Pembentukan Desa Seliling merupakan peleburan dua desa yang kini menjadi Pedukuhan yaitu Kragapitan dan Jiwanalan, saat itu masing-masing desa tersebut dipimpin oleh Lurah San Pawira di Kragapitan dan Lurah Dana Wijaya di Jiwanalan. Kedua pemimpin desa tersebut mempunyai gagasan mendatangkan ulama untuk mengajar ilmu agama. Ada beberapa alasan mengapa kedua desa tersebut melebur menjadi satu yang pertama adalah kedua desa tersebut hanya mempunyai satu ulama kemudian yang kedua karena serangan kolonial belanda.
Asal-usul desa seliling yaitu pada zaman Belanda ada seorang pelarian dari mataram, setelah melakukan perjalanan yang panjang sampailah disuatu tempat karena capek (kesel) kemudian beristirahat sambil mengingat (ngeling-eling) tempat-tempat yang disinggahi, dari kosakata jawa inilah kemudian desa tersebut dinamakan desa Seliling, hari, tanggal dan tahun tidak diketahui. Desa seliling mengalami 9 kali pergantian kepala desa antara lain:
Bapak. Dana Wijaya
Bapak. Atma
Bapak. Ahmad Khaeroji
Bapak. Suheri, BA
Bapak. Sutoyo, S.sos
Bapak. Pardikun
Bapak. Mohamad Anas (2007-2013)
Bapak. Endo Yuga Raharja (2013-2019)
Bapak Mohamad Anas (2019-2025)
Geografi
Desa Seliling sebagian besar merupakan dataran rendah. Sedikit dataran tinggi berada di sebalah timur dan disebalah barat laut yakni di Dusun Dukuh yang berada di kaki Bukit Pagergeong atau dikenal warga setempat dengan Perbukitan Blawong dengan ketinggian wilayah Desa Seliling antara 30-120 meter di atas permukaan air laut Mdpl. Desa Seliling dibelah oleh sungai terbesar di Kecamatan Alian yaitu Sungai Kedungbener beserta anak sungainya seperti Sungai Dukuh di Dusun Dukuh, Sungai Kragapitan di Dusun Kragapitan dan Sungai Era di Dusun Pegandulan. Desa Seliling juga dilintasi saluran nduk irigasi Waduk Wadaslintang.
Penggunaan Lahan
Penggunaan luas lahan wilayah desa Seliling dapat dilihat dalam tabel berikut:
No
Keterangan
luas
1
Pemukiman
150 Ha
2
Sawah
27 Ha
3
Tegalan
32 Ha
4
Perikanan
-
5
Tanah bengkok
32 Ha
Demografi
Jumlah Penduduk Desa Seliling Kecamatan Alian jika ditotalkan ada sekitar 5.887 jiwa. Untuk lebih lengkap terkait data tersebut, berikut ini merupakan data lengkap dari keseluruhan jumlah penduduk Desa Seliling. Data berikut sewaktu-waktu bisa berubah
berdasarkan sensus dan statik pertumbuhan dan pengurangan penduduk Desa Seliling akibat adanya Jumlah Kelahiran, Jumlah orang Meningggal, Jumlah Pidah Kependudukan, dll:
Tabel Jumlah TOTAL penduduk Desa Seliling
No
Keterangan
Jumlah
1
Laki-laki
2895 orang
2
Perempuan
2992 0rang
Total penduduk
5887 orang
Jumlah kepala keluarga
1269
Tabel Jumlah penduduk Desa Seliling berdasarkan mata pencaharian
No
Mata pencaharian
Jumlah
1
Petani
696 orang
2
Buruh tani
165 orang
3
Buruh bangunan
150 orang
4
PNS/TNI/POLRI
51 orang
5
Pedagang
300 orang
6
Lain-lain
-
Tabel Jumlah penduduk Desa Seliling berdasarkan usia
No
Usia
Jumlah
1
Usia 0 – 14 tahun
2772 jiwa
2
Usia 15 – 49 tahun
1337 jiwa
3
Usia > 50 tahun
1778 jiwa
Tabel Penduduk Desa Seliling berdasarkan tingkat pendidikan
No
Tingkat pendidikan
Jumlah
1
Anak putus sekolah
86 0rang
2
Anak tidak sekolah
821 orang
3
Tidak tamat SD
1444 orang
4
Tamat SD / sederajat
1501 orang
5
Tamat SLTP / sederajat
1472 orang
6
Tamat SLTA / sederajat
490 orang
7
Diploma
50 orang
8
Strata
23 orang
Penduduk
Sebagian besar penduduk Desa Seliling berprofesi sebagai petani, buruh tani, pedagang, Ibu Rumah Tangga, Wiraswasta dan PNS. Umumnya penduduk usia produktif pergi merantau atau bersekolah ke kota besar seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabotabek), Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surabaya, Kota Yogyakarta, Kota Surakarta, Purwokerto dan sejumlah kota besar di luar pulau seperti Sumatra, Bali, dan Kalimantan. Mayoritas penduduk Desa Seliling memeluk agama Islam tetapi juga terdapat agama lainnya seperti Kristen dan Budha. Jenjang pendidikan yang dicapai penduduk di wilayah ini adalah hingga Universitas meski sebagiaan besar tamatan Sekolah dasar dan Sekolah menengah pertama. Bahasa yang diucapkan oleh penduduk Desa Seliling umumnya menggunakan bahasa Jawa dengan logak/dialek Dialek Banyumasan atau Ngapak.
Potensi Desa
1. Batik Seliling
Batik Seliling merupakan salah satu koleksi batik khas Kabupaten Kebumen. Sentra pembuatan Batik Seliling berada di Dukuh Beji. Di tempat tersebut mempunyai jenis batik kontemporer dan klasik. Motif batiknya antara lain Kembang Kantilan dengan latar kancingan, Jagatan Kebumen, Bang-bangan, Sirkit, Gringsing, Burung lawet dan lainnya. Sama seperti batik Kebumen pada umumnya, Batik Seliling merupakan bawaan model dari kerajaan di Solo dan Yogyakarta. Umumnya pembatik sejak dahulu memang hanya membatik secara tradisional dan umumnya untuk jarit atau sinjang sebagai busana pelengkap kebaya.[1]
2. Wisata Alam Kedungdawa
Wisata ini berada di Dusun Dukuh. Objek Wisata Alam Kedungdawa ini sempat populer pada era 1990-an kemudian redup puluhan tahun hingga pada awal 2015 mulai dikunjungi wisatawan kembali.[2] Wisata Alam Kedungdawa merupakan sungai kecil di tengah hutan dan di lereng bukit yang memilki keunikan tersendiri. Ya, Selain karena masih begitu alami dan di kelilingi hutan, terdapat keunikan akan adanya lubang-lubang bebatuan. Dimana setiap lubang batu memiliki kedalaman yang berbeda-beda. Kedalaman di setiap lubang batu tersebut ada yang mencapai kedalaman 3 meter. Bahkan dahulunya ada sebuah lubang batu dengan kedalaman hingga 5 meter lebih, itupun karena lubang-lubang batu tersebut sudah tertimbun bebatuan dan sedimentasi. Wisata Alam Kedungdawa memiliki banyak air terjun atau curug ‘mini’ yang menghiasi sepanjang sungai. Air terjun yang tidak terlalu tinggi itu mengucur deras jika musim penghujan tiba dan akan kering jika musim kemarau. Salah satu air terjun memiliki empat undakan dengan tinggi sekira 10 meter.[3]