Penjelasan
Bayangan (shadow) dapat dianggap sebagai titik buta dari psike. Represi terhadap id seseorang, meskipun bersifat maladaptif, mencegah integrasi bayangan, yaitu penyatuan antara id dan ego. Walaupun mereka dianggap berbeda pendapat mengenai teori fungsi represi id dalam peradaban, Sigmund Freud dan Carl Jung bertemu pada titik Platonisme, di mana id akhirnya menolak nomos. Sementara persona sering dikontraskan dengan bayangan.
Jung menganggap bayangan sebagai bagian dari ketidaksadaran, mencakup id dan riwayat hidup, yang ditekan di bawah idea, ego dari superego, atau cara superego menginginkan dirinya menjadi seperti apa. Bayangan diproyeksikan ke lingkungan sosial seseorang sebagai distorsi kognitif. Namun, bayangan juga dapat dianggap sebagai sesuatu yang secara kasar setara dengan keseluruhan ketidaksadaran Freudian, dan Jung sendiri menegaskan bahwa hasil dari metode penjelasan Freudian adalah elaborasi mendalam tentang sisi bayangan manusia yang tidak tertandingi pada zaman sebelumnya.
Berbeda dengan definisi Freudian tentang bayangan, konsep ini dapat mencakup segala sesuatu di luar cahaya kesadaran dan dapat bersifat positif maupun negatif. Karena subjek dapat menekan kesadaran atau menyembunyikan aspek diri yang mengancam dirinya sendiri, terdapat konsensus mengenai gagasan bahwa bayangan adalah fungsi negatif dalam diri, meskipun tingkat represinya gagal melarang aspek-aspek tersebut muncul.
Terdapat aspek positif yang dapat tetap tersembunyi dalam bayangan seseorang—terutama pada orang dengan harga diri rendah, kecemasan, dan keyakinan yang salah—di mana aspek-aspek ini dapat dibawa ke pikiran sadar dan dilatih melalui analisis dan terapi. Hal ini dapat dianggap sebagai identifikasi subjek dengan id yang digantikan pada masa kanak-kanak awal, meskipun juga dapat dipengaruhi oleh masa kanak-kanak awal hingga akhir.
Jung menulis bahwa jika kesadaran akan proyeksi bayangan tetap ditekan, maka faktor pembuat proyeksi (arketipe Bayangan) memiliki keleluasaan dan dapat mewujudkan objeknya—jika ia memilikinya—atau menimbulkan situasi lain yang menjadi ciri khas kekuatannya, memberikan gagasan tersebut kualitas otonom yang dapat berdampak pada id dan ego. Proyeksi-proyeksi ini menyekat dan memperdaya individu dalam masyarakat dengan bertindak sebagai penghalang yang dikerahkan secara simbolis antara ego dan Realitas yang tanpa ego.
Bayangan kolektif
Ketidaksadaran kolektif, sebuah konsep yang menyatakan bahwa seluruh umat manusia berbagi cita-cita bawah sadar yang sama, membentuk identifikasi proyektif dengan ketidakpastian dan perasaan tidak berdaya beserta perasaan negatif lainnya. Proyeksi ini sering kali mengidentifikasi sosok Iblis sebagai aspek "keempat" dari trinitas Pauline-Kristen, yang berfungsi sebagai mitos landasannya.
Gagasan ini dapat dilihat dalam mitologi lain, misalnya, dewa Mesir kuno Set yang mewakili "perasaan yang meluap-luap".
Bayangan kolektif bisa bersifat turun-temurun dan dibawa oleh pengalaman kolektif ras manusia (misalnya dalam penentuan kelompok-dalam dan kelompok-luar: dehumanisasi; contohnya, kejahatan kebencian).