Situ Patenggang atau Patengan adalah sebuah danaupegunungan yang terletak di kawasan taman wisata alam di Rancabali, Jawa Barat, Indonesia. Situ Patengan memiliki luas perairan sekitar 46,6 hektar (0,466 km²)[1] dan berada di ketinggian kurang lebih 1.600 meter di atas permukaan laut.[1][2][3]
Danau ini menawarkan panorama alam pegunungan yang dikelilingi oleh perkebunan teh dan hutan tropis, menjadikannya salah satu destinasi ekowisata favorit di kawasan Bandung Selatan.
Geografi dan Fungsi Hidrologis
Situ Patengan menjadi bagian dari hulu terjauh bagi daerah aliran sungai Cibuni (DAS Cibuni) dimana aliran utamanya (sungai Cibuni) ke selatan pulau Jawa dan bermuara di Samudra Hindia.[2] Lokasinya yang terletak di timur lereng Gunung Patuha, menjadikan wilayah ini rawan bencana longsor, tetapi juga strategis untuk konservasi air dan pengembangan wisata berbasis alam.[4]
Kawasan Konservasi
Situ Patengan merupakan bagian dari kawasan konservasi alam yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, dan terbagi atas dua zona utama:[5]
Taman Wisata Alam (TWA) Situ Patengan, seluas ±63,36 ha
Cagar Alam Situ Patengan, seluas ±120,71 ha
Cagar alam ini membentang dari tenggara, timur, hingga timur laut telaga. Vegetasi dominan meliputi puspa (Schima wallichii), jamuju (Podocarpus imbricatus), dan rasamala (Altingia excelsa). Tumbuhan bawah seperti kinangsi (Villobrunea rebescens) juga ditemukan di kawasan ini. Fauna yang tercatat antara lain surili, lutung, dan beberapa jenis burung endemic seperti burung madu dan ayam hutan.[5]
Wisata dan Akses
Di kawasan ini wisatawan dapat menikmati:
Keliling danau menggunakan perahu
Area piknik dan glamping
Eksplorasi kebun teh di sekitarnya
Legenda Batu Cinta dan Pulau Asmara
Telaga ini juga didukung oleh fasilitas wisata seperti Glamping Lakeside Rancabali, shelter, pusat informasi, dan area parkir. Lokasi dapat diakses sekitar 47 km dari Kota Bandung, melalui jalur Soreang >> Ciwidey >> Rancabali >> Patengan.[5]
Panorama Situ Patenggang
Konservasi dan Perencanaan
Dalam konteks perencanaan ruang, Situ Patengan telah dikaji sebagai bagian dari zonasi kesesuaian lahan wisata di Kecamatan Rancabali. Wilayah sekeliling danau terbagi ke dalam empat kelas kesesuaian (S1, S2, S3, N1), di mana sebagian besar area tergolong sangat sesuai dan sesuai untuk wisata alam, dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan dan risiko geologi.[4]
Legenda dan Budaya Lokal
Nama Situ Patengan berasal dari bahasa Sunda pateangan-teangan, yang berarti saling mencari. Menurut cerita rakyat yang dikenal di masyarakat setempat, danau ini mengisahkan cinta dua tokoh legendaris: Ki Santang, putra seorang prabu, dan Dewi Rengganis, seorang putri titisan alam. Dikisahkan bahwa keduanya terpisah untuk waktu yang lama, tetapi karena cinta mereka yang mendalam, mereka terus saling mencari hingga akhirnya bertemu di sebuah batu yang kini dikenal sebagai Batu Cinta.
Dalam lanjutan cerita, Dewi Rengganis meminta Ki Santang untuk membuat sebuah danau dan sebuah perahu agar mereka dapat berlayar bersama. Perahu tersebut, menurut legenda, kemudian menjadi sebuah pulau berbentuk hati di tengah telaga yang kini dikenal sebagai Pulau Asmara atau Pulau Sasaka. Tradisi lisan masyarakat menyebutkan bahwa pasangan yang singgah di Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara dipercaya akan mendapat keberkahan cinta yang abadi, mengikuti jejak kisah mereka.[6][7]
Referensi
12Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, WebGIS. "DAS Cibuni". MyMaps. Diakses tanggal 2025-07-12.