Sukong merupakan alat musik tradisional yang berasal dari kesenian Betawi, terutama dalam orkes temu gabung seperti gambang keromong, lenong, dan pementasan ondel‑ondel. Instrumen ini tergolong dalam keluarga alat musik gesek. Sukong menggabungkan warisan Tionghoa, Arab, dan lokal.[1] Sukong sering digunakan sendiri dalam ansambel maupun sebagai pengiring vokal dan pertunjukan teatrikal seperti lenong.
Sejarah
Sukong diyakini berasal dari tradisi musik Tionghoa yang kemudian masuk ke Betawi melalui jalur perdagangan dan komunitas peranakan sejak abad ke-18.[2] Walaupun secara bentuk mirip rebab, yaitu alat musik gesek dari Timur Tengah, tetapi ukuran sukong lebih kecil dan hanya memiliki dua dawai, bukan satu.[butuh rujukan]
Dalam sejarahnya, suku Betawi banyak berinteraksi dengan pendatang dari berbagai negara, termasuk Tiongkok dan Arab. Pengaruh Tionghoa terlihat pada teknik pembuatan dan bentuk fisik sukong yang mirip dengan alat musik Tionghoa seperti erhu. Sementara itu, pengaruh Melayu dan Arab terlihat pada nada dan melodi yang dimainkan dengan sukong.[3]
Kongahyan, Tehyan, dan Sukong
Ketiga alat musik ini tergolong satu kelompok karena semuanya merupakan komponen dari gambang keromong. Perbedaan utama di antara ketiganya terletak pada ukuran fisik serta fungsi nadanya dalam ansambel musik.[4] Sukong memiliki ukuran paling besar dengan nada dasar G dan menghasilkan suara rendah atau bass dengan intensitas tinggi.[5]
Bentuk Fisik dan Bahan
Bagian badan sukong terbuat dari batok kelapa yang berfungsi sebagai resonator. Sedangkan, busurnya terbuat dari batang pohon yang elastis menjadi dudukan busur gesek. Busurnya sederhana, terbuat dari kayu lentur dengan senar gesek terbuat dari rambut ekor kuda jantan yang berwarna putih keemasan. Hal ini memungkinkan gesekan halus dan suara yang menghasilkan melodi khas.[6]
Cara Bermain
Untuk memainkan alat musik sukong, pertama-tama pemain harus meniup bagian atas bambu yang sudah dipotong dengan menggunakan mulut atau menggunakan alat bantu seperti peniup bambu. Setelah itu, pemain dapat mengatur nada dengan menutup dan membuka lubang di bambu dengan jari-jari mereka. Suara yang dihasilkan akan terdengar melalui ujung yang terbuka dari bambu.[7] Sukong memiliki dua buah senar dan mempunyai nada dasar G. Dalam pagelaran gambang kromong, sukong diposisikan sebagai nada bass karena suara yang dihasilkan terbilang rendah.[8]