Seni lingkungan adalah bentuk praktik seni yang berkaitan dengan alam dan melibatkan pendekatan historis maupun karya kontemporer dengan fokus ekologi sosial.[1] Perkembangannya menunjukkan pergeseran dari perhatian pada bentuk artistik formal, misalnya penggunaan tanah sebagai bahan karya berskala besar, menuju keterlibatan dengan sistem, proses, dan fenomena yang berkaitan dengan isu masyarakat dan lingkungan.[2] Pada tahun 1990-an muncul pendekatan yang menggabungkan aspek sosial dan ekologis secara lebih langsung, termasuk perhatian terhadap etika dan pemulihan lingkungan.[3][4][5] Seni lingkungan kemudian menjadi tema dalam berbagai pameran internasional seiring meningkatnya perhatian terhadap dampak sosial dan budaya dari perubahan iklim. Istilah ini sering dikaitkan dengan isu ekologis, meskipun cakupannya lebih luas dan menekankan hubungan seniman dengan alam melalui penggunaan material alami.[6]
Sejarah
Akar seni lingkungan dapat ditelusuri hingga lukisan gua periode Paleolitikum yang menggambarkan unsur-unsur alam penting bagi manusia awal seperti hewan dan figur manusia. Walaupun lukisan lanskap belum ditemukan pada masa tersebut, karya-karya itu menunjukkan pengamatan awal terhadap alam.[7] Dalam perkembangan berikutnya, tradisi seni lanskap berperan dalam membentuk dasar seni lingkungan modern. Lukisan yang dibuat langsung di lokasi membantu seniman mengamati lingkungan secara dekat, termasuk kondisi cuaca dan perubahan cahaya. Hal ini tampak pada lukisan langit karya John Constable serta seri Houses of Parliament oleh Claude Monet yang memperlihatkan perhatian terhadap suasana dan cahaya.[8][9] Pada era kontemporer, seniman seperti Diane Burko menggambarkan fenomena alam dan perubahan jangka panjangnya untuk menyoroti isu lingkungan.[10][11]Alexis Rockman menampilkan lanskap yang menunjukkan hubungan manusia dengan makhluk hidup lain melalui teknologi, termasuk rekayasa genetika.[12]
Perkembangan Modern
Seni lingkungan berkembang sebagai gerakan pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Pada tahap awal, praktiknya banyak berkaitan dengan seni patung, terutama karya seni tempat, seni tanah, dan Arte povera. Gerakan ini muncul sebagai tanggapan terhadap kritik terhadap bentuk patung tradisional yang dianggap kurang sesuai dengan konteks lingkungan alam. Pada Oktober 1968 Robert Smithson menyelenggarakan pameran berjudul Earthworks di Dwan Gallery di New York. Banyak karya dalam pameran tersebut berukuran besar atau memiliki bentuk yang tidak mudah dipindahkan, sehingga sebagian karya ditampilkan melalui dokumentasi foto. Para seniman yang terlibat dalam gerakan ini bekerja langsung di lingkungan luar ruang sebagai bagian dari praktik artistik mereka di luar ruang galeri. Karya-karya tersebut dibuat dengan memanfaatkan lanskap sebagai lokasi dan elemen fisik dalam proses penciptaannya. Perubahan ini menandai perluasan dalam metode produksi, pendokumentasian, dan definisi karya seni, serta menambah variasi pendekatan dalam melihat keterhubungan antara seni dan lingkungan.[13][14][15]