St Kilda adalah sebuah suburban bagian dalam tepi pantai di Melbourne, Victoria, Australia, yang terletak enam kilometer (3+1⁄2 mil) di sisi tenggara distrik bisnis pusat Melbourne, dalam wilayah pemerintahan daerahCity of Port Phillip. St Kilda mencatat jumlah penduduk sebanyak 19.490 jiwa dalam sensus tahun 2021.[1] Kawasan tepi pantai dan area perbukitan di lokalitas ini (antara Fitzroy Street, pantai, dan St Kilda Road) sangat terkenal dengan kafe, bar, pohon palem, serta apartemen tua dan rumah-rumah mewah, khususnya di sepanjang jalan-jalan utama seperti Fitzroy Street, Grey Street dan Acland Street. Permukiman ini juga mencakup area dengan kepadatan penduduk yang lebih rendah antara Barkly Street dan Hotham Street, area di sebelah selatan Carlisle Street hingga Dickens Street, serta sebagian dari Albert Park.
St Kilda dinamai oleh Charles La Trobe, yang saat itu menjabat sebagai superintenden Distrik Port Phillip, berdasarkan nama sebuah kapal sekunar, Lady of St Kilda, yang bersandar di pantai utama pada awal tahun 1842.[2] Dari tahun 1850-an hingga 1880-an di era Victoria, St Kilda menjadi suburban pilihan bagi kaum elite Melbourne, di mana banyak rumah besar nan megah serta deretan rumah teras yang mewah dibangun di sepanjang perbukitan, jalanan yang luas, dan tepi pantainya. Setelah pergantian abad, kawasan pesisir St Kilda berkembang menjadi tempat hiburan favorit di Melbourne, dengan jalur trem listrik yang menghubungkan daerah pinggiran kota ke wahana permainan tepi laut, ruang dansa, bioskop, serta kafe, dan kerumunan orang pun memadati Pantai St Kilda. Banyak dari rumah besar dan deretan rumah mewah tersebut beralih fungsi menjadi penginapan, dan beberapa di antaranya dirobohkan atau lahan tamannya dialihfungsikan untuk membangun gedung-gedung apartemen, menjadikan St Kilda sebagai pinggiran kota dengan penduduk terpadat di Melbourne pada tahun 1930-an.
After World War II, St Kilda became Melbourne's red-light district, and the guest houses became low-cost rooming houses. By the late 1960s, St Kilda had developed a culture of bohemianism, attracting prominent artists and musicians, including those in the punk[3] and LGBT subcultures.[4] While some of these groups still maintain a presence in St Kilda, since the 2000s the district has experienced rapid gentrification, pushing many lower socio-economic groups out to other areas,[5][6][7] with the suburb again being sought after by the wealthy. Since at least the 1950s, the suburb has been the centre of Melbourne's Jewish community.[8]
↑"Understanding Gentrification". webarchive.loc.gov. Diarsipkan dari versi asli pada 18 May 2009. Diakses tanggal 18 August 2017. Pemeliharaan CS1: BOT: status url asli tidak diketahui (link)