari tengah-tengah orang Amalek, supaya jangan kulenyapkan kamu bersama-sama dengan mereka. Bukankah kamu telah menunjukkan persahabatanmu kepada semua orang Israel, ketika mereka pergi dari Mesir?" Sesudah itu menjauhlah orang Keni dari tengah-tengah orang Amalek.[15]
Jika Akhis bertanya: "Di mana kamu menyerbu pada hari ini?" maka jawab Daud: "Di Tanah Negeb Yehuda," atau: "Di Tanah Negeb orang Yerahmeel," atau: "Di Tanah Negeb orang Keni."[16]
Dan kaum-kaum para ahli surat, yang diam di Yabes, ialah orang Tirati, orang Simati, dan orang Sukhati. Mereka itulah orang Keni keturunan Hamat bapa keluarga Rekhab.[18]
Identitas
Berdasarkan interpretasi kritis data Alkitabiah, kaum Keni merupakan sekelompok kaum yang tinggal di perbatasan selatan Yehuda, pada mulanya lebih terdepan dalam bidang seni daripada orang Yahudi, dan dari mana orang Yahudi belajar banyak. Mereka diduga bermigrasi dari Asia selatan. Pada zaman Daud, kaum Keni pada akhirnya tinggal di antara suku Yehuda.[19]
Leluhur mereka kemungkinan Kain, kepada siapa keturunannya dalam Sumber Yahwis Kejadian 4 hubungkan dengan penemuan seni pembuatan tembaga dan besi, penggunaan peralatan musik, dan lain sebagainya. Sayce telah menyatakan secara tidak langsung[4] bahwa Keni merupakan suku pandai besi—sebuah pandangan yang mana pernyataan Sumber Yahwis diasumsikan meminjamkan dukungan. Lagi pula, dalam Yeremia 35:7–8, kaum Rekhab digambarkan sebagai kaum yang tinggal di kemah dengan larangan mutlak untuk tidak bertani; akan tetapi, kaum Keni yang lain digambarkan di tempat lain sebagai penduduk kota.
Hipotesis Keni
Berdasarkan Hakim-hakim 1:16, Yitro, imam Midian, dan mertua Musa, bukan merupakan orang Keni, tetapi hanya hidup di tanah Midian. "Hipotesis Keni" memperkirakan bahwa bangsa Yahudi telah mengadopsi penyembahan Yahwe dari Midian melalui kaum "Keni".[20] Pandangan ini, pertama kali diusulkan oleh F. W. Ghillany, setelah itu diusulkan dengan bebas oleh Cornelis Petrus Tiele (1872), dan lebih sepenuhnya oleh Stade, lebih lengkap dikerjakan oleh Karl Budde; dan diterima oleh H. Guthe, Gerrit Wildeboer, H. P. Smith, dan G. A. Barton.[21]
Berdasarkan hipotesis Keni, secara sejarah Yahweh merupakan dewa Midian, dan kaitan mertua Musa dengan orang Midian mencerminkan pengadopsian pemujaan Midian oleh orang Yahudi.[1][22][23]
↑Dalam Keluaran 3:1, Yitro dikatakan merupakan seorang "imam di Midian" dan orang Midian (Bilangan 10:29). Hal ini telah membawa banyak sarjana untuk percaya bahwa istilah-istilah tersebut diniatkan (setidaknya dalam beberapa bagian Alkitab) untuk digunakan secara bergantian, atau bahwa Keni membentuk bagian dari kelompok suku Midian.
↑Browning, W (2015). Kamus Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia. hlm.192.
↑George Aaron Barton (1859–1942), US Bible scholar and professor of Semitic languages. onlineDiarsipkan 2012-04-26 di Wayback Machine.
↑"Sejumlah sarjana, berdasarkan Keluaran 18 berpendapat lebih jauh bahwa dari Yitro orang Israel menerima bagian besar teologi monoteisme mereka." Catholic Encyclopedia