Suez Company atau Suez Canal Company, resminya bernama Compagnie universelle du canal maritime de Suez,[1] atau terkadang disebut dalam bahasa Prancis sebagai Le Suezcode: fr is deprecated ,[2][3] adalah sebuah perusahaan yang dibentuk oleh Ferdinand de Lesseps pada tahun 1858 untuk mengoperasikan konsesi yang diberikan oleh Mesir atas Terusan Suez, yang dibangun oleh perusahaan ini mulai tahun 1859 hingga 1869. Awalnya, investor asal Prancis memegang 50% saham perusahaan ini, sementara Sa'id Pasha memegang sebagian besar sisanya. Pada tahun 1875, kesulitan keuangan memaksa suksesor Sa'id, Isma'il Pasha, menjual saham perusahaan ini yang ia pegang ke pemerintah Britania Raya. Suez Company mengoperasikan Terusan Suez hingga presiden baru Mesir, Gamal Abdel Nasser, mencabut konsesi atas Terusan Suez pada tahun 1956 dan mengalihkan pengelolaan terusan tersebut ke Suez Canal Authority, yang akhirnya memicu Krisis Suez.
Ferdinand de Lesseps pada dekade 1870-an, dipotret oleh Nadar
Konsesi terusan awal (1854)
Konsesi awal yang disusun oleh Lesseps dan diberikan oleh Said pada tahun 1854 meliputi ketentuan bahwa 10% dari total laba tahunan dialokasikan untuk para pendiri perusahaan, 15% dari total laba tahunan dialokasikan untuk pemerintah Mesir, dan 75% dari total laba tahunan dialokasikan untuk para pemegang saham. Tidak terdapat ketentuan mengenai rute terusan (apakah langsung atau tidak langsung dari Sungai Nil). Perusahaan ini juga mendapat hak untuk menambang secara gratis dan mengimpor peralatan tanpa dikenai bea impor.[4]
Pada bulan Januari 1856, Said memberikan konsesi kedua ke perusahaan ini untuk menggantikan konsesi pertama. Konsesi ini menetapkan terusan sebagai rute langsung dan mewajibkan pembangunan terusan air tawar dari Sungai Nil ke Danau Timsah. Seperti konsesi pertama, hak atas tanah dan tambang juga dimasukkan beserta pembebasan pajak yang signifikan. Sebagian besar (â…˜) pekerja perusahaan ini harus berasal dari Mesir dan para pekerja terampil harus dibayar sesuai dengan upah pekerja terampil di proyek pekerjaan umum lain di Mesir. Sebuah amandemen juga menetapkan bahwa proyek baru dapat dimulai setelah mendapat persetujuan dari Sultan Ottoman. Dewan direksi dari perusahaan pemegang konsesi beranggotakan 32 orang, yang masing-masing menjabat selama delapan tahun. Kantor operasional diletakkan di Alexandria, sementara kantor administratif diletakkan di Paris.[6]
Pembentukan dan penawaran umum perdana
Komposisi pemegang saham Suez Canal Company tahun 1858
Pada musim semi tahun 1858, French Academy of Sciences menerbitkan sebuah laporan yang menyetujui rencana teknis dari Terusan Suez. Laporan tersebut mencatat bahwa dalam dua dekade sebelumnya, masyarakat Eropa telah menghabiskan 12 miliar franc untuk membangun jalur rel, sehingga dengan biaya sebesar 200 juta franc (atau £8 juta), Terusan Suez sangat terjangkau. Lesseps pun terus maju tanpa persetujuan resmi dari Britania Raya ataupun Ottoman. Pada bulan Oktober 1858, Lesseps memberitahu pers internasional dan agen perusahaan bahwa 400.000 lembar saham seharga 500 franc per lembar saham akan ditawarkan kepada masyarakat umum mulai tanggal 5 November 1858. Dalam pemberitahuannya, Lesseps memperkirakan pendapatan tahunan sebesar 30 juta franc dari tarif melintas, dan pembangunan terusan selama 6 tahun. Sebagai bagian dari persiapan penawaran, lembar saham pun dikirim ke pialang di seantero Eropa dan Amerika Serikat. Pasca penutupan penawaran tanggal 30 November 1858, sekitar separuh dari total saham (sekitar 200.000 lembar) dibeli oleh warga negara Prancis, sementara Said sendiri membeli sekitar 60.000 lembar saham. Tidak ada saham yang dialokasikan untuk warga negara Britania Raya, Rusia, Austria, dan Amerika Serikat yang berhasil terjual. Said pun membeli saham yang belum terjual (177.000 lembar) untuk memastikan bahwa perusahaan ini memperoleh modal awal yang cukup (untuk menjadi badan hukum sesuai konsesi tahun 1856). Rata-rata jumlah saham yang dipegang oleh investor asal Prancis mencapai 9 lembar saham per orang. Lesseps kemudian mengumumkan bahwa perusahaan ini resmi dibentuk pada tanggal 15 Desember 1858.[7]
Pembangunan terusan
Kekaisaran Ottoman pada tahun 1862Prangko Suez Company, 1868
Sebelum Terusan Suez dibangun, Port Said dan Danau Timsah baru ditinggali oleh sedikit orang, Danau Pahit Besar adalah sebuah cekungan kering, dan air minum masih sulit ditemukan. Selain tantangan infrastruktur, Said tidak memperbolehkan penggunaan tenaga kerja paksa secara masif hingga tahun 1861, saat Napoleon III resmi mendukung proyek ini. Mulai tahun 1859 hingga 1861, kepala insinyur dari perusahaan ini, Eugène Mougel, bersama Alphonse Hardon, pun merencanakan dan membangun fasilitas penyulingan air tawar di sepanjang rute terusan, mengambil pasokan air tawar dari Sungai Nil, membangun perumahan untuk pekerja, mengumpulkan batu untuk jeti, merakit sejumlah peralatan pengerukan tua dari Sungai Nil, dan merekrut pekerja. Kota perusahaan juga tumbuh di sepanjang rute terusan. Pada tahun 1860, perusahaan ini mempekerjakan 210 orang Eropa dan 544 orang Mesir di 11 stasiun di sepanjang rute, dengan para pekerja diberikan uang darurat untuk membeli perbekalan. Rencana pun dibuat untuk membangun terusan akses dari Sungai Nil ke Danau Timsah untuk memasok air tawar. Setelah infrastruktur pendukung selesai dibangun, rencana selanjutnya adalah membangun terusan akses selebar 8 meter dari Port Said ke Danau Timsah dan kemudian dari Danau Timsah ke Laut Merah dengan metode peledakan. Setelah penggunaan tenaga kerja paksa disetujui pada tahun 1861, proyek dilanjutkan ke selatan dari Danau Manzala dengan, pada puncaknya, sebanyak 60.000 fallahin melakukan penggalian dengan tangan. Penjaga pun dipekerjakan untuk mengawasi para fallahin, walaupun tidak diperlukan jumlah penjaga yang banyak, karena lokasinya yang terpencil dan terdapat Bedawi yang bermusuhan. Pada saat yang sama, terusan air tawar digali ke arah timur menuju Danau Timsah. Pada akhir tahun 1862, terusan akses yang menghubungkan Danau Timsah dengan Laut Mediterania dapat diselesaikan. François Philippe Voisin kenudian ditunjuk sebagai kepala insinyur pada bulan Januari 1861 dan kontrak Hardon berakhir pada akhir tahun 1862. Jika dibandingkan dengan penggalian mekanis yang dilakukan kemudian, hanya sedikit tanah yang dapat digali pada periode ini. Britania Raya lalu mulai mengecam penggunaan tenaga kerja paksa di proyek ini pada tahun 1862.[8]
Said meninggal pada pertengahan bulan Januari 1863, dan pada akhir bulan Januari 1863, tepat sebelum Ismail memulai proses penobatan dirinya sebagai wizurai baru Mesir oleh Sultan Ottoman Abdul Aziz, Ismail mendeklarasikan bahwa ia akan menerapkan reformasi dalam hal pelayanan publik dan menghapus tenaga kerja paksa. Motif Ismail berkaitan dengan proyek pribadinya (perkebunan kapas, yang ekspor dari Mesir meningkat sejak pecahnya Perang Saudara Amerika, serta tanaman komersial dan proyek pekerjaan umum lainnya) di Mesir dan membatasi pengaruh dari perusahaan ini. Ismail kemudian menerbitkan klarifikasi bahwa tenaga kerja paksa masih dapat digunakan di proyek yang penting bagi kepentingan umum (tetapi tidak meliputi proyek Terusan Suez). Britania Raya juga berkomentar mengenai penggunaan tenaga kerja paksa oleh perusahaan ini. Ismail lalu menerbitkan sebuah deklarasi yang mempertahankan sebagian besar konsesi yang telah diterbitkan, dengan sejumlah pengecualian, termasuk terkait ketenagakerjaan. Aziz pun mendukung dihentikannya penggunaan tenaga kerja paksa dan pengembalian tanah dari perusahaan ini ke Mesir. Isu tersebut kemudian dibawa ke arbitrase Napoleon III pada tahun 1864. Ismail pun mengutus Boghos Nubar Nubarian untuk bernegosiasi atas nama Mesir. Nubar kemudian bersekutu dengan Emile Ollivier dan Morny untuk melawan Lesseps dan perusahaan ini. Pada bulan Juli 1864, Napoleon III menerbitkan kerangka resolusi yang menerima konsesi tahun 1856 sebagai kontrak yang mengikat, menghentikan penggunaan tenaga kerja paksa, dan mengembalikan tanah ke pemerintah Mesir, tetapi mewajibkan pembayaran ganti rugi sebesar 84 juta franc kepada perusahaan ini atas pelanggaran perjanjian tenaga kerja dan tanah. Ismail pun mendapat pinjaman dari Oppenheim bersaudara sebesar hampir 100 juta franc.[9]
Sementara itu, pembangunan terusan berjalan lambat selama tahun 1863–1864. Pada bulan Februari 1864, tenaga kerja paksa dapat menyelesaikan pembangunan terusan akses dari Danau Timsah ke Laut Merah.[10]
Pasca terbitnya putusan Napoleon III pada musim panas tahun 1864, penggunaan tenaga kerja paksa dibatasi, sehingga mesin keruk mulai digunakan untuk menggali terusan utama. Pada bulan Desember 1863, Voisin menunjuk perusahaan milik Paul Borel dan Alexandre Lavalley untuk merancang, membangun, dan mengoperasikan mesin keruk guna menyelesaikan pembangunan terusan. Borel dan Lavalley, sebagaimana sejumlah insinyur lain yang bekerja di proyek ini, adalah alumni École Polytechnique. Mereka sebelumnya pernah menangani proyek pembangunan jalur rel. Lavalley sendiri pernah memodifikasi lokomotif, merancang mercusuar di Laut Hitam, membuat mesin bor terowongan di Lithuania, dan membuat mesin untuk mengeruk pelabuhan di Rusia. Jalur rel pun dibangun di sepanjang rute terusan untuk mengakomodasi sejumlah mesin, sementara mesin lainnya dipasang di atas tongkang. Jenis tanah yang bervariasi membuat proyek ini harus menggunakan lebih dari selusin tipe mesin keruk yang berbeda. Hampir 300 unit mesin pun digunakan dalam lima tahun penggalian terusan. Upah penggalian ditentukan berdasarkan harga-per-unit – franc per meter kubik – yang lebih lanjut bervariasi berdasarkan jenis tanah yang digali. Pada akhirnya, perusahaan milik Borel dan Lavalley berhasil menggali 75% dari total 74 juta meter kubik tanah yang digali untuk pembangunan terusan utama. Sebagian besar penggalian tersebut dilakukan mulai tahun 1867 hingga 1869.[11] Insinyur asal Prancis yang lain, Alphonse Couvreux, yang diklaim sebagai pengguna pertama dari bucket chain excavator di darat, mengerahkan tujuh unit ekskavatornya untuk menggali sekitar 8 juta yard kubik tanah mulai tahun 1863 hingga 1868.[12]
Pada periode yang sama, jeti untuk Port Said juga dibangun oleh Dussaud bersaudara. Mereka membangun dua struktur jeti, masing-masing sepanjang 1,5 mil dan 2 mil, dengan meletakkan blok-blok beton di Laut Mediterania. Blok beton tersebut diproduksi di lokasi lain dengan menggunakan elevator mekanis untuk menuang semen, kapur, dan air. Setelah dikeringkan selama dua bulan di kerangka kayu, blok tersebut diangkat ke atas tongkang yang kemudian meletakkan blok tersebut di laut. Sebanyak 30.000 blok pun diproduksi untuk pembangunan jeti tersebut.[13]
Pada tahun 1867, perusahaan ini mulai mengembangkan struktur tarif sebagai bagian dari persiapan pembukaan terusan. Pada tahun yang sama, perusahaan ini juga mulai menarik tarif atas pengangkutan barang yang melalui sisi utara dari terusan yang hampir selesai dibangun, sehingga perusahaan ini telah dapat mencatatkan pendapatan tahunan sebesar jutaan franc. Perusahaan ini pun memperkirakan bahwa dari 10 juta ton barang yang diangkut melalui Tanjung Harapan tiap tahun, separuhnya akan beralih melintasi terusan. Perusahaan ini kemudian mengumumkan bahwa tarif untuk melintasi terusan adalah 10 franc per ton dan 10 franc per penumpang.[14]
Pada tahun 1865, terjadi wabah kolera yang menyebabkan kematian ratusan orang Eropa, termasuk istri dari Voisin, dan lebih dari 1.500 orang Arab dan Mesir. Sultan Ottoman kemudian menyetujui kerangka rekonsiliasi dari Prancis pada tahun 1866. Pada tahun 1866, terdapat sekitar 8.000 orang Eropa serta 10.000 orang Arab dan Mesir yang tinggal di sekitar terusan. Pada tahun 1867 dan 1868, total populasi di sekitar terusan meningkat masing-masing menjadi 26.000 dan 34.000. Seiring dengan makin meningkatnya jumlah penduduk di sekitar terusan, Ismail pun menugaskan Nubar untuk memulai proses revisi sistem hukum dari sistem kapitulasi menjadi sistem peradilan hibrida. Perusahaan ini kemudian menghadiri Exposition Universelle 1867 untuk menjual obligasi tambahan senilai 100 juta franc (£4 juta), yang jatuh tempo dalam waktu 50 tahun, untuk menyelesaikan pembangunan terusan. Sisa obligasi yang tidak terjual lalu dijual dalam bentuk lotre yang disetujui oleh pemerintah Prancis.[15]
Carminati, Lucia. Seeking Bread and Fortune in Port Said: Labor Migration and the Making of the Suez Canal, 1859–1906 (University of California Press, 2023) see also review of this book