Indonesia
Kompetisi "nasional" pertama kali digelar pada tahun 1981 dengan nama Piala Kartini.[6] Kompetisi tersebut digelar dalam level amatir dan diikuti oleh 4 tim, yaitu Buana Putri (Jakarta), Putri Priangan (Bandung), Putri Pagilaran (Pekalongan), dan Sasana Bakti (Surabaya).[6] Belum ada catatan resmi yang menunjukkan berapa kali turnamen tersebut digelar. Akan tetapi, seminimalnya Piala Kartini telah digelar sebanyak empat edisi dengan edisi terakhir pada tahun 2005.
Kompetisi sepakbola wanita selanjutnya umumnya diselenggarakan dalam level amatir dan semi-profesional dengan jangkauan area lokal. Pada tahun 1982, di bawah kepemimpinan Sjarnoebi Said di PSSI, digelar kompetisi bernama Galanita (Liga Sepakbola Wanita), yang merupakan kompetisi nasional perdana bagi sepakbola wanita Indonesia. Namun, kompetisi ini hanya berlangsung satu kali dan tidak berkelanjutan.[7] Galanita Nasional diikuti oleh sembilan tim – 7 tim dari Pulau Jawa, 1 tim dari Pulau Sulawesi, dan 1 tim dari Pulau Papua – dan terbagi menjadi 3 grup. Satu-satunya edisi Galanita Nasional tersebut dimenangkan oleh Buana Putri asal Jakarta dengan skor 4–0, 3 gol dicetak oleh Paimah Hutabarat dan 1 gol oleh Elan Kaligis. Seluruh pertandingan dimainkan di dua stadion Jakarta, yaitu Stadion Kuningan sebagai stadion utama dan Stadion Pluit.[7][8]
Kejuaraan Nasional Sepak Bola Putri, yang kemudian dikenal sebagai Piala Pertiwi, merupakan kompetisi amatir penerus Piala Kartini. Kompetisi ini tercatat sebagai turnamen pertama yang berhasil mengumpulkan kontestan dari seluruh Indonesia dan digelar secara konsisten sejak tahun 2006. Sementara itu, liga profesional pertama kali diselenggarakan pada tahun 2019 di bawah kepemimpinan Edy Rahmayadi sebagai Ketua PSSI dan Ratu Tisha sebagai Sekretaris Jenderal, dengan nama resmi Liga 1 Putri.[9] Liga profesional tersebut baru dipentaskan sekali saja, yaitu pada musim 2019. Di musim-musim selanjutnya, inkonsistensi federasi atas liga ini sering mengakibatkan liga tidak jadi digelar meskipun wacana-wacana memulai musim sering terdengar.
Pada 7 Desember 2017, dibentuk asosiasi khusus untuk menangani sepak bola putri di Indonesia dengan nama Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI). Ketua pertama asosiasi ini adalah Papat Yunisal, seorang mantan pemain tim nasional sepak bola wanita Indonesia yang aktif pada tahun 80-an.[10]