G/KP/Kuda Pacu Indonesia Berusia 3 tahun & lebih, Kelas A (tinggi ≥ 161,1cm)
Hadiah
Rp70,000,000 (2025) Juara 1: Rp35.000.000 Juara 2: Rp10.500.000 Juara 3: Rp7.000.000 Posisi 4: Rp3.500.000 Posisi 5: Rp1.750.000
Seri Kejurnas Kelas Terbuka A, yang kini dikenal sebagai Star of Stars, adalah kejuaraan pacuan kuda datar di Indonesia untuk kuda Kelas A (≥161,1 cm) berusia tiga tahun ke atas dan digelar dengan jarak tempuh 2.200 meter (sekitar 13⁄8 mil). Pacuan ini merupakan bagian dari seri Kejurnas (Kejuaraan Nasional) tahap kedua, dan biasanya diselenggarakan pada bulan Oktober bersamaan dengan Super Sprint.[1] Pacuan ini dikenal sebagai "panggung tertinggi" dalam dunia pacuan kuda di Indonesia setelah Indonesia Derby.[2]
Seperti kebanyakan pacuan kuda di Indonesia, kuda rasunggul tidak diperbolehkan ikut serta. Hanya kuda campuran (disebut G/KP) dan Kuda Pacu Indonesia dengan tinggi 161,1 cm atau lebih yang diperbolehkan berlomba.
Sejarah
Soeharto Cup (1966–1974)
Star of Stars, sebagai pacuan Kelas Terbuka A dalam seri Kejurnas, dapat ditelusuri kembali ke Kejuaraan Nasional pertama pada tahun 1966. Saat itu, Kejuaraan Nasional tahunan hanya terdiri dari satu pacuan, di mana pemenangnya berhak atas Soeharto Cup. Edisi 1966 merupakan pacuan kuda tingkat nasional resmi pertama yang diselenggarakan oleh PORDASI, dan diselenggarakan setelah PORDASI diakui oleh pemerintah sebagai satu-satunya organisasi induk untuk olahraga berkuda di Indonesia, dengan Soeharto sebagai pelindungnya. Pemenang pertama Soeharto Cup adalah Diana, yang dimiliki oleh Soeharto sendiri.
Format satu pacuan Soeharto Cup hanya berlangsung hingga tahun 1974. Dalam enam tahun pertama keberadaannya, Soeharto Cup diselenggarakan di berbagai lokasi berbeda di Bogor, Magelang, Manado, dan Bandung, sebelum akhirnya menetap di Jakarta setelah selesainya pembangunan Gelanggang Pacuan Kuda Pulomas. Kuda pacu paling sukses pada Soeharto Cup pra-1975 adalah Damayanti dengan tiga kemenangan dan Primadona dengan dua kemenangan.[3]
Seri Kejuaraan Nasional Kelas Terbuka A (1975–sekarang)
Pada tahun 1975, format Kejuaraan Nasional diubah dari satu pacuan menjadi beberapa pacuan dengan klasifikasi yang berbeda. Sejak saat itu, Piala Soeharto diraih oleh kontingen provinsi yang paling sukses dalam dua seri Kejuaraan Nasional. Seri pertama adalah Indonesia Derby, sedangkan seri kedua menampilkan beberapa pacuan yang diklasifikasikan berdasarkan tinggi badan.[3]
Pacuan utama pada etape kedua seri Kejurnas adalah pacuan Kelas Terbuka A, yang selama sebagian besar era Orde Baru dinamai Piala Peringatan Ahmad Yani.[3] Yang pertama kali memenangkan piala tersebut adalah Damayanti, yang telah memenangkan tiga Soeharto Cup terakhir. Setelah jatuhnya Soeharto, pacuan tersebut berganti nama beberapa kali sebelum akhirnya dinamai Star of Stars pada tahun 2010-an.
Jarak lomba berubah seiring waktu. Jaraknya ditetapkan 1.600 m sejak peluncuran hingga tahun 1990-an. Pada tahun 1989, lomba sprint diperkenalkan ke Kejuaraan Nasional. Pacuan Sprint Kelas A yang baru memiliki jarak 1.200 m, dan saat ini disebut Super Sprint dengan jarak 1.300 m. Pada tahun 1990-an, Kelas A Terbuka diperpanjang menjadi 2.000 m sebelum diperpanjang lagi pada tahun 1999 menjadi 2.200 m, seperti yang berlaku saat ini.[4]
Djohar Manik, pemenang Star of Stars pada tahun 2015, 2017, dan 2018
Saud adalah kuda paling sukses dalam pacuan ini, dengan lima kemenangan berturut-turut dari tahun 2010 hingga 2014. Rekor ini diikuti oleh Djohar Manik[5] dan Surya Baskara, masing-masing dengan tiga kemenangan. Jika kemenangan Soeharto Cup pada periode 1966–1974 juga dihitung, maka Damayanti adalah kuda paling sukses kedua, dengan empat kemenangan berturut-turut dari tahun 1972 hingga 1975.
Records
Kemenangan terbanyak untuk kuda
5 – Saud (2010, 2011, 2012, 2013, 2014)
4 – Damayanti (Soeharto Cup 1972, 1973, 1974) (1975)