Desa Sipatuhu memiliki luas wilayah sekitar 4,60 km² dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 422,17 jiwa per km².[1]
Sebagian besar penduduk Desa Sipatuhu bermata pencaharian sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.Jenis usaha pertanian yang dijalankan masyarakat cukup beragam, seperti padi, karet, jagung, madu dan sayur-sayuran, namun komoditas yang paling dominan adalah kopi. [2]
Letak Geografis
Secara geografis, Desa Sipatuhu berada tidak jauh dari kawasan wisata Danau Ranau, danau terbesar kedua di Pulau Sumatera. Posisi tersebut menjadikan Desa Sipatuhu memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai desa agrowisata serta sentra souvenir dan oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Danau Ranau. [1]
Komoditas
Desa Sipatuhu juga dikenal sebagai salah satu penghasil kopi robusta dan gula aren yang cukup besar, tidak hanya di tingkat kabupaten tetapi juga di tingkat Provinsi Sumatera Selatan. Produksi kopi dan gula aren di desa ini telah berkembang sejak masa kolonial Belanda dan masih menjadi komoditas utama hingga saat ini. Selain itu, masyarakat juga mengembangkan produk turunan seperti gula aren semut, kopi luwak, kopi pinang, serta produk olahan lainnya dalam skala industri kecil dan rumah tangga (UMKM). [2]
Selain itu lingkungan alam Desa Sipatuhu sangat mendukung untuk kegiatan budidaya lebah madu. Di wilayah desa ini banyak terdapat tanaman kopi, durian, duku, serta tanaman lain yang menjadi sumber pakan lebah madu. Ketersediaan sumber air bersih dan kondisi lingkungan yang relatif jauh dari kebisingan membuat wilayah desa Sipatuhu sesuai untuk ternak lebah madu.[3]
Salah satu jenis lebah madu yang dibudidayakan oleh masyarakat Desa Sipatuhu adalah Apis mellifera atau lebah madu barat yang dikenal mampu menghasilkan madu dalam jumlah relatif banyak. Pemanenan madu umumnya dilakukan setiap tiga bulan sekali setelah musim bunga berakhir. Madu dipanen pada pagi hari yang cerah ketika sisiran dalam kotak stup telah tertutup lapisan lilin, sebagai tanda madu telah siap dipanen.[3]