Sigālovāda Sutta
| Sigālovāda Sutta Kepada Sigālaka | |
|---|---|
| Jenis | Teks kanonis |
| Induk | Dīghanikāya |
| Singkatan | DN 31 |
| Bagian dari seri |
| Tipiṭaka |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
Sigālovāda Sutta adalah teks ke-31 yang diuraikan dalam kitab Dīghanikāya ("Khotbah Panjang Buddha").[note 1] Teks ini juga dikenal sebagai Siṅgāla Sutta,[1][2] Sīgālaka Sutta,[3][4] Sīgāla Sutta,[note 2] dan Sigālovāda Suttanta.[note 3]
Khotbah ini secara khusus memuat panduan etika, moral, dan kewajiban sosial bagi umat awam (perumah tangga). Di dalamnya, Buddha menguraikan panduan untuk menjalani kehidupan bermasyarakat yang harmonis melalui penghindaran diri dari perbuatan buruk, pengenalan terhadap teman sejati, pengelolaan kekayaan yang bijak, serta pemenuhan tanggung jawab dan hubungan timbal balik dalam enam peran sosial (orang tua, guru, pasangan, teman, pekerja, dan pembimbing spiritual) yang disimbolkan sebagai enam arah mata angin.
Penafsir Buddhaghosa merujuk sutta ini sebagai "Vinaya [aturan disiplin buddhis] bagi para perumah tangga (Pali: gihi-vinaya)."[note 4] Pada masa modern, Bhikkhu Bodhi telah mengidentifikasi sutta ini sebagai "teks Nikāya yang paling komprehensif" yang berkaitan "dengan kebahagiaan yang terlihat secara langsung di kehidupan saat ini."[1][note 5]
Ringkasan teks
Penghormatan Sigāla kepada ayahnya
Sigālovāda Sutta berlatar belakang ketika Buddha bertemu dengan seorang pemuda bernama Sigāla dalam perjalanan pagi-Nya. Pemuda tersebut, dengan pakaian yang basah kuyup, bersujud dan memuja empat arah mata angin (timur, selatan, barat, dan utara), ditambah bumi (bawah/nadir) dan langit (atas/zenit).[note 6] Ketika ditanya oleh Buddha mengapa ia melakukan hal itu, pemuda Sigāla menjawab bahwa ia telah disuruh oleh mendiang ayahnya untuk melakukannya dan ia berpikir bahwa sudah sepatutnya ia menjunjung tinggi keinginan ayahnya. Menanggapi hal tersebut, Buddha menyampaikan bahwa di ajaran-Nya juga ada "pemujaan enam arah",[5] yang disebut sebagai cara seorang mulia (Pali: ariya) seharusnya menghormati keenam arah.[6][7][8][9] Namun, sebelum menjelaskan makna versi-Nya, Buddha terlebih dahulu meletakkan fondasi perilaku moral—seperti menghindari perbuatan buruk, mencegah pemborosan kekayaan, dan mengenali teman sejati. Pada akhir khotbah-Nya, Buddha barulah mendefinisikan ulang pemujaan enam arah tersebut ke dalam praktik pelaksanaan kewajiban dan hubungan timbal balik sosial (Lihat #Menjaga tali silaturahmi).
Menghindari jalan-jalan buruk
Buddha Gotama pertama-tama mendeskripsikan empat belas jalan buruk (kejahatan) yang harus dihindari oleh seorang perumah tangga. Buddha merinci jalan-jalan buruk yang harus dihindari ini sebagai:[6][7][8][9]
- membunuh (pāṇātipāta)
- mencuri (adinnādāna)
- perilaku seksual yang salah (kāmesu micchācāra)[note 9]
- berbohong (musāvāda)
- empat penyebab perbuatan buruk:
- keinginan indrawi ([kāma-]chandāgati)
- kebencian (dosāgati)
- kebodohan batin (mohāgati)
- ketakutan (bhayāgati)
- enam cara menghamburkan kekayaan:
- memanjakan diri dalam minuman keras/zat memabukkan (surāmerayamajjappamādaṭṭhānānuyoga)
- berkeliaran di jalanan pada waktu yang tidak tepat (vikālavisikhācariyānuyoga)[note 10]
- sering mengunjungi pertunjukan hiburan (samajjābhicaraṇa)
- kecanduan berjudi (jūtappamādaṭṭhānānuyoga)
- bergaul dengan teman-teman yang buruk (pāpamittānuyoga)
- kebiasaan bermalas-malasan (ālasyānuyoga)
Bahaya penghamburan kekayaan
Buddha merinci enam bahaya yang muncul dari masing-masing cara menghamburkan kekayaan.[10]
- Memanjakan diri dalam minuman keras/zat memabukkan (surāmerayamajjapamādaṭṭhānānuyoga)
Enam bahayanya:[11]
- kerugian harta yang nyata (sandiṭṭhikā dhanajāni)
- meningkatnya pertengkaran (kalahappavaḍḍhanī)
- rentan terhadap penyakit (rogānaṁ āyatanaṁ)
- hilangnya reputasi baik (akittisañjananī)
- perilaku tidak senonoh (kopīnanidaṁsanī)
- melemahnya kebijaksanaan (paññāya dubbalīkaraṇī)
- Berkeliaran di jalanan pada waktu yang tidak tepat (vikālavisikhācariyānuyoga)
Enam bahayanya:[12]
- diri sendiri tidak terjaga dan tidak terlindungi (attāpissa agutto arakkhito hoti)
- istri dan anak-anak tidak terlindungi (puttadāropissa agutto arakkhito hoti)
- harta benda tidak terlindungi (sāpateyyampissa aguttaṁ arakkhitaṁ hoti)
- mudah dicurigai sebagai pelaku kejahatan (saṅkiyo ca hoti pāpakesu ṭhānesu)
- menjadi sasaran desas-desus palsu (abhūtavacanañca tasmiṁ rūhati)
- akan banyak menghadapi masalah (bahūnañca dukkhadhammānaṁ purakkhato hoti)
- Sering mengunjungi pertunjukan hiburan (samajjābhicaraṇa)
Enam bahayanya — pikiran selalu bertanya:[13]
- di mana ada tarian? (kva naccaṁ)[note 11]
- di mana ada nyanyian? (kva gītaṁ)
- di mana ada musik? (kva vāditaṁ)
- di mana ada pertunjukan deklamasi? (kva akkhānaṁ)
- di mana ada pertunjukan simbal? (kva pāṇissaraṁ)
- di mana ada pertunjukan gendang? (kva kumbhathunanti)
- Kecanduan berjudi (jūtappamādaṭṭhānānuyoga)
Enam bahayanya:[14]
- bila menang, menimbulkan permusuhan (jayaṁ veraṁ pasavati)
- bila kalah, meratapi uang yang hilang (jino vittamanusocati)
- kerugian harta yang nyata (sandiṭṭhikā dhanajāni)
- kesaksiannya tidak dipercaya di pengadilan (sabhāgatassa vacanaṁ na rūhati)
- dipandang rendah oleh teman dan rekan (mittāmaccānaṁ paribhūto hoti)
- tidak diminati sebagai calon pasangan, karena penjudi dianggap tidak mampu menghidupi keluarga (āvāhavivāhakānaṁ apatthito hoti)
- Bergaul dengan teman-teman yang buruk (pāpamittānuyoga)
Enam tipe teman buruk yang menjadi bahaya:[15]
- para penjudi (ye dhuttā)
- para pemabuk (ye soṇḍā)
- para orang cabul atau pemuja hawa nafsu (ye pipāsā)
- para pembohong (ye nekatikā)
- para penipu (ye vañcakā)
- para pembuat keributan atau kekerasan (ye sāhasikā)
- Kebiasaan bermalas-malasan (ālasyānuyoga)
Enam dalih yang dipakai untuk menghindari pekerjaan:[16]
- terlalu dingin, kedinginan (atisītanti kammaṁ na karoti)
- terlalu panas, kepanasan (atiuṇhanti kammaṁ na karoti)
- terlalu sore, kesorean (atisāyanti kammaṁ na karoti)
- terlalu pagi, kepagian (atipātoti kammaṁ na karoti)
- terlalu lapar, kelaparan (atichātosmīti kammaṁ na karoti)
- terlalu kenyang, kekenyangan (atidhātosmīti kammaṁ na karoti)
Teman palsu dan teman sejati
Kemudian, Buddha Gotama menguraikan pentingnya memiliki dan menjadi teman sejati. Beliau mendeskripsikan seperti apa teman sejati itu, apa yang bukan teman sejati, dan bagaimana teman sejati akan membantu seseorang dalam mencapai kehidupan yang bahagia. Dalam uraian-Nya, Buddha merinci empat jenis teman palsu (Pali: mitta-patirūpaka, musuh berkedok teman) dan empat jenis teman sejati (Pali: suhada-mitta, teman yang berhati tulus).[17]
- Empat jenis teman palsu
Berdasarkan empat alasan untuk setiap jenis teman palsu, orang-orang ini patut dianggap sebagai musuh berkedok teman. Empat jenis teman palsu tersebut adalah sebagai berikut:
- Aññadatthuhara ("si pengambil segalanya"):[18]
- Menjadi pihak yang mengambil segalanya (aññadatthuharo hoti)
- Memberi sedikit tetapi mengharap banyak (appena bahumicchati)
- Melakukan kewajiban pertemanan karena rasa takut (bhayassa kiccaṁ karoti)
- Bergaul semata-mata demi keuntungan pribadi (sevati atthakāraṇā)
- Vacīparama ("si besar mulut"):[19]
- Berlagak membantu dengan mengungkit masa lalu (atītena paṭisantharati)
- Berlagak membantu dengan mengobral janji di masa depan (anāgatena paṭisantharati)
- Berusaha menarik simpati dengan kata-kata tak bermakna (niratthakena saṅgaṇhāti)
- Beralasan tidak bisa membantu saat dimintai pertolongan di masa sekarang (paccuppannesu kiccesu byasanaṁ dasseti)
- Anuppiyabhāṇī ("si penjilat"):[20]
- Menyetujui ketika kamu berbuat jahat (pāpakampissa anujānāti)
- Menyetujui ketika kamu berbuat baik (kalyāṇampissa anujānāti)
- Memuji langsung di depanmu (sammukhāssa vaṇṇaṁ bhāsati)
- Mencela di belakangmu (parammukhāssa avaṇṇaṁ bhāsati)
- Apāyasahāya ("si pembawa kemerosotan"):[21]
- Menjadi kawanmu saat mabuk-mabukan (surāmerayamajjappamādaṭṭhānānuyoge sahāyo hoti)
- Menjadi kawanmu saat berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak pantas (vikālavisikhācariyānuyoge sahāyo hoti)
- Menjadi kawanmu saat menonton pertunjukan dan hiburan (samajjābhicaraṇe sahāyo hoti)
- Menjadi kawanmu saat kamu tergila-gila pada perjudian (jūtappamādaṭṭhānānuyoge sahāyo hoti)
- Empat jenis teman sejati
Berdasarkan empat alasan untuk setiap jenis teman sejati, orang-orang ini patut dianggap sebagai teman yang berhati tulus. Empat jenis teman sejati tersebut adalah sebagai berikut:
- Upakāra ("si penolong"):[22]
- Menjagamu ketika kamu sedang lengah (pamattaṁ rakkhati)
- Melindungi hartamu ketika kamu sedang lengah (pamattassa sāpateyyaṁ rakkhati)
- Menjadi tempat berlindung saat ada bahaya (bhītassa saraṇaṁ hoti)
- Memberikan bantuan dua kali lipat dari yang diminta saat dibutuhkan (uppannesu kiccakaraṇīyesu taddiguṇaṁ bhogaṁ anuppadeti)
- Samānasukhadukkha ("si setia kawan, teman dalam suka dan duka"):[23]
- Berbagi rahasianya denganmu (guyhamassa ācikkhati)
- Menjaga rahasiamu (guyhamassa parigūhati)
- Tidak meninggalkanmu di saat susah (āpadāsu na vijahati)
- Bahkan rela mengorbankan nyawa demi dirimu (jīvitaṁpissa atthāya pariccattaṁ hoti)
- Atthakkhāyī ("si penasihat baik"):[24]
- Mencegahmu dari perbuatan buruk (pāpā nivāreti)
- Mendorongmu untuk berbuat baik (kalyāṇe niveseti)
- Menyampaikan hal yang belum pernah kamu dengar (assutaṁ sāveti)
- Menunjukkan jalan menuju surga (saggassa maggaṁ ācikkhati)
- Anukampaka ("si simpatisan"):[25]
- Tidak senang atas kegagalanmu (abhavenassa na nandati)
- Ikut senang atas keberhasilanmu (bhavenassa nandati)
- Menahan orang yang mengucapkan celaan tentangmu (avaṇṇaṁ bhaṇamānaṁ nivāreti)
- Memuji orang yang mengucapkan pujian tentangmu (vaṇṇaṁ bhaṇamānaṁ pasaṁsati)
Pengelolaan kekayaan
Sebelum menguraikan kewajiban terhadap enam arah, Buddha juga mengajarkan cara bijak mengelola kekayaan yang telah terhimpun. Kekayaan hendaknya dibagi menjadi empat bagian:
Menjaga tali silaturahmi
Kembali ke topik enam arah, Buddha mendeskripsikan (mendefinisikan ulang) "Pemujaan Enam Arah" sebagai penghormatan terhadap:
- ibu dan ayah sebagai arah timur (puratthimā disā mātāpitaro veditabbā),
- tutor/guru sebagai arah selatan (dakkhiṇā disā ācariyā veditabbā),
- pasangan[note 13] dan anak-anak sebagai arah barat (pacchimā disā puttadārā veditabbā),
- teman dan kolega sebagai arah utara (uttarā disā mittāmaccā veditabbā),
- pelayan dan pekerja sebagai arah zenit/bawah (heṭṭhimā disā dāsakammakarā veditabbā),
- petapa dan brahmana sebagai arah nadir/atas (uparimā disā samaṇabrāhmaṇā veditabbā).
Kemudian, Beliau menguraikan tentang cara-cara menghormati dan mendukung mereka, serta cara-cara keenam pihak tersebut akan membalas kebaikan dan dukungan yang telah diterima. Komitmen perumah tangga dan tindakan timbal balik dari mereka yang dihormatinya, sebagaimana diidentifikasi oleh Buddha, direpresentasikan di bawah ini sesuai dengan empat arah pada bidang horizontal (timur, selatan, barat, dan utara):[6][7][8][9]
| Utara TEMAN & KOLEGA | |
|---|---|
| komitmen | tindakan timbal balik |
• kemurahan hati (dānena) • kata-kata baik (peyyavajjena) • saling membantu (atthacariyāya) • senasib sepenanggungan (samānattatāya) • tidak ada tipu daya (avisaṃvādanatāya) |
• menjagamu saat lengah (pamattaṃ rakkhanti) • melindungi hartamu saat lengah (pamattassa sāpateyyaṃ rakkhanti) • memberimu tempat berlindung (bhītassa saraṇaṃ honti) • tidak meninggalkanmu saat susah (āpadāsu na vijahanti) • menghormati keturunanmu (aparapajā cassa paṭipūjenti) |
| Barat PASANGAN & ANAK-ANAK | |
|---|---|
| komitmen | tindakan timbal balik |
• menghormatinya (sammānanāya) • tidak merendahkannya (anavamānanāya) • setia kepadanya (anaticariyāya) • berbagi wewenang (issariyavossaggena) • memberikan perhiasan (alaṅkārānuppadānena) |
• mengatur kewajibannya dengan baik (susaṃvihitakammantā) • ramah terhadap kerabat (saṅgahitaparijanā) • setia kepadamu (anaticārinī) • menjaga penghasilan (sambhatañca anurakkhati) • terampil dan tidak malas (dakkhā ca analasā) |
| Timur IBU & AYAH | |
|---|---|
| komitmen | tindakan timbal balik |
• menopang mereka (bharissāmi) • memenuhi kewajiban mereka (kiccaṃ nesaṃ karissāmi) • menjaga tradisi keluarga (kulavaṃsaṃ ṭhapessāmi) • memantaskan diri atas warisan (dāyajjaṃ paṭipajjāmi) |
• mencegahmu dari kejahatan (pāpā nivārenti) • mengarahkanmu pada kebaikan (kalyāṇe nivesenti) • mengajarkan keterampilan (sippaṃ sikkhāpenti) • mencarikan jodoh yang sesuai (patirūpena dārena saṃyojenti) • menyerahkan warisan (dāyajjaṃ niyyādenti) |
| Selatan TUTOR/GURU | |
|---|---|
| komitmen | tindakan timbal balik |
• bangkit menyambut mereka (uṭṭhānena) • melayani mereka (upaṭṭhānena) • semangat untuk belajar (sussūsāya) • memberikan pelayanan pribadi (pāricariyāya) • menerima ajaran dengan saksama (sakkaccaṃ sippapaṭiggahaṇena) |
• melatihmu dengan baik (suvinītaṃ vinenti) • memastikan pemahamanmu (suggahītaṃ gāhāpenti) • mengajarkan seluruh ilmu keahliannya (sabbasippassutaṃ samakkhāyino) • memperkenalkan pada teman-temannya (mittāmaccesu paṭiyādenti) • melindungimu di segala penjuru (disāsu parittāṇaṃ karonti) |
| Nadir/Bawah PELAYAN & PEKERJA | |
|---|---|
| komitmen | tindakan timbal balik |
• mempekerjakan sesuai kemampuan (kammantasamvidhānena) • memberikan makanan dan upah (bhattavetanānuppadānena) • merawat saat sakit (gilānupaṭṭhānena) • berbagi hidangan istimewa (acchariyānaṃ rasānaṃ saṃvibhāgena) • memberikan waktu cuti (samaye vossaggena) |
• bangun lebih awal (pubbuṭṭhāyino) • beristirahat setelahnya (pacchā nipātino) • hanya mengambil apa yang diberikan (dinnādāyino) • bekerja dengan baik (sukatakammakarā) • menjaga nama baik majikan (kittivaṇṇaharā) |
| Zenit/Atas PETAPA & BRAHMANA | |
|---|---|
| komitmen | tindakan timbal balik |
• perbuatan jasmani yang penuh kasih (mettena kāyakammena) • ucapan yang penuh kasih (mettena vacīkammena) • pikiran yang penuh kasih (mettena manokammena) • menyambutnya dengan pintu terbuka (anāvaṭadvāratāya) • menyediakan kebutuhan jasmani (āmisānuppadānena) |
• mencegahmu dari kejahatan (pāpā nivārenti) • mengarahkanmu pada kebaikan (kalyāṇe nivesenti) • mengasihimu dengan batin yang baik (kalyāṇena manasā anukampanti) • mengajarkan hal yang belum pernah didengar (assutaṃ sāventi) • memperjelas apa yang pernah didengar (sutaṃ pariyodāpenti) • menunjukkan jalan menuju surga (saggassa maggaṃ ācikkhanti) |
Penutup khotbah
Pada akhir khotbah, setelah mendengarkan seluruh uraian tersebut, pemuda Sigāla, yang sebelumnya merupakan penganut Brahmanisme, menyatakan dirinya sebagai pengikut Buddha.[27]
Komentar kontemporer
Bhikkhu Bodhi telah membandingkan pernyataan tanggung jawab-timbal balik yang diajarkan Sang Buddha[note 14] dengan teori sosial modern, dengan menyatakan:
Praktik 'memuja enam penjuru' ini, sebagaimana dijelaskan oleh Sang Buddha, mengandaikan bahwa masyarakat ditopang oleh jaringan hubungan yang saling terkait, yang menghadirkan keselarasan bagi tatanan sosial ketika para anggotanya memenuhi kewajiban dan tanggung jawab timbal balik mereka dalam semangat kebaikan, simpati, dan niat baik. ... Dengan demikian, bagi Buddhisme Awal, stabilitas dan keamanan sosial yang diperlukan bagi kebahagiaan dan pemenuhan diri manusia dicapai bukan melalui tuntutan 'hak' yang agresif dan berpotensi mengganggu yang diajukan oleh kelompok-kelompok yang bersaing, melainkan melalui pelepasan kepentingan diri dan pengembangan kepedulian yang tulus dan berjiwa besar terhadap kesejahteraan orang lain serta kebaikan khalayak yang lebih luas.[28]
Lihat pula
- Tripitaka Pali
- Suttapiṭaka
- Dīghanikāya
- Tiga Perlindungan
- Lima Sila
- Jalan Mulia Berunsur Delapan
- Persahabatan spiritual
- Perumah tangga (Buddhisme)
Sutta terkait:
- Dhammika Sutta (Snp 2.14)
- Dīghajāṇu Sutta (AN 8.54)
Catatan
- ↑ Terjemahan lengkap bahasa Inggris dari sutta ini termasuk Kelly, Sawyer & Yareham 2005, Narada 1996, dan Walshe 1995, hlm. 461–69. Bodhi 2005, hlm. 116–18 menyediakan kutipan terjemahan bahasa Inggris tanpa menyertakan ajaran Buddha mengenai "empat belas cara buruk" dan tentang teman. Versi Pali yang diromanisasi dari sutta lengkap ini dapat ditemukan di Metta.lk atau dalam versi cetak di D.iii.180ff.
- ↑ Lihat edisi SLTP Sinhala yang tersedia dari "MettaNet" di Metta.lk dan dari "Bodhgaya News" di Bodhgayanews.net.
- ↑ Walshe 1995, hlm. 612 catatan kaki 972 mencatat bahwa judul alternatif ini digunakan oleh Rhys Davids.
- ↑ Julukan ini, "Vinaya-nya Perumah Tangga" (gihi-vinaya) dikaitkan dengan Buddhaghosa dalam Narada 1995. Julukan ini juga disebutkan di Bodhi 2005, hlm. 109, Hinüber 2000, hlm. 31, dan Law 1932–33, hlm. 85, tanpa atribusi secara eksplisit.
- ↑ Bodhi 2005, hlm. 108–09 mempertahankan pandangan bahwa komentar-komentar Pali mengidentifikasi tiga manfaat dari ajaran Buddha: (1) kebahagiaan di kehidupan saat ini; (2) kebahagiaan di kehidupan selanjutnya; dan (3) Nibbāna. Beliau lebih lanjut menulis bahwa para cendekiawan buddhis Barat kerap lebih menekankan manfaat ketiga, padahal ketiga-tiganya diperlukan untuk merepresentasikan ajaran-ajaran Buddha secara berimbang.
- ↑ Untuk gambaran mengenai praktik pemujaan arah mata angin pra-Buddhisme ini, lihat artikel Dikpala.
- ↑ Perhatikan bahwa ini merupakan empat sila pertama dari Pañcasīla. Sila kelima (berpantang dari penggunaan minuman keras, minuman beralkohol, atau zat-zat memabukkan yang menyebabkan kelengahan) disebutkan belakangan dalam sutta ini.
- ↑ Landasan etis untuk menghindari keempat kekotoran ini dijelaskan dalam Veḷudvāreyya Sutta (SN 55.7) melalui metode refleksi timbal balik: seorang siswa mulia merenungkan bahwa apa yang tidak menyenangkan bagi dirinya juga tidak menyenangkan bagi orang lain, sehingga ia tidak akan melakukan hal tersebut kepada orang lain.
- ↑ Segera setelah syair awal yang mengidentifikasi empat kekotoran, empat kekotoran tersebut diulangi dengan "perilaku seksual yang salah" (kāmesu micchācāro) digantikan oleh tindakan buruk yang lebih spesifik, yaitu "berhubungan dengan pasangan orang lain" (pāradāragamanañceva).
- ↑ Istilah Pali yang digunakan dalam naskah asli Sigālovāda Sutta adalah vikālavisikhācariyānuyoga. Kata vikāla secara harfiah berarti "waktu yang tidak tepat" atau "waktu yang salah". Menurut The Pali Text Society's Pali-English Dictionary, dalam konteks kebiasaan umat awam, istilah ini merujuk secara spesifik pada praktik berkeliaran di jalanan ketika sudah malam atau larut malam, yaitu waktu ketika orang-orang pada umumnya sedang beristirahat di rumah.
- ↑ Istilah Pali di sini dari edisi Konsili Keenam Burma (CSCD). Edisi PTS menuliskan kva sebagai kuvaṃ.
- ↑ Perincian lebih lanjut tentang pengelolaan kekayaan ini ditemukan dalam Vyagghapajja Sutta atau Dīghajāṇu Sutta (AN 8.54), yang menggambarkan "kehidupan seimbang" (sama jīvitā) sebagai kondisi ketika pengeluaran tidak melampaui pemasukan.
- ↑ Dalam Tripitaka Pali, "perumah tangga" merujuk pada laki-laki dan oleh karenanya, dalam konteks hubungan pernikahan, sutta ini secara langsung ditujukan kepada para suami. Untuk sutta yang secara langsung ditujukan kepada para istri, lihat AN 8.49 (terjemahan bahasa Inggrisnya dapat ditemukan di Bodhi 2005, hlm. 128–30).
- ↑ Penggambaran Buddha tentang interaksi sosial dalam urutan tanggung jawab-timbal balik ini dalam satu sisi mencerminkan wawasan fenomenologis sentralnya tentang Kemunculan Bergantungan.
Referensi
- 1 2 Bodhi 2005, hlm. 109.
- ↑ Lihat juga edisi CSCD Burma yang tersedia dari "VRI" di Tipitaka.org dan edisi "World Tipitaka" di TipitakaStudies.net.
- ↑ Walshe 1995, hlm. 461.
- ↑ Bodhi 2005, hlm. 109, 118.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 20-22.
- 1 2 3 Kelly, Sawyer & Yareham 2005.
- 1 2 3 Narada 1996.
- 1 2 3 Walshe 1995, hlm. 461–69.
- 1 2 3 Bodhi 2005, hlm. 116–18.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 23–28.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 23.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 24.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 25.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 26.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 27.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 28.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 29–36.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 29.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 30.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 31.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 32.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 33.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 34.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 35.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 36.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 17.
- ↑ Dhammasiri 1995, hlm. 49.
- ↑ Bodhi 2005, hlm. 109–10.
Daftar pustaka
- Bodhi, Bhikkhu (2005). In the Buddha's Words: An Anthology of Discourses from the Pali Canon. Somerville, MA: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-491-1.
- Dhammasiri, K. (1995). The Sigalovada in Pictures (PDF). Taipei: Buddha Dharma Education Association. ISBN 957-655-154-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Hinüber, Oskar von (2000). A Handbook on Pāli Literature. Berlin: de Gruyter. ISBN 3-11-016738-7.
- Kelly, John; Sawyer, Sue; Yareham, Victoria (2005). "DN 31, Sigalovada Sutta: The Buddha's Advice to Sigalaka".
- Law, Bimala Churn (1932–33). "Nirvana and Buddhist Laymen". Annals of the Bhandarkar Oriental Research Institute. 14: 80–86.
- Narada, Thera (1995). "Everyman's Ethics: Four Discourses of the Buddha".
- Narada, Thera (1996). "DN 31, Sigalovada Sutta: The Discourse to Sigala, The Layperson's Code of Discipline".
- Walshe, Maurice (1995). The Long Discourses of the Buddha: A Translation of the Dīgha Nikāya. Somerville, MA: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-103-3.
Bacaan lanjutan
- Sasanaputra, Albert Kumala, S.Ag., M.Pd. (2007). P.My. Giriputra (ed.). Budi Pekerti dan HAM dalam Pendidikan Agama Buddha. SMP Kelas IX (dalam bahasa Indonesia). Mandiri Publication House. hlm. 8–9, 11. ISBN 979-24-1107-0. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha (1991). "Samaggi-phala : Tipitaka : Sigalovadda Sutta". Badan Penerbit Ariya Surya Chandra. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-07-22. Diakses tanggal 2010-06-03.
| Dīghanikāya (DN) |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Majjhimanikāya (MN) |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Saṃyuttanikāya (SN) |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Aṅguttaranikāya (AN) |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Khuddakanikāya (KN) |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
| ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| ||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
|
| ||||||||||||