Dalam Upacara Penobatan Raja pada 5 Mei 2019, Raja Vajiralongkorn menetapkan gelar kebesaran beliau menjadi Somdet Phra Chao Luk Thoe Chao Fa Sirivannavari Nariratana Rajakanya.
Bidang Seni Budaya
Putri Sirivannavari Nariratana Rajakanya diundang oleh rumah mode Pierre Balmain untuk menampilkan 39 koleksi desain pakaiannya dalam acara Paris Fashion Week (Spring/Summer 2008) di Gedung Opera Palais Garnier, Paris, pada 29 September 2007[10]. Pakaian yang ditampilkan memadukan gaya busana Barat dengan pola kain tradisional Thailand zaman Rattanakosin, yang dijahit oleh pengrajin dari Sekolah Istana untuk Wanita[11].
Motif Kain Matmi hasil karya Putri Sirivannavari Nariratana Rajakanya: Pada Januari 2022, di Ban Na Wa, Distrik Na Wa, Provinsi Nakhon Phanom, Putri Sirivannavari mengungkapkan niatnya untuk melanjutkan cita-cita Ratu Sirikit. Beliau memanfaatkan pengalaman kerja, pendidikan, dan perjalanannya melihat kain tradisional serta kerajinan tangan lokal di berbagai daerah untuk mengembangkan karya yang kontemporer dan bersifat universal. Beliau mendesain motif kain Matmi yang melambangkan pemberian kasih sayang dan kebahagiaan bagi seluruh rakyat Thailand. Motif tersebut terdiri dari pola huruf S pada badan kain, pola hati pada pinggiran kain, pola S yang dipadukan dengan pola Khid, pola pohon pinus, serta pola ekor merak.
Pada 31 Oktober 2024, Putri Sirivannavari memimpin penjurian babak final tingkat nasional kompetisi desain kain "Sirivachirabhorn" dan kerajinan tangan tahun 2024. Beliau memberikan izin kepada Departemen Pengembangan Masyarakat, Kementerian Dalam Negeri, untuk menyelenggarakan kompetisi ini guna memberi kesempatan kepada masyarakat dalam melestarikan kain Thailand. Kain motif Sirivachirabhorn sendiri dianugerahkan kepada Kementerian Dalam Negeri pada 22 Februari 2024 di Ban Kham Pun, Distrik Warin Chamrap, Provinsi Ubon Ratchathani, untuk diberikan kepada para penenun dan pengrajin di seluruh negeri. Motif ini diciptakan untuk memperingati hari ulang tahun ke-72 Raja Vajiralongkorn pada 28 Juli 2024, yang terdiri dari 4 pola: Wachirabhakdi, Kho Chao Fa Sirivannavari 2024, pola Hati, dan pola Dok Rak Ratbhakdi.
Yayasan Seni Araya Sirivannavari Nariratana adalah yayasan yang didirikan atas keinginan Putri Sirivannavari, di mana beliau menjabat sebagai pelindung yayasan. Beliau menyumbangkan dana pribadi sebagai modal awal yayasan tersebut. Tujuan utama yayasan ini adalah membantu individu yang memiliki bakat di bidang seni dengan memberikan beasiswa tingkat magister, doktor, atau sertifikat spesialisasi seni di berbagai bidang, agar pengetahuan tersebut dapat diintegrasikan demi kemajuan seni bangsa.
Pada 19 Mei 2025, Putri Sirivannavari mengunjungi pameran "Chud Thai Through the Ages: Weaving History, Craft, and Identity" dan menjadi pembicara utama dengan topik "The Evolution of Chud Thai and the Timeless Craft of Thai Textiles". Pameran ini diadakan untuk merayakan 170 tahun hubungan diplomatik Thailand - Inggris dalam acara London Craft Week 2025 yang bertempat di Kedutaan Besar Thailand di London. Acara tersebut menampilkan sejarah busana Thailand hingga 8 jenis pakaian tradisional kerajaan yang digagas oleh Ratu Sirikit pada tahun 1960 sebagai identitas nasional. Selain itu, dipamerkan pula koleksi pribadi Putri Sirivannavari, kain tenun lokal, desain dari perancang busana ternama Thailand, serta demonstrasi pembuatan kerajinan Benjarong dan anyaman Yan Liphao.
Beliau juga memiliki merek busana pribadi bernama "Sirivannavari" dan merek perlengkapan rumah tangga bernama "Sirivannavari Maison". Beberapa produk karyanya telah didaftarkan hak ciptanya di luar negeri melalui Departemen Kekayaan Intelektual untuk mencegah pelanggaran atau peniruan.
Dalam wawancara di pameran "Busana Thailand: Dari Istana ke Budaya Populer" di Museum Tekstil Ratu Sirikit, beliau menekankan pentingnya mengenakan busana Thailand dengan benar sesuai prinsip desain dan pemotongan (cutting), serta pemahaman konteks budaya. Beliau menyatakan: "Saya mengajak perempuan Thailand dari segala usia, dari anak-anak hingga dewasa, teman-teman LGBTQ yang memiliki jiwa perempuan, semua yang berada di industri mode maupun tidak, mari kita kenakan 8 jenis busana tradisional Thailand ini dengan bangga. Kenakanlah dengan pemahaman, agar dunia tahu bahwa kita berasal dari Thailand, dan pakailah dengan benar sesuai prinsip yang telah dianugerahkan dan didesain." Putri Sirivannavari memiliki peran kunci dalam membangkitkan kembali popularitas busana tradisional Thailand, terutama dalam konteks pengajuan Busana Tradisional Thailand (Chud Thai) sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan kepada UNESCO. Delapan jenis busana tersebut meliputi: Thai Chitralada, Dusit, Amarin, Boromphiman, Siwalai, Chakkri, Chakkraphat, dan Thai Pranyuk, yang mencerminkan keindahan dan kearifan lokal Thailand yang diwariskan secara turun-temurun.