Suku Kayan Bahau Saq atau Kayan Mekam adalah sebuah sub-suku dari suku Dayak Kayan yang sebagian besar mendiami kawasan Kabupaten Mahakam Ulu[1] dan sebagian kecil berada di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.Suku ini mendiami Kecamatan Long Pahangai, Long Bagun,Long Hubung dan Laham di Kabupaten Mahakam Ulu dan Long Iram, Tering, sebagian Linggang Bigung dan Melak dan Barong Tongkok di Kabupaten Kutai Barat.
Suku Dayak Bahau dibagi menjadi tiga sub-kelompok yaitu Bahau Modang, Bahau Busang, dan Bahau Saq. Suku Dayak Bahau umumnya tinggal di pinggiran sungai. Rumah-rumah berjajaran di sepanjang sungai.
Populasi Dayak Bahau juga tersebar di kawasan Kecamatan Muara Wahau, Kecamatan Busang di Kutai Timur dan sebagian Kecamatan Tabang di Kutai Kartanegara.
Suku Dayak Bahau memiliki kebiasaan memanjangkan telinga menggunakan Hisang. Masing-masing anting akan digunakan ketika wanita berumur 5 tahun dan ketika umur bertambah maka anting pun bertambah, baik ukuran maupun jumlah. Suku Dayak Bahau lebih memilih menggunakan anting perak. Tradisi memanjangkan telinga ini merupakan simbol kecantikan perempuan Dayak.[2]
Suku ini juga mentato tubuhnya menggunakan arang pohon Damar. Tato dibuat menggunakan sembilu atau menggunakan jarum. Perempuan yang ingin ditato harus dalam umur 12 sampai 15 tahun.[3]
Pria suku Dayak membuat dua lubang pada daun telinga[4]
Tokoh Dayak Bahau
Sebagian besar suku Dayak Bahau memeluk agama Katolik Roma (92.5%) terutama yang tinggal di wilayah Kabupaten Mahakam Ulu dan Kutai Barat, 6.5% memeluk Protestan, terutama yang tinggal di kawasan Kutai Kartanegara dan Kutai Timur. Sisanya menganut agama Bungan dan juga Islam.
dalam kehidupan sehari-hari banyak yang masih menggunakan unsur-unsur agama Bungan. Orang bahau pada masa lalu banyak dewa seperti dewa air, dewa padi, dewa gunung, dewa penjaga kampung dan dewa lainnya.
Terdapat Upadara Hudoq dalam suku Dayak Bahau untuk memanggil roh-roh baik dari Apau Lagaan. Upacara ini dilakukan agar mendapatkan hasil melimpah ketika panen.[5]
Mata pencarian
pertanian ladang
berburu
mencari hasil hutan
menangkap ikan
Upacara kematian
Upacara ini berkaitan dengan keyakinan bahwa orang pindah kealam lain,yaitu alam arwah. Ada beberapa tahap kegiatan
memandikan mayat (medu pate)
acara makan berwaq atau bersantap
acara pemakaman dengan membawa barang seperti mandau, guci, sumpitan dan tombak
↑M.junus, Melalatoa (1995). Ensiklopedia suku bangsa di Indonesia. jakarta: Dapartemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Asung, Desi Daria (2019). "RELIGIOSITASDALAM MITOSUPACARA ADAT HUDOQ DAYAK BAHAU DI UJOH BILANG KECAMATAN LONG BAGUNKABUPATEN MAHULU". Ilmu Budaya. 3 (4): 430–441.